BERITA TERKINI
Mengapa Gen Z dan Gen Alpha Lebih Terbuka soal Emosi Dibanding Generasi Sebelumnya

Mengapa Gen Z dan Gen Alpha Lebih Terbuka soal Emosi Dibanding Generasi Sebelumnya

Ungkapan seperti “anak zaman sekarang kok perasa banget” kerap muncul untuk menggambarkan generasi muda. Namun sejumlah ahli kesehatan mental menilai kepekaan emosional Gen Z dan Gen Alpha bukanlah tanda kelemahan, melainkan perkembangan cara generasi baru memahami dan mengelola perasaan.

Psikiater anak dan remaja Zishan Khan mengatakan Gen Z dan Gen Alpha tumbuh dengan kosakata yang lebih luas untuk membicarakan emosi, sekaligus memiliki “izin sosial” yang lebih besar untuk mengungkapkannya dibanding orang tua atau kakek-nenek mereka. Dalam keterangannya yang dikutip dari Parents, Khan menyebut anak-anak masa kini hidup dalam budaya yang menamai perasaan, menormalkan terapi, dan menuntut orang dewasa lebih peka secara emosional. Kondisi itu membuat mereka berlatih keterampilan emosional dengan cara yang tidak tersedia bagi generasi terdahulu.

Menurut Khan, perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil pergeseran sosial yang berlangsung bertahap, mencakup pola asuh, literatur parenting, peran sekolah, pengaruh media sosial, hingga figur publik yang lebih terbuka membicarakan kesehatan mental.

Sementara itu, pengalaman generasi sebelumnya membentuk pendekatan yang berbeda. Generasi Baby Boomers (1946–1964) dibesarkan oleh orang tua yang melewati perang dunia dan depresi ekonomi. Dalam situasi tersebut, pola asuh lebih menekankan keselamatan fisik dibanding keamanan emosional.

Konselor Alexandra Cromer menjelaskan, orang tua yang mengalami trauma besar cenderung memprioritaskan keselamatan fisik anak. Dampaknya, banyak anggota generasi Boomers dan Gen X tumbuh dengan ruang yang lebih terbatas untuk mengidentifikasi maupun mengekspresikan perasaan.

Psikiater Nissa Keyashian menambahkan bahwa Boomers kemungkinan lebih kesulitan mengidentifikasi, mengekspresikan, serta mendiskusikan emosi atau kesehatan mental. Mereka juga dinilai cenderung lebih resisten untuk mencari bantuan profesional.

Meski begitu, perubahan mulai terlihat ketika Gen X beranjak dewasa. Konselor sekolah menjadi lebih umum, dan pembahasan tentang pola asuh yang responsif secara emosional mulai masuk ke ruang publik pada akhir 1980-an hingga 1990-an. Perkembangan inilah yang kemudian ikut membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk lebih akrab dengan bahasa emosi dan percakapan seputar kesehatan mental.