Menjadi orangtua bukan perkara mudah. Pengasuhan tidak hanya soal merawat dan memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga memberi ilmu serta bimbingan yang tepat hingga anak mampu menentukan pilihannya sendiri di masa depan.
Kesalahan dalam pola asuh dapat berdampak pada perilaku serta tumbuh kembang anak. Salah satu hal yang perlu disadari adalah penggunaan kalimat-kalimat tertentu yang, meski terdengar sepele, dapat memengaruhi kondisi mental anak secara perlahan.
1. “Saat aku se-usiamu, aku…”
Kalimat ini mengandung unsur perbandingan, ketika orangtua membandingkan pengalaman atau pencapaiannya di masa lalu dengan kondisi anak saat ini—baik terkait fisik, prestasi, maupun hal lain. Dampaknya, anak bisa merasa dipaksa menyamakan dirinya dengan orangtua, padahal situasi masa kini dan masa lalu berbeda. Dalam jangka panjang, anak dapat memandang orangtua sebagai “pesaing” dan merasa kurang percaya diri ketika tidak sesuai harapan.
2. “Kamu tidak akan pernah bisa melakukannya…”
Saat anak sedang berusaha, orangtua idealnya mendampingi dan membimbing selama hal yang dilakukan bersifat positif. Namun, kalimat yang menyiratkan ketidakpercayaan dapat membuat anak berhenti mencoba sejak awal. Jika terus berulang, anak berisiko kehilangan keberanian untuk maju dan mengalami penurunan rasa percaya diri.
3. “Aku mengorbankan hidupku untukmu…”
Menjadi orangtua memang menuntut pengorbanan. Namun, melontarkan kalimat ini dapat membuat anak merasa kehadirannya tidak diharapkan, dianggap mengganggu, atau menjadi beban. Jika sering diucapkan, anak bisa tumbuh dengan perasaan bersalah dan menganggap dirinya sebagai beban yang harus menanggung kekecewaan orangtua.
4. “Seharusnya kamu…”
Memberi arahan kepada anak penting, tetapi arahan yang berubah menjadi perintah untuk mengikuti keinginan orangtua dapat membuat anak kesulitan menentukan pilihannya sendiri. Kalimat seperti ini berisiko membuat anak terbiasa didikte, sehingga ia tidak terlatih mengenali apa yang benar-benar ia sukai dan butuhkan.
5. Membandingkan anak dengan saudara kandung
Setiap anak memiliki karakter yang berbeda, termasuk dalam satu keluarga. Menyamakan anak dengan saudaranya dapat memunculkan perasaan tidak cukup baik. Selain itu, perbandingan semacam ini berpotensi memicu konflik karena anak bisa melihat saudara sendiri sebagai pesaing, bukan rekan untuk saling mendukung.
Kesadaran atas pilihan kata menjadi bagian penting dalam pengasuhan. Kalimat yang diucapkan berulang kali dapat membentuk cara anak memandang dirinya, orang lain, dan lingkungan terdekatnya.

