BERITA TERKINI
Menafsir “Lambung Kerbau Jantan”, Puisi Raudhal untuk Rusli Marzuki Saria dan Jejak Ketahanan Kata

Menafsir “Lambung Kerbau Jantan”, Puisi Raudhal untuk Rusli Marzuki Saria dan Jejak Ketahanan Kata

Penyair Angkatan 66, Rusli Marzuki Saria, genap berusia 90 tahun pada 26 Februari 2026, yang jatuh pada pekan terakhir Februari. Momentum ulang tahun itu kembali mengingatkan sejumlah kalangan pada jejak Rusli, termasuk perannya di dunia kebudayaan.

Rusli Marzuki Saria pernah dikenal sebagai redaktur budaya Haluan, surat kabar terkemuka di Sumatera. Dalam sebuah kenangan yang disampaikan penulis, Rusli pernah mempercayainya menulis esai apresiasi puisi untuk rubrik yang memuat karya-karya sastra pada 1990-an. Selama sekitar setahun, setiap pekan penulis memilih tiga judul puisi untuk diapresiasi.

Pengalaman itu kembali teringat ketika sastrawan Raudhal Tanjung Banua mempublikasikan puisi tentang Rusli Marzuki Saria di Facebook. Penulis kemudian mengulang pekerjaan apresiasi yang pernah ia lakukan puluhan tahun sebelumnya, kali ini terhadap puisi karya Raudhal.

Puisi yang dimaksud berjudul “Lambung Kerbau Jantan” dan ditujukan kepada “papa rusli marzuki saria”. Dalam catatan penulis, puisi tersebut ditulis sebagai penghormatan pada ulang tahun Rusli yang ke-85, dengan rentang penulisan 2016–2021.

Dalam pembacaan penulis, “Lambung Kerbau Jantan” tampil sebagai puisi simbolik yang padat dan berlapis, memadukan penghormatan personal dengan tafsir atas perjalanan kebudayaan serta pengalaman sejarah Minangkabau. Raudhal membuka puisinya dengan metafora yang menegaskan arah pembacaan: “lambung kerbau jantan” sebagai “lambang lumbung kejayaan”.

Penulis menilai pilihan kata “lambung” penting karena menggeser perhatian dari tanda kemenangan yang lazim—seperti tanduk—ke ruang daya simpan dan ketahanan. Permainan bunyi “lambung–lambang–lumbung” juga dibaca sebagai ritme yang konsisten, menyerupai gerak berat namun tekun.

Puisi itu, menurut penulis, menyisipkan sejarah tanpa mengubahnya menjadi ceramah. Raudhal menyebut sejumlah penanda sejarah seperti “belasting + Padri” serta “PDRI + PRRI” tanpa penjelasan panjang, seakan mempercayakan pembaca untuk menangkap gema rujukannya. Gambaran “menggeret pedati dari pasar ke pasar” dan “di bawah tumpukan kol dan sawi / loloslah amunisi” dibaca sebagai metafora siasat rakyat dan perlawanan yang bergerak diam-diam.

Dari sisi suasana, penulis menangkap energi yang tegas melalui citraan seperti “kerbau jantan”, “lecut pecut”, dan “tombak”. Namun, nada itu tetap dijaga melalui musikalitas bunyi, misalnya pada baris “Genta di leher / Dentang harapan”, yang menghadirkan kesan sejarah sebagai sesuatu yang berdentang dan memanggil.

Menjelang akhir, penulis mencatat adanya pergeseran nada ketika “dentang genta” digambarkan “tenggelam sudah / di jauhan”. Meski demikian, puisi menutup dengan citraan “tombak yang ditancapkan” dan “matahari merah jingga”, yang dibiarkan terbuka maknanya: bisa dibaca sebagai fajar, senja, atau tanda lain yang mengundang tafsir.

Secara keseluruhan, penulis menilai puisi Raudhal tidak menempuh jalur pujian langsung atau daftar prestasi. Penghormatan kepada Rusli Marzuki Saria justru dibangun lewat metafora, bunyi, dan serpihan sejarah—sebuah cara merayakan penyair dengan puisi yang berani dan tidak klise.