BERITA TERKINI
Literasi Kritis Dinilai Mendesak, Badan Bahasa Dorong Penguatan Berbasis Komunitas

Literasi Kritis Dinilai Mendesak, Badan Bahasa Dorong Penguatan Berbasis Komunitas

Penguatan literasi yang mendorong kemampuan berpikir kritis dinilai menjadi kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus informasi. Literasi kini tidak lagi dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga kecakapan bernalar, memilah informasi, serta mengambil keputusan secara sadar dan bertanggung jawab.

Kepala Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Hafidz Muksin, menyatakan literasi merupakan fondasi pembangunan sumber daya manusia. Menurut dia, literasi yang kuat menjadi penopang agar masyarakat tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi mampu memahami konteks dan dampak dari informasi yang diterima.

Hafidz menekankan, literasi berkaitan langsung dengan kemampuan berpikir kritis. “Literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan bernalar, berpikir kritis, serta memahami informasi secara utuh di tengah arus informasi yang semakin padat,” ujarnya dalam dialog literasi di Kalimantan Utara, Jumat, 6 Februari 2026.

Ia menambahkan, masyarakat yang memiliki kecakapan literasi akan lebih mampu menyikapi informasi secara rasional. “Masyarakat yang literat adalah masyarakat yang mampu menimbang informasi, memahami konteks, dan mengambil keputusan secara sadar, bukan sekadar menerima informasi apa adanya,” kata Hafidz.

Dalam pengembangan literasi di daerah, Badan Bahasa menilai pendekatan berbasis komunitas menjadi strategi yang relevan. Hafidz menyebut praktik literasi yang tumbuh dari komunitas cenderung lebih kontekstual dan berkelanjutan karena berangkat dari kebutuhan setempat. “Penguatan literasi berbasis komunitas penting karena praktik literasi akan lebih hidup ketika tumbuh dari kebutuhan dan realitas masyarakat setempat,” ujarnya.