Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyoroti ramainya pemberitaan mengenai rencana pengiriman 5.000 hingga 8.000 tentara Indonesia ke Gaza. Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, menilai wacana tersebut perlu dicermati secara serius karena berpotensi membawa risiko besar bagi Indonesia.
Menurut Sudarnoto, kabar rencana pengiriman pasukan itu tidak hanya ramai di dalam negeri, tetapi juga diberitakan secara masif oleh media Israel. Indonesia disebut-sebut akan menjadi negara pertama yang mengirimkan pasukannya ke wilayah konflik, sementara TNI Angkatan Darat juga dikabarkan telah melakukan sejumlah persiapan awal.
Sudarnoto mengaitkan rencana tersebut dengan skema International Stabilization Force (ISF) yang disebut berada di bawah kendali Amerika Serikat. Ia menyatakan ISF dirancang untuk mendukung pengurangan kekuatan bersenjata di Gaza dan Palestina, yang dalam praktiknya menjadikan pelucutan senjata Hamas sebagai sasaran utama.
“Ini, artinya pelucutan senjata Hamas yang selama ini melakukan perlawanan adalah menjadi program penting. Jadi, logikanya jelas, selama ada Hamas dan Hamas bersenjata, maka keamanan wilayah tidak akan terwujud,” tegas Sudarnoto dalam pernyataan tertulis, Selasa, 10 Februari 2026.
Dalam konteks itu, ia menilai misi perdamaian melalui skema ISF berbahaya, terlebih karena ISF belum menjadi entitas resmi tunggal seperti UNIFIL di Lebanon atau UNDOF di Golan yang jelas berada di bawah mandat Dewan Keamanan PBB.
Karena itu, Sudarnoto meminta Indonesia sangat berhati-hati apabila benar-benar akan mengirimkan tentara ke Gaza. Ia mengingatkan agar Indonesia tidak sampai terjebak agenda hegemonik Amerika Serikat dan Israel.
“Jangan sampai terperangkap atau terjebak dengan agenda hegemonik Amerika dan Israel yaitu menundukkan Gaza atau Palestina. Jika tidak dipertimbangkan matang, maka pengiriman tentara ini berisiko tinggi karena akan berhadapan dengan Hamas,” ujarnya.
Ia juga menilai keterlibatan Indonesia dalam kerangka ISF berpotensi merusak reputasi internasional Indonesia yang selama ini dikenal konsisten membela Palestina. “Ini tidak boleh terjadi: reputasi dan nama baik Indonesia sebagai bangsa yang selama ini membela Palestina akan jatuh,” kata Sudarnoto.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi membenarkan bahwa jumlah personel yang disiapkan mencapai 8.000. Ia menyatakan pasukan akan dikirim ketika sudah ada kesepakatan damai dicapai.
Saat ditanya apakah lokasi penempatan pasukan sudah ditentukan, Prasetyo mengatakan hingga kini Indonesia masih menunggu kesepakatan dari pihak-pihak yang terlibat perundingan. “Belum. Kita baru mempersiapkan diri,” pungkasnya.

