BERITA TERKINI
Mai Diễm My: Menjaga Bolero Lewat Pengalaman dan Emosi yang Tulus

Mai Diễm My: Menjaga Bolero Lewat Pengalaman dan Emosi yang Tulus

Penyanyi bolero Mai Diễm My mengatakan kecintaannya pada musik bolero tumbuh sejak kecil, berawal dari kaset-kaset lama milik keluarga. Lagu-lagu rakyat dan melodi bolero yang kerap dinyanyikan ibunya setiap malam, menurutnya, perlahan meresap dan menjadi fondasi emosional yang ia bawa hingga dewasa.

Meski telah tertarik pada seni sejak dini, Mai Diễm My baru memulai karier menyanyi profesional pada 2021. Namanya kemudian dikenal lewat sejumlah ajang dan program musik seperti Mysterious Singer, Star Arena, serta The Love Storyteller. Ia menarik perhatian ketika meraih gelar juara The Love Storyteller musim ke-9 pada Februari 2026.

Seusai kompetisi tersebut, aktivitasnya semakin padat. Ia mendapat lebih banyak jadwal tampil di Kota Ho Chi Minh, berbagai provinsi, serta program televisi. Mai Diễm My juga menyebut terus menerima tawaran kolaborasi dan menyiapkan karya-karya baru sebagai bentuk terima kasih kepada penggemar yang mendukung perjalanannya.

Menurutnya, kemenangan di The Love Storyteller bukan hanya membuka peluang, tetapi juga menguatkan keyakinannya untuk menekuni bolero dan musik folk. Pada tahap awal kompetisi, ia sempat mencoba berbagai gaya. Namun, ketika kembali membawakan bolero—genre yang ia anggap paling dekat dengan dirinya—ia memperoleh respons positif dari juri dan penonton.

“Bolero memberi saya perasaan seperti menceritakan sebuah kisah melalui musik. Saya tidak ingin mengejar tren dan kehilangan identitas saya,” ujar Mai Diễm My.

Ia menilai bolero bukan sekadar genre, melainkan ruang bagi penyanyi untuk mengekspresikan emosi secara utuh. Tantangan terbesarnya, kata dia, bukan pada aspek teknis, melainkan pada kedalaman pengalaman yang membentuk penghayatan. “Bolero tidak terlalu menonjolkan keterampilan teknis, tetapi menuntut emosi yang tulus. Jika penyanyi tidak mencurahkan hatinya ke dalam lagu, sangat sulit untuk menyentuh hati penonton. Ada lagu-lagu yang dulu saya nyanyikan yang terasa biasa saja, tetapi setelah peristiwa-peristiwa dalam hidup, ketika saya menyanyikannya lagi, emosinya benar-benar berbeda,” tuturnya.

Dalam keseharian, Mai Diễm My menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang emosional, ceria, dan empatik. Ia merasa kepekaan tersebut membantunya terhubung secara alami dengan nuansa lagu-lagu cinta dalam bolero.

Mai Diễm My juga mengakui bahwa menekuni bolero di tengah dominasi musik pop dan tren modern bukan hal mudah. Ia menilai pendengar bolero dikenal selektif karena terbiasa dengan penyanyi berpengalaman dan memiliki standar tinggi. Namun, alih-alih menjadi tekanan, ia menganggapnya sebagai motivasi untuk terus meningkatkan kualitas penampilan, mulai dari vokal hingga emosi yang disampaikan.

Ia berpendapat bolero tetap dapat menarik minat penonton muda jika musisi mampu berinovasi tanpa meninggalkan semangat inti genre tersebut. Saat ini, ia tengah mengerjakan proyek yang memadukan bolero dengan nuansa yang lebih modern, dengan tujuan mendekatkan musik lirik itu kepada pendengar yang lebih luas.

Setelah lebih dari lima tahun menapaki jalur profesional, Mai Diễm My terus tampil di berbagai panggung—dari skala kecil hingga besar, termasuk kedai teh, konser, dan proyek musik pribadi. Dalam waktu dekat, ia menyebut sedang menyiapkan pertunjukan mini personal sebagai ungkapan terima kasih kepada penggemar.

“Saya menyanyikan lagu-lagu bolero berdasarkan pengalaman tulus dari hati saya. Mungkin itulah sebabnya saya selalu berharap setiap lagu yang saya nyanyikan dapat menyentuh emosi pendengar dengan cara yang paling tulus,” kata Mai Diễm My.

Mai Diễm My lahir pada 1997 dan berasal dari Cà Mau. Selain dikenal lewat program televisi, ia memiliki kanal YouTube dengan lebih dari 120 video musik bolero dan lirik, sejumlah di antaranya meraih jutaan penonton. Ia juga menulis lagu, termasuk “Tỉnh Mộng”, “Lỡ Một Lần Thương”, dan “Về Cà Mau Quê Em”. Beberapa lagu yang kerap disukai penonton melalui suaranya antara lain “Bài Ca Đất Phương Nam”, “Tỉnh Mộng”, “Lữ Khách Bên Đường”, dan “Hoa Sứ Nhà Nàng”.