Puisi “Sang Kaligrafer” dikenal luas melalui penggambaran suasana musim semi yang cerah, dengan warna merah pada kertas dan tinta, serta sosok cendekiawan tua yang tekun menulis di tengah keramaian jalan. Bait-baitnya menampilkan kontras antara masa ketika sang penulis kaligrafi dipuji dan didatangi banyak orang, dengan tahun-tahun berikutnya ketika tempat itu kian sepi.
Dalam puisi tersebut, setiap kali bunga persik bermekaran, sang aku lirik kembali melihat cendekiawan tua hadir dengan tinta Cina dan kertas merah. Orang-orang yang lewat digambarkan mempekerjakannya dan memuji keterampilannya, menyandingkan goresan kaligrafi yang indah dengan citraan “burung phoenix yang menari” dan “naga yang terbang”.
Namun, suasana berangsur berubah. Keramaian memudar, orang-orang yang dahulu datang tak lagi terlihat. Kertas merah disebut telah pudar, sementara tinta masih tersisa di tempat tinta. Sang cendekiawan tua tetap duduk di sana, seolah tak disadari oleh orang-orang yang menyeberang jalan. Daun-daun kuning berguguran di atas kertas, dan gerimis turun di luar.
Ketika musim semi datang lagi dan bunga persik kembali bermekaran, sosok cendekiawan tua itu disebut tidak terlihat di mana pun. Puisi ini menutup dengan nada kehilangan, meninggalkan pembaca pada ingatan tentang “orang-orang di zaman dahulu”.
Puisi “Sang Kaligrafer” kerap dikenang karena menghadirkan potret perubahan zaman melalui detail yang sederhana: keramaian yang surut, warna yang memudar, dan sosok yang perlahan menghilang dari pusat perhatian.

