BERITA TERKINI
Muhaimin Iskandar: Kesehatan Mental Harus Jadi Agenda Strategis Nasional

Muhaimin Iskandar: Kesehatan Mental Harus Jadi Agenda Strategis Nasional

Jakarta — Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) A. Muhaimin Iskandar menegaskan kesehatan mental perlu ditempatkan sebagai agenda strategis dan menjadi tanggung jawab bersama. Ia menyebut sejumlah peristiwa tragis belakangan ini, termasuk kasus bunuh diri pada anak dan remaja, sebagai alarm serius bagi bangsa.

Pernyataan itu disampaikan Muhaimin dalam Dialog Solidaritas dan Partisipasi Publik bertema “Meningkatkan Ketahanan Psikososial sebagai Fondasi Pemberdayaan Masyarakat” di Universitas Indonesia, Kampus Salemba, Jakarta, Jumat (27/2/2026).

“Sekali lagi, kesehatan mental menjadi agenda strategis dan tanggung jawab bersama,” kata Muhaimin.

Muhaimin merujuk data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang mencatat sekitar 28 juta masyarakat Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Ia menilai angka tersebut mencerminkan persoalan yang kompleks dan multidimensi, mulai dari kemiskinan struktural, lemahnya kohesi sosial, hingga kurangnya dukungan psikososial.

“Ini menunjukkan adanya gunung es yang sangat menghawatirkan yang setiap saat akan bisa lebih banyak dan lebih parah lagi,” ucapnya.

Menurut Muhaimin, gangguan kesehatan mental tidak berdiri sendiri. Ia menyebut pemicunya berkaitan dengan berbagai faktor, seperti kemiskinan struktural, tekanan sosial-ekonomi, lemahnya kohesi sosial, serta rendahnya literasi dan dukungan psikososial di tingkat komunitas.

“Itulah tantangan yang harus kita lakukan bersama-sama untuk mengajak dan bersama-sama mengatasi akibat sekaligus kita mulai dari pemicu gangguan-gangguan kesehatan mental yang sangat kompleks ini,” kata Muhaimin.

Ia menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh yang tidak hanya berfokus pada penanganan dampak, tetapi juga menyasar akar persoalan secara sistemik. Muhaimin menyebut penguatan regulasi, politik anggaran yang tepat sasaran, serta kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah dan pihak non-pemerintah sebagai bagian dari upaya tersebut.

Muhaimin juga menegaskan pemberdayaan masyarakat tidak semata-mata menyangkut aspek ekonomi, melainkan mencakup penguatan kesejahteraan psikologis. Ia menilai tanpa ketahanan psikososial, pembangunan tidak akan berkelanjutan.

“Ketika masyarakat bertahan secara psikososial, mereka akan menjadi pribadi yang tangguh, kreatif, dan tentu menjadi kekuatan yang akan menjadi berdaya,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Muhaimin mengapresiasi para aktivis, termasuk Ida Fauzia, serta dukungan akademisi dari Universitas Indonesia. Ia juga menyampaikan pemerintah terus memperkuat akses layanan kesehatan jiwa melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Hari ini kita sebagai sebuah warga bangsa dituntut terus bahu-membahu untuk memastikan tidak ada satupun yang sendirian menanggung beban tetapi kita punya saudara, kita punya keluarga, kita menjadi satu kesatuan,” tutup Muhaimin.