JAKARTA — Alunan musik bernuansa sufistik mengisi Auditorium Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI), Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (18/5). Bertajuk Mahabbah Allah Pakem 9, pergelaran ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga menghadirkan ruang refleksi yang mengajak penonton menengok kembali dimensi spiritualitas, nilai ketuhanan, serta cinta terhadap sesama dan bangsa.
Konser hasil kolaborasi PWI Jaya dan Tiga Jantung Production itu menampilkan musisi lintas generasi dalam formasi Interstate Pakem 9 Band. Sejumlah nama yang tampil antara lain Taraz Biztara dari T.R.I.A.D, Baruna Priyotomo dari Elpamas, Yoel Perry dari NUKLA, hingga Axl. Mereka membawakan karya-karya Mbah Syaiful Umar dengan sentuhan komposisi modern, namun tetap menjaga napas spiritual yang menjadi ciri utama pertunjukan.
Dalam perjalanan musikal malam itu, lagu-lagu seperti Astagfirullah, Tersenyumlah, Pemimpin, hingga NKRI Harga Mati dibawakan dengan tema yang tidak hanya menyinggung hubungan manusia dengan Sang Pencipta, tetapi juga persoalan kebangsaan, cinta, dan realitas sosial yang dihadapi masyarakat.
Budayawan Ngatawi Al-Zastrouw menilai esensi Mahabbah Allah Pakem 9 melampaui pertunjukan musik. Menurutnya, konser tersebut merupakan bagian dari perjalanan spiritual menuju cinta sejati kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. “Angka sembilan melambangkan tingkatan spiritual tertinggi untuk mengetuk pintu langit melalui untaian nada, dzikir, dan munajat doa,” ujarnya.
Al-Zastrouw juga menekankan kekuatan seni sebagai media komunikasi yang mampu menjembatani manusia dengan sesamanya, sekaligus menghubungkan manusia dengan Tuhan dan alam semesta. “Seni bisa menjadi sarana komunikasi antara manusia dengan Tuhan dan antara manusia dengan alam,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan pencipta lagu sekaligus perwakilan komunitas Tiga Jantung, Syaiful Umar. Ia menyebut konser ini sebagai ikhtiar spiritual untuk merespons berbagai persoalan di Indonesia, mulai dari persoalan sosial, kerusakan lingkungan, hingga menurunnya kepedulian antarsesama. Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari semakin jauhnya manusia dari nilai-nilai spiritual. “Kita tidak ingin ada bencana lebih besar di negeri ini, makanya kita harus mohon kepada Allah dan melakukan taubat bersama,” ujar Syaiful Umar.
Ia menjelaskan musik dipilih sebagai medium penyampaian pesan karena dinilai dapat menjangkau masyarakat lebih luas dibandingkan forum formal atau ceramah. Melalui konser ini, pesan pertobatan, kepedulian sosial, dan ajakan memperbaiki diri diharapkan dapat diterima berbagai kalangan. “Setelah konser pertobatan dan ruwatan ini, kita memohon kepada Allah semoga bencana-bencana tidak terjadi lagi,” tuturnya.
Para musisi yang membawakan lagu-lagu tersebut mengaku memiliki tantangan tersendiri dalam menerjemahkan karya bermuatan spiritual agar dapat diterima lintas generasi. Taraz Biztara mengatakan karya-karya Mbah Syaiful bersama Adi Pamungkas dan Heri Machan memuat pesan mendalam yang tetap relevan di berbagai zaman. “Tantangannya, kami harus mendeliver karya yang dibuat para seniman senior agar sampai ke telinga dan hati penonton lintas generasi. Tugas kami saat di panggung, menerjemahkan lirik itu ke dalam ekspresi,” ujarnya.
Pergelaran ini juga mendapat perhatian Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Indonesia, Yusril Ihza Mahendra. Ia menilai tema yang diangkat memiliki makna di tengah tantangan yang dihadapi bangsa. “Tema yang diangkat pada pagelaran musik ini cukup menarik yakni sebagai perenungan kita pada apa yang diciptakan Allah pada kita sebagai manusia. Dan lewat konser ini harapannya kita bisa merenungkan hakikat dan persoalan-persoalan besar yang dihadapi oleh bangsa dan negara kita sekarang. Dan ini menjadi tugas bagi kita semua, saya yang ada di pemerintahan,” katanya.
Sementara itu, Ketua PWI Jaya Seksi Musik dan Film, Irish Riswoyo, menyatakan Mahabbah Allah Pakem 9 tidak akan berhenti di Jakarta. “Ini bukan sekadar konser. Kita akan bikin di sejumlah daerah dan akan berakhir di Jakarta lagi dengan skala yang lebih besar,” ujarnya.
Rencana tersebut menandai bahwa Mahabbah Allah Pakem 9 diposisikan sebagai gerakan budaya dan spiritual yang membawa pesan moral ke berbagai daerah. Di tengah kehidupan yang kian cepat dan kompleks, konser ini menjadi pengingat akan pentingnya ruang untuk berhenti sejenak, mendengar suara hati, dan kembali menemukan makna dalam perjalanan hidup.