PEKANBARU — Ketua Umum DPP Relawan Gabungan Rakyat Prabowo Gibran (GARAPAN), Larshen Yunus, menyebut sosok pemimpin merakyat memiliki ciri yang dapat dikenali. Namun, ia menilai kemajuan masyarakat tidak cukup hanya bertumpu pada citra atau kategori “merakyat”, melainkan membutuhkan langkah konkret.
Menurut Larshen, untuk memajukan taraf hidup masyarakat Riau diperlukan dua hal. Pertama, perubahan pola pikir (mindset) masyarakat di wilayah kepemimpinan. Kedua, percepatan kinerja pusat-pusat keunggulan yang berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ia mengatakan, perubahan mindset diperlukan agar masyarakat bergerak dari pola pikir yang ia sebut irasional menuju cara berpikir yang lebih rasional, objektif, meritokratis, serta berbasis sistem tata kelola pemerintahan yang baik. Dalam konteks itu, Larshen menyebut Pelaksana Tugas Gubernur Riau, SF Hariyanto, dinilai siap berada dalam sistem seperti tersebut. Ia juga menilai, jika sistem yang berjalan justru diwarnai konflik, maka masyarakat “tidak pernah naik kelas”.
Larshen menilai SF Hariyanto dikenal sebagai pemimpin merakyat di Riau. Ia mencontohkan, kedekatan pemimpin dengan rakyat menjadi hal yang paling diingat masyarakat. Menurutnya, SF Hariyanto kerap turun langsung ke masyarakat untuk menyerap aspirasi, dengan agenda blusukan yang dikemas sederhana.
Dalam penilaiannya, saat blusukan yang menjadi utama adalah mendengar aspirasi dan membangun kebersamaan. Karena itu, Larshen menyebut SF Hariyanto tidak mempersoalkan jika kedatangannya tidak dikonsep secara meriah. Ia juga menyebut SF Hariyanto kerap tidak mengumumkan kedatangan ketika ingin bertemu warga, agar masyarakat tidak terbebani menyiapkan berbagai bentuk penyambutan.
Larshen mengatakan blusukan tanpa pemberitahuan dinilainya lebih baik karena spontan dan dapat membangun kebersamaan. Meski tanpa pengumuman, ia menyebut setiap titik kunjungan tetap menarik perhatian warga sekitar yang kemudian datang untuk berdialog, menyampaikan keluhan dan aspirasi, bahkan bercanda.
Namun Larshen juga mengkritik pola pikir masyarakat yang menurutnya mudah goyah dan mudah termakan isu-isu artifisial, lalu berpindah ke isu lain tanpa menyelesaikan persoalan substantif. Ia mencontohkan adanya kecenderungan mengekspor gagasan dari luar daerah, sementara masalah mendasar di daerah sendiri masih banyak belum tuntas.
Selain itu, Larshen menilai sebagian masyarakat mudah terkecoh oleh sosok yang dikategorikan sebagai pemimpin merakyat melalui retorika dan pembentukan narasi, meski rekam jejaknya tidak memadai. Di era media sosial, ia menyoroti fenomena tokoh yang sekadar tampil di ruang publik—misalnya hanya lewat di pasar—lalu dicitrakan merakyat tanpa benar-benar memberdayakan masyarakat yang ditemui.
Menurutnya, pemimpin merakyat seharusnya mampu mengubah nasib rakyat secara signifikan sehingga lebih sejahtera. Ia menyatakan keyakinannya bahwa SF Hariyanto tidak sekadar membangun citra, melainkan memiliki daya saing untuk mendorong masyarakat “naik kelas” dan mempromosikan gagasan yang bermanfaat.
Larshen juga mendefinisikan pemimpin merakyat sebagai sosok yang memiliki kepedulian tinggi, peka terhadap keluhan masyarakat, dan turun langsung ke lapangan untuk memastikan kebijakan benar-benar menjawab kebutuhan warga. Ia menilai SF Hariyanto menempatkan pelayanan publik sebagai prioritas, memiliki empati, serta lebih sering hadir langsung di tengah masyarakat untuk melihat kondisi riil dan menampung aspirasi.