BERITA TERKINI
Latihan Teater ‘Akting di Hadapan Tuhan’ di Tasikmalaya: Post-Dramatic, Menolak Peran, dan Mengusik Negara serta Warga

Latihan Teater ‘Akting di Hadapan Tuhan’ di Tasikmalaya: Post-Dramatic, Menolak Peran, dan Mengusik Negara serta Warga

Studio Ngaos Art di Tasikmalaya, pada Sabtu malam, 17 Januari 2026, menjadi ruang latihan yang sengaja tidak dibuat nyaman. Ruang sempit, sebagian gelap, dan jarak penonton yang terlalu dekat dibiarkan apa adanya, tanpa upaya menjadikannya panggung yang bersih atau representatif. Dari ruang itu, kelompok Ngaos Art menyiapkan pementasan Akting di Hadapan Tuhan, sebuah kerja kolektif yang tidak hanya menyindir pemerintahan, tetapi juga menyorot warga yang dianggap patuh memainkan perannya sendiri.

Pertunjukan ini digarap dengan pendekatan post-dramatic: menolak alur cerita linear dan karakter psikologis yang utuh. Tidak ada tokoh utama dalam pengertian konvensional. Yang tampil adalah tubuh-tubuh aktor yang terus berubah fungsi—kadang menjadi murid, warga, aparat, penonton, dan sesekali hadir sebagai manusia tanpa peran.

Salah satu aktor, Kido Ikhsan Fauzi, S.Fil., menyebut proses latihan sebagai pengalaman yang tidak menyediakan tempat aman bagi aktor. “Saya tidak sedang bermain peran,” katanya saat latihan. “Saya sedang dipakai situasi. Kalau penonton tidak nyaman, itu bukan efek samping. Itu justru kerja pertunjukannya.”

Selain Kido, pertunjukan melibatkan Rika Jo Sergeyev, S.Psi., Vientan Lingkar, R. Mustika, S.E., Aulia Akhsan (Kribo), Zikri Alfa, dan Irfan Hazmi, S.Pd. Mereka tidak disusun sebagai ansambel yang rapi, melainkan sebagai fragmen-fragmen tubuh yang terus dibentuk dan dibongkar. Batas masuk-keluar panggung dibuat tidak selalu jelas. Adegan kerap terputus oleh layar, cahaya, atau suara yang datang tiba-tiba.

Rika Jo menggambarkan latihan sebagai pengalaman yang paradoks. “Ini seperti akting yang tidak akting,” ujarnya. Menurutnya, pendekatan tersebut bukan anti-teater, melainkan menempatkan teater sebagai ruang kehadiran ketika panggung berhenti menjadi tempat menyamar. Ia menyebut, justru di titik itu “akting paling sulit untuk dilakukan.”

Pimpinan produksi, Ama Dodoy, menjelaskan metode kerja aktor sengaja diarahkan pada kondisi batin yang rapuh. Aktor tidak diminta membangun karakter, melainkan kehilangan pegangan. Vientan Lingkar menambahkan bahwa ketidakamanan muncul bukan karena takut salah teknik, melainkan karena tidak punya tempat bersembunyi. “Tidak ada karakter. Tidak ada alasan. Tidak ada ‘ini kan peran’,” katanya. Dalam kondisi itu, tubuh menjadi pusat peristiwa: napas terdengar jelas, diam terbaca, dan gerak sekecil apa pun bermakna karena tidak ditopang psikologi karakter. “Kalau aktor pura-pura,” lanjutnya, “panggung akan mengkhianatinya.”

Keraguan tidak ditutup, melainkan dibiarkan hidup. Dorongan untuk tampil lucu, aman, atau disukai muncul dan kemudian disadari sebagai hambatan adegan. Tarik-menarik antara keinginan untuk tampil dan keinginan untuk bersembunyi disebut menjadi kerja utama aktor. R. Mustika yang biasa dipanggil Ikok mengaku kadang muncul rasa bersalah, bukan karena naskah, melainkan karena kesadaran bahwa tubuh kerap “dijual” untuk sistem yang sebenarnya tidak dipercaya.

