Komunitas Serbuk Pensil di Kabupaten Batang menggelar pameran Land Art 3 bertajuk “Sisa Sisi Kota” menjelang akhir 2025. Pameran ini menjadi ruang ekspresi para perupa yang menangkap kegelisahan atas perubahan kampung halaman mereka yang dinilai tengah bertransformasi menjadi kota industri, lalu dituangkan ke dalam karya di atas kanvas.
Pameran menghadirkan 21 perupa asal Batang, di antaranya Sigit Purnomo, Daniel, hingga Nico Aryo Pradita dari kalangan generasi Z. Karya-karya mereka menampilkan lanskap kota yang mengalami banyak perubahan akibat campur tangan manusia. Pameran dapat dikunjungi secara gratis pada 27–31 Desember 2025 di Sekretariat Dewan Kesenian Daerah (DKD) Batang, Desa Pasekaran.
Ketua panitia Land Art 3, Bayhaqi Januar, mengatakan pameran tersebut tidak semata ditujukan sebagai hiburan akhir tahun. Menurutnya, Serbuk Pensil yang bernaung di bawah Dewan Kesenian ingin menunjukkan sisi lain Batang yang kini menjadi identitas kaum urban dan perlahan mengalami perubahan.
“Tema yang diangkat sangat beragam, mulai dari perupa yang melihat kota lewat sudut-sudutnya, kegelisahan di kota itu sendiri, bahkan ada pula dari tradisinya. Para perupa memandang kota itu sebuah identitas urban yang menimbulkan kegelisahan tersendiri, lalu mereka ceritakan dalam lukisan ‘Sisa Sisi Kota’,” kata Bayhaqi saat ditemui di Sekretariat DKD, Senin (29/12/2025) malam.
Bayhaqi juga menyebut panitia membuka peluang bagi pengunjung yang ingin memberi perhatian lebih pada karya yang dipamerkan. Ia mengatakan pihaknya siap membantu menghubungkan peminat dengan perupa terkait.
Salah satu pengunjung, Mumut, mengaku terkesan dengan kualitas pameran tersebut. Ia menilai karya para perupa asal Batang hampir menyamai pameran di kota-kota besar, terlebih karena pameran ini dapat dinikmati tanpa biaya masuk.
Sementara itu, perupa asal Batang Syaiful Bahri menyatakan keikutsertaannya didorong keinginan untuk lebih mengenalkan seni rupa kepada khalayak. Ia menilai karya perupa lokal masih belum memperoleh apresiasi yang sepadan. Dalam pameran ini, ia menampilkan lukisan berjudul “Time Bomb” yang menggambarkan kondisi Indonesia saat ini.
“Lukisan saya berjudul ‘Time Bomb’, yang menggambarkan kondisi Indonesia saat ini, yang sebetulnya kaya raya. Tapi kalau dikeruk terus, seperti memakan perutnya sendiri, lambat laun akan habis dan bisa jadi negara miskin,” ujarnya.
Ketua DKD Batang, Achmad Suroso, mengapresiasi penyelenggaraan pameran yang disebutnya sebagai kali ketiga oleh para perupa Batang yang tergabung dalam Komite Seni Rupa. Ia menilai keragaman tema yang ditampilkan menunjukkan peningkatan kualitas, terutama dari perupa muda.
Menurut Achmad, sebagian besar perupa yang terlibat memiliki latar belakang pendidikan seni rupa dari Yogyakarta dan Solo, sehingga referensi berkesenian mereka banyak mengacu pada kota-kota besar. Ia menilai hal itu menjadi kebanggaan karena mayoritas karya yang dipamerkan merupakan rangkuman pengalaman para perupa yang sebelumnya juga pernah menggelar pameran di kota-kota besar.

