BERITA TERKINI
Milli Sayidan, Ruang Nongkrong Musikal Shaggydog untuk Merawat Skena Musik Yogyakarta

Milli Sayidan, Ruang Nongkrong Musikal Shaggydog untuk Merawat Skena Musik Yogyakarta

Shaggydog mencoba memperpanjang napas skena musik di kawasan Sayidan, Yogyakarta, lewat sebuah tempat nongkrong bernuansa musikal bernama Milli Sayidan. Nama “Milli” dipilih dengan makna “mengalir”, sekaligus dimaknai sebagai gelas yang terus terisi atau dituang—melanjutkan semangat yang selama ini lekat dengan Sayidan melalui lagu Shaggydog.

Saya bertemu Heru Wahyono, vokalis Shaggydog sekaligus salah satu pendiri Milli Sayidan, pada Selasa pagi, 5 Mei 2026. Pagi itu, seluruh personel Shaggydog berkumpul di Milli Sayidan untuk membuat konten media sosial, sekaligus mempromosikan rencana tempat tersebut yang akan buka pada pagi hari.

Milli Sayidan berada di Jalan Lobaningratan Nomor 7, masih satu kawasan dengan Kampung Sayidan, Kelurahan Prawirodirjan. Lokasinya tidak jauh dari Polsek Gondomanan. Selain berfungsi sebagai unit usaha makanan dan minuman, tempat ini juga menjadi kantor Shaggydog dan beberapa unit usahanya, seperti DoggyHouse Records, DoggyShop Jogja, serta manajemen Shaggydog. Di lokasi yang sama juga terdapat studio tato “Tengkorak Kecil” milik Raphael Danu, vokalis band pop punk Morning Horny, serta satu ruang kosong yang disiapkan untuk disewa.

Heru menjelaskan, gagasan membuat bar yang dapat dipakai untuk menggelar pertunjukan musik sudah direncanakan hampir 15 tahun. Namun, rencana itu baru bisa diwujudkan sekitar setahun terakhir setelah tabungan mencukupi dan lokasi yang dianggap tepat ditemukan di sekitar Kota Yogyakarta.

Menurut Heru, sebelum menempati rumah di Jalan Lobaningratan, Shaggydog sempat melakukan survei beberapa lokasi, tetapi belum menemukan yang cocok. Mereka kemudian mendapatkan rumah di sekitar Sayidan—kawasan yang pernah menjadi tempat nongkrong mereka di masa lalu. Dua personel Shaggydog yang memiliki rumah di Sayidan adalah Richard Bernardo dan Bandizt, yang masih sepupu.

Eksekusi tempat tersebut dimulai sekitar 2024. Rumah yang dipilih merupakan rumah induk keluarga besar yang sudah kosong dan terbengkalai selama empat tahun. Heru menyebut, bangunannya sempat menyerupai “hutan kecil” sebelum dibersihkan dan direnovasi menggunakan tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun.

Shaggydog, kata Heru, sejak awal ingin memiliki semacam markas yang juga bisa berfungsi sebagai ruang pertunjukan. Ia menyebut gambaran tempat yang mereka inginkan mirip konsep bar independen seperti CBGB OMFUG. Keinginan itu juga berangkat dari pengalaman mereka tumbuh di skena punk, meski Shaggydog dikenal sebagai band ska.

Seiring bertambahnya usia, Heru mengatakan dorongan untuk melihat musisi muda tumbuh dari skena Yogyakarta semakin kuat. Ia mengingat masa akhir 1990-an ketika banyak kafe lebih sering menyajikan musik Top 40, sementara band yang memainkan karya sendiri sulit mendapat panggung. Pengalaman itu membuat Shaggydog ingin menyediakan ruang yang lebih ramah bagi band yang baru naik atau baru merilis karya.

