BERITA TERKINI
MSD Indonesia Gelar NgobrolinHPV saat Cervical Cancer Awareness Month 2026, Ajak Perempuan Peduli Pencegahan Kanker Serviks

MSD Indonesia Gelar NgobrolinHPV saat Cervical Cancer Awareness Month 2026, Ajak Perempuan Peduli Pencegahan Kanker Serviks

Dalam rangka memperingati Cervical Cancer Awareness Month 2026, MSD Indonesia menggelar rangkaian kegiatan edukatif melalui inisiatif NgobrolinHPV. Program ini ditujukan untuk membuka percakapan yang lebih jujur dan inklusif mengenai Human Papillomavirus (HPV) serta pentingnya pencegahan kanker serviks, isu kesehatan perempuan yang masih kerap diselimuti stigma dan minim informasi.

Rangkaian kegiatan NgobrolinHPV dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan gaya hidup perempuan masa kini. Acara diawali dengan parade komunitas mengelilingi area Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, dengan jarak tempuh 1,5 kilometer sebagai simbol ajakan bersama untuk lebih peduli pada kesehatan perempuan.

Setelah parade, peserta mengikuti talk show edukatif bersama para ahli. Di lokasi yang sama, tersedia wellness zone untuk pemeriksaan kesehatan serta beauty zone untuk touch up. Format ini dirancang agar edukasi kesehatan tidak hanya disampaikan melalui diskusi, tetapi juga lewat pengalaman yang dinilai menyenangkan dan relevan.

Managing Director MSD Indonesia George Stylianou menyatakan perusahaannya berkomitmen melanjutkan edukasi terkait bahaya HPV dan ancaman kanker serviks bagi masyarakat. Ia menekankan pentingnya langkah preventif yang disertai pengetahuan yang tepat. Melalui kampanye #NgobrolinHPV, MSD Indonesia berharap lebih banyak individu terdorong mengambil tindakan pencegahan seperti vaksinasi dan skrining.

Salah satu agenda utama adalah talk show NgobrolinHPV yang dikemas dalam konsep obrolan santai tanpa presentasi formal. Diskusi ini disebut sebagai ruang aman bagi perempuan untuk bertanya dan berbagi tanpa rasa takut dihakimi. Beragam topik dibahas, mulai dari pemahaman dasar tentang HPV, risiko yang sering tidak disadari, hingga langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini.

Dalam sesi tersebut, dr. Muhammad Yusuf Sp.OG(K) menjelaskan HPV merupakan virus yang sangat umum dan banyak orang dapat terpapar sepanjang hidupnya tanpa disadari. Virus ini dapat menginfeksi perempuan maupun pria. Menurutnya, karena sifatnya yang umum, sebagian orang menganggap HPV sepele atau tidak mengetahui keberadaannya, padahal dapat berdampak serius bagi kesehatan.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan lebih dari 95% kasus kanker serviks disebabkan oleh HPV. Di Indonesia, kanker serviks disebut masih menjadi kanker terbanyak kedua pada perempuan, dengan sekitar 36.964 kasus baru dan 20.708 kematian setiap tahunnya. Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya edukasi mengenai HPV serta langkah pencegahannya.

dr. Yusuf juga menyoroti masih banyaknya miskonsepsi di masyarakat, termasuk anggapan bahwa HPV hanya menyerang kelompok tertentu. Ia menjelaskan HPV dapat menular melalui kontak kulit ke kulit di area genital, dan risiko tidak ditentukan hanya oleh satu faktor. Ia mencontohkan penularan dapat terjadi melalui kontak skin to skin, dan dalam konteks tertentu dapat menimbulkan kutil kulit.

Terkait tipe HPV, dr. Yusuf memaparkan adanya kategori risiko rendah (low risk) yang dapat menyebabkan kutil kelamin atau tumor jinak, serta kategori risiko tinggi (high risk) yang berpotensi berkembang menjadi kanker, termasuk kanker serviks. Ia menekankan infeksi tipe high risk dalam beberapa waktu dapat memicu perubahan sel normal menjadi kanker.

Infeksi HPV kerap tidak menimbulkan gejala khusus sehingga banyak orang tidak menyadari telah terpapar. Karena itu, dr. Yusuf menegaskan kanker serviks termasuk penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui pencegahan primer dan sekunder yang dijalankan beriringan. Ia menyebut vaksinasi sebagai langkah pencegahan primer, sementara pencegahan sekunder dilakukan melalui skrining seperti pap smear dan HPV test secara rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Ia juga menekankan bahwa menjaga kesehatan serviks bukan hanya relevan bagi perempuan yang sudah menikah atau berkeluarga, melainkan bagian dari kesadaran kesehatan jangka panjang setiap perempuan.

Dari perspektif generasi muda, Commissioner CT Corp & CEO Trans Digital Lifestyle Group Putri Tanjung menilai pembahasan soal HPV dan kesehatan serviks masih sering dianggap tabu. Menurutnya, banyak perempuan merasa canggung, takut dihakimi, atau tidak tahu harus bertanya ke mana ketika mencari informasi. Ia menekankan pentingnya peran media dan figur publik dalam membuka percakapan agar isu kesehatan perempuan tidak hanya dibahas di ruang tertutup. Putri juga mendorong generasi muda untuk memiliki kesadaran sejak dini dan mencari informasi yang lengkap serta valid mengenai HPV, serta pentingnya dukungan lingkungan yang aman untuk berdiskusi soal kesehatan.

Selain kegiatan luring, MSD Indonesia juga menghadirkan kanal edukatif NgobrolinHPV yang dapat diakses kapan saja. Platform ini menyediakan informasi, fitur Clinic Locator untuk menemukan fasilitas kesehatan, serta NONA (NgobrolinHPV Virtual Assistant), chatbot WhatsApp yang ditujukan untuk membantu menjawab pertanyaan seputar HPV. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, MSD Indonesia berharap semakin banyak perempuan berani membicarakan HPV, mencari informasi yang benar, dan mengambil langkah pencegahan demi kesehatan di masa depan.