BERITA TERKINI
Le Trang, Seniman Generasi 1980-an yang Membawa Warisan Vietnam ke Panggung Internasional

Le Trang, Seniman Generasi 1980-an yang Membawa Warisan Vietnam ke Panggung Internasional

Seniman perempuan Le Trang, yang lahir pada era 1980-an, mencuri perhatian lewat karya-karya yang mengusung warisan budaya Vietnam ke ranah internasional. Sejak musim gugur 2024, ia mendapat kehormatan diundang ke sejumlah pameran internasional bergengsi di Inggris, Italia, dan Prancis sebagai seniman muda kontemporer Vietnam.

Rangkaian undangan tersebut mendorong Le Trang memperkenalkan karyanya lebih luas kepada publik di dalam negeri melalui pameran tunggal “Trang and Paintings” di Kota Ho Chi Minh pada akhir 2024. Setelah itu, ia menggelar pameran “Dream Amidst the Afternoon Flowers” yang saat ini berlangsung di Hanoi, bertempat di Museum Seni Rupa Vietnam.

Di sela pameran “Dream Amidst the Afternoon Flowers”, Le Trang menuturkan perjalanan dirinya menuju dunia lukis berlangsung secara alami dan nyaris kebetulan. Ia menggambarkan kesehariannya sebagai perempuan dengan banyak peran—ibu dari tiga anak, istri, menantu dalam keluarga besar, sekaligus pengusaha—yang dipenuhi tugas domestik dan pekerjaan yang kerap tak terlihat.

“Dulu saya berpikir hanya itu yang menjadi tujuan hidup saya. Tetapi jauh di lubuk hati, ada suara lain, sangat kecil, sangat lembut, tetapi tidak pernah hilang. Itu adalah panggilan seni,” ujarnya. Ia menambahkan, proses kreatifnya berbeda-beda: ada karya yang lahir cepat, namun ada pula yang memerlukan berbulan-bulan dan tetap ia revisi bahkan setelah dibingkai.

Setelah tiga tahun menekuni lukis, tonggak penting yang menguatkan keyakinannya adalah ketika karya-karyanya terpilih untuk berpartisipasi dalam pameran di Saatchi Art Museum pada September 2024. Pencapaian itu disusul keikutsertaan dalam pameran internasional lain di Florence dan Paris pada akhir 2024.

Bagi Le Trang, pengalaman memamerkan karya di museum seni ternama, mengikuti forum seni—khususnya forum lukisan bersama seniman dari berbagai negara—serta menerima pengakuan internasional menjadi momen yang tak terlupakan. Ia menyebut pengalaman tersebut memberi dorongan untuk melangkah lebih yakin di jalur yang dipilihnya. Di saat yang sama, ia berupaya menggunakan lukisan untuk menghormati dan menyebarkan keindahan unik masyarakat serta bangsa Vietnam kepada publik internasional, sebagai salah satu suara Vietnam dalam seni kontemporer.

Le Trang menilai, alasan para kurator memilih karyanya untuk pameran besar di Eropa mungkin terkait dengan “suara feminis yang tersembunyi di balik pesona Asia Timur yang lembut.” Menurutnya, perempuan Vietnam tidak harus “sekeras baja” untuk mengekspresikan pemberdayaan. Dalam lukisannya, kekuatan perempuan hadir melalui kelembutan, lewat gaun ao dai yang mengalir dan “cahaya jiwa Vietnam.”

Ia juga menyinggung makna warna ungu yang kerap hadir dalam karyanya. Ungu disebutnya bukan hanya warna khas Hue—tempat ia lahir dan dibesarkan—melainkan juga percampuran merah dan biru yang melambangkan kekuatan dan kelembutan, ketegasan sekaligus kelembutan.

Selain itu, ia melihat ao dai Vietnam sebagai simbol dengan “kekuatan tak terbatas” yang kerap meninggalkan kesan mendalam bagi teman-teman internasional, sekaligus penanda ibu kota kuno Hue. “Membawa keindahan Hue ke dalam lukisan, dari nuansa ungu khasnya hingga warisan berwujud dan tak berwujudnya yang unik, bukan hanya ungkapan rasa syukur pribadi saya kepada akar saya tercinta tetapi juga aspirasi saya untuk berkontribusi dalam ‘mengabadikan’ karakter indah dari tanah bersejarah… melalui lukisan,” kata Le Trang.

Dalam dunia kreatifnya, “warisan” tidak semata arsitektur atau pakaian tradisional, melainkan juga nilai-nilai spiritual seperti rumah, keluarga, serta relasi manusia dengan alam. Seri lukisan tentang burung, perempuan, dan ruang hidup yang damai berpusat pada satu dorongan emosional: keinginan melestarikan nilai-nilai keluarga yang abadi di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.

Pada pembukaan pameran “Dream Amidst the Afternoon Flowers” di Hanoi, Profesor Madya Dr. Nguyen The Ky—Wakil Ketua Dewan Teoretikus Pusat dan Kepala Komite Kritik Sastra dan Seni—mengatakan kesan pertamanya saat memasuki ruang pameran adalah kedekatan, kehangatan, dan kenyamanan. Ia menilai karya Le Trang mencerminkan negara dan rakyat Vietnam, dengan sorotan pada citra perempuan Vietnam yang lembut, bersemangat, berjiwa dalam, dan memiliki karakter khas Vietnam.

Di kesempatan pembukaan, Le Trang juga menandatangani buku-buku seni untuk para pengunjung. Sementara itu, pengamatan atas karya-karyanya menunjukkan jalinan manusia dan alam, dengan tumbuhan dan bunga tampil sebagai bagian dari kehidupan spiritual. Identitas inilah yang, ketika karya dipresentasikan kepada dunia, membantu menghadirkan fondasi budaya Vietnam—mulai dari citra Hue dan Kota Kekaisaran, kehidupan manusia, ao dai tradisional, hingga sosok perempuan muda yang anggun.

Salah satu rangkaian yang disebut mengesankan adalah seri lukisan burung. Dalam seri ini, “tidak peduli postur tubuhnya, tatapan mereka selalu tertuju pada sarangnya,” yang dimaknai sebagai simbol kerinduan pada rumah, hubungan, dan kedamaian dalam kehidupan spiritual masyarakat Vietnam.

Dari perspektif profesional, kritikus seni Mai Thi Ngoc Oanh—Wakil Ketua Tetap Asosiasi Seni Rupa Vietnam—mengapresiasi kegigihan dan sentuhan personal Le Trang. Ia menilai lukisan-lukisan tersebut kaya emosi serta menghadirkan rasa damai, lembut, dan feminin. Oanh juga menyoroti bahwa Le Trang, sebagai seniman muda tanpa pelatihan profesional, mampu memamerkan karya di negara-negara Eropa dan turut memperkenalkan warisan Vietnam ke dunia—pencapaian yang disebutnya tidak mudah diraih.