Hipertensi atau tekanan darah tinggi kerap disebut sebagai “silent killer” karena banyak penderitanya tidak menyadari kondisi tersebut. Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia, Dr. dr. Yudha Taruna, SpS, mengatakan lebih dari 60% pasien tidak sadar mereka menderita hipertensi dan lebih dari 80% di antaranya tidak melakukan kontrol.
Pernyataan itu disampaikan Yudha di sela acara 10th Scientific Meeting of Indonesian Society of Hypertension di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta, Jumat (12/2). Ia menjelaskan, banyak orang baru mengetahui dirinya mengalami hipertensi setelah terserang penyakit lain. Menurutnya, hipertensi bukan sekadar angka tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat mengganggu kinerja organ lain seperti otak, jantung, hingga mata.
Terkait penyebab, Yudha menyebut faktor keturunan menjadi salah satu pemicu. Sejumlah penelitian menunjukkan 30% hingga 60% kasus hipertensi diturunkan secara genetis. Selain itu, gaya hidup tidak sehat juga berperan, antara lain pola makan yang tidak teratur, obesitas, serta kebiasaan merokok.
Untuk mengatasinya, Yudha menekankan perubahan gaya hidup sebagai kunci utama. Ia juga mengingatkan kelompok usia 30-an agar menyadari risiko hipertensi. Bagi orang yang sudah didiagnosis hipertensi, ia menegaskan pentingnya rutin mengonsumsi obat antihipertensi.
Di sisi lain, Yudha menyoroti mitos terkait konsumsi garam. Ia menyebut anggapan bahwa seseorang harus menghindari garam sama sekali agar terhindar dari hipertensi tidak tepat. Garam tetap dibutuhkan tubuh, dan kekurangan garam justru dapat menyebabkan kehilangan kesadaran.
Selain menjaga pola hidup sehat melalui olahraga, mengurangi merokok, serta tidak mengonsumsi minuman beralkohol, masyarakat juga diimbau rutin memeriksakan kesehatan ke dokter. Pemeriksaan dan kontrol berkala dinilai penting, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko hipertensi.