Secara tema, pementasan ini tidak hanya menyasar negara sebagai entitas abstrak. Kritik diarahkan pada mekanisme pendidikan yang dianggap menjinakkan pertanyaan, program sosial yang dinilai lebih sibuk pada laporan daripada manusia, serta warga yang menerima semuanya dengan tawa. Dalam beberapa adegan, penonton akan diajak aktif dan kemudian dibuat merasa bersalah. Humor dihadirkan bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai jebakan. Pada adegan penutup, Kribo mengucapkan, “Lucu. Tolol. Sakit. Kita tertawa. Tuhan diam.”

Sindiran terhadap pemerintahan ditampilkan berdampingan dengan sindiran terhadap rakyatnya. Negara digambarkan sebagai sistem yang alergi pada kesadaran, sementara rakyat diposisikan sebagai tubuh-tubuh yang rela patuh demi kenyamanan jangka pendek. Irfan Hazmi melontarkan kalimat, “Kita sebentar lagi mati. Datang. Atau tidak.”

Dari sisi artistik, Are Pekasih memilih tidak “mempercantik” ruang. Properti sehari-hari seperti lemari, kursi, dan layar dibiarkan tampil kasar dan fungsional. Proyeksi visual dikendalikan oleh Muchamad Faizal Ramadan (Papah Jomblo). Layar diposisikan sebagai ruang propaganda sekaligus tempat pelarian, menampilkan gambar banjir, anak-anak, grafik, serta tulisan kekanak-kanakan yang muncul bergantian.

Musik garapan Alfin tidak digunakan sebagai ilustrasi emosi. Bunyi hadir terputus dan kerap tidak sinkron dengan adegan. Musik ditempatkan sebagai gangguan, bukan pengantar rasa. “Saya tidak ingin musik membantu penonton merasa,” kata Alfin. “Saya ingin ia mengganggu.”

Tata cahaya oleh Iki Tusca mempertegas pendekatan tersebut. Lampu kerap memotong tubuh aktor, menyisakan sebagian ruang dalam gelap. Cahaya tidak diarahkan untuk menjelaskan atau memandu menuju klimaks, melainkan menyingkap lalu membiarkan.

Secara konseptual, pementasan ini merujuk pada pemikiran Hans-Thies Lehmann tentang teater post-dramatic. Teater tidak lagi bertumpu pada struktur drama klasik—cerita, konflik, karakter, resolusi—melainkan pada peristiwa kehadiran. Teks diperlakukan sebagai material, bukan otoritas: bisa dipotong, dikalahkan oleh visual, atau ditenggelamkan dalam keheningan. Makna tidak ditransmisikan satu arah, melainkan muncul dari gesekan tubuh, ruang, cahaya, suara, dan waktu.

Relasi dengan penonton juga diubah. Penonton tidak diposisikan sebagai pengamat pasif, melainkan bagian dari sistem yang sedang dipertontonkan. Ketidaknyamanan, kebingungan, dan tawa mendadak tidak dipandang sebagai kegagalan komunikasi, melainkan strategi estetika. Nizar, yang disebut sebagai stage mabager, menyatakan, “Kejujuran itu tidak menenangkan. Ia hanya membersihkan.”

Pertunjukan dirancang berakhir tanpa penutup yang meyakinkan: tanpa kesimpulan dan tanpa pesan eksplisit. Para aktor turun panggung membawa sisa gangguan kecil dan pertanyaan tanpa jawaban, demikian pula penonton. Zikri Alfa mengatakan, “Kalau aktor keluar panggung merasa benar, merasa pintar, merasa menang itu tanda ia masih berakting. Yang benar, ia pulang sedikit lebih sunyi.”

Di titik itulah, pementasan ini disebut bekerja: tidak menawarkan solusi, tidak meminta persetujuan, dan tidak mengajak berdamai. Ia meninggalkan sesuatu yang mengganggu—di antara tawa dan rasa bersalah, di antara patuh dan sadar, di antara hadir dan pura-pura.