Heru menegaskan, Milli Sayidan tidak dipatok untuk satu genre tertentu. Selain pertunjukan, tempat ini juga diharapkan dapat menghadirkan lokakarya yang berkaitan dengan musik. Setelah setahun berjalan, Heru menyebut pihaknya masih melakukan pembenahan bertahap, termasuk soal akustik ruangan, pemasangan AC, serta penguatan promosi dan manajemen. Salah satu rencana yang disiapkan adalah pemasangan AC saat acara agar ruangan tidak gerah, dengan ketentuan tidak merokok ketika AC dinyalakan.

Terkait pembiayaan, Heru mengatakan subsidi dari Shaggydog hanya berlangsung pada enam bulan pertama. Setelah itu, Milli Sayidan dinilai sudah mampu berjalan mandiri. Ia menyebut kemandirian penting agar tempat tersebut tidak bergantung pada event semata, mengingat banyak tempat nongkrong musik di Yogyakarta yang tutup karena pola ketergantungan serupa.

Heru juga menekankan pentingnya komunitas dan jaringan untuk menjaga keberlangsungan ruang skena. Menurutnya, Shaggydog beruntung dikelilingi komunitas musisi, seniman, promotor, dan berbagai pihak lain, sehingga kepercayaan yang terbangun perlu terus dirawat.

Untuk menjaga daya tarik dan keberlanjutan, Milli Sayidan menjalankan promosi melalui berbagai platform media sosial serta menyusun agenda rutin. Salah satu strategi yang diterapkan adalah promo minuman koktail dengan harga terjangkau saat gelaran pertunjukan, guna meminimalkan kemungkinan penonton membawa minuman beralkohol dari luar.

Sejumlah program rutin telah disiapkan. Untuk agenda musik, ada OJAM (Open Jamming) yang terbagi menjadi OJAM Jazz Night, OJAM Blues Night, dan Singgah Merekam. Program Singgah Merekam ditujukan untuk mengakomodasi band-band yang sedang tur dan singgah di Yogyakarta. Ada pula Majegga Gigs yang diinisiasi oleh DoggyHouse Records.

Milli Sayidan juga membuka diri bagi pegiat event yang ingin menggunakan tempat tersebut untuk konser atau promosi album. Sejumlah acara yang pernah digelar di sana antara lain Simak Siar, Anti Nganggur Gigs, Melangkah Bersama, dan Sound of Passion. Tempat ini juga pernah menjadi lokasi promosi festival musik seperti Cherrypop serta acara rokok dan minuman beralkohol.

Di luar pertunjukan, Milli mengadakan program “Pagi-pagi Sarapan Musik”, sebuah talkshow yang membahas musik secara luas, termasuk industri dan rilisan fisik. Selain itu, terdapat rencana lokakarya pengarsipan musik dan fotografi pada Juni 2026. Milli juga berupaya menjadi inisiator kegiatan Jalan-Jalan di Sayidan, yakni agenda berjalan menyusuri Kampung Sayidan yang dipandu personel Shaggydog dan mengakomodasi komunitas sepeda untuk bersepeda bersama.

Di tengah dinamika ruang musik di Yogyakarta yang kerap sulit bertahan lama, Heru berharap Milli Sayidan bisa menjadi bentuk pengabdian Shaggydog kepada skena yang membesarkan mereka. Ia menyebut tempat itu terbuka untuk dipakai dan diharapkan dapat menjadi wadah bagi skena musik dan seni di Yogyakarta.

Usai obrolan, Heru dipanggil untuk membuat konten. Kursi yang ditinggalkan Heru kemudian diduduki Yoyok, drummer Shaggydog. Percakapan dengan Yoyok justru melebar ke topik death metal. Yoyok diketahui pernah menjadi anggota Jogjakarta Corpse Grinder, komunitas metal di Jogja yang berdiri pada 1994.

Dengan berbagai program dan pembenahan yang masih berjalan, Milli Sayidan kini menjadi ruang yang tidak hanya menawarkan aktivitas kuliner, tetapi juga mempertemukan komunitas dan menyediakan panggung bagi musisi lintas genre. Bagi Shaggydog, tempat ini menjadi cara untuk “memberi kembali” kepada skena yang selama ini turut membentuk perjalanan mereka.