BERITA TERKINI
Musik Vietnam di Era Algoritma: Dari Tangga Lagu ke Rekomendasi Personalisasi

Musik Vietnam di Era Algoritma: Dari Tangga Lagu ke Rekomendasi Personalisasi

Kehadiran Spotify, YouTube, dan berbagai aplikasi streaming musik mengubah cara masyarakat Vietnam mengonsumsi musik. Jika sebelumnya tren banyak ditentukan oleh tangga lagu tradisional, kini algoritma rekomendasi dan daftar putar yang dipersonalisasi semakin mengambil peran utama dalam membentuk selera dan menentukan lagu apa yang menjadi populer.

Di masa lalu, tangga lagu seperti ZingChart atau Lan Song Xanh kerap dijadikan tolok ukur popularitas. Namun, perkembangan platform online membuat sebuah lagu dapat melesat lebih cepat: cukup ketika algoritma menyarankan lagu tersebut pada waktu yang tepat kepada audiens yang tepat—bahkan sebelum tercatat di tangga lagu konvensional.

Data Decision Lab Q1 2024 menunjukkan YouTube menjadi platform streaming musik paling populer di Vietnam, digunakan oleh 77% responden. Di bawahnya, Zing MP3 dipakai 52% responden dan Spotify 28%. Laporan ini merupakan riset pasar tahunan yang memetakan perilaku konsumsi digital, penggunaan platform, serta kebiasaan belanja online konsumen Vietnam.

Temuan lain dari studi RMIT tentang Lanskap Musik Vietnam 2025-2026 juga menegaskan keterkaitan konsumsi musik dengan ekosistem konten digital. Tiga platform yang paling banyak digunakan untuk mendengarkan musik adalah YouTube, TikTok, dan Spotify. Rata-rata masyarakat Vietnam menghabiskan 1–2 jam per hari untuk mendengarkan musik online. Dalam studi tersebut, penggunaan YouTube tercatat hampir 99,6% dan TikTok 99%, yang mengindikasikan tingginya permintaan terhadap konten musik berdurasi pendek yang menyebar melalui rekomendasi algoritmik.

Seiring perubahan kebiasaan audiens, pasar musik digital Vietnam juga terus tumbuh. Statista memproyeksikan pendapatan pasar musik digital Vietnam mencapai lebih dari 1,37 triliun VND (sekitar 51,95 juta USD) pada 2025, naik hampir 9% dibandingkan tahun sebelumnya. Streaming musik online menyumbang lebih dari setengah pangsa pasar, mencerminkan meningkatnya permintaan sekaligus penerimaan pendengar terhadap konten yang dipersonalisasi, bukan semata mengandalkan tangga lagu umum.

Dalam praktiknya, algoritma daftar putar di Spotify maupun rekomendasi video di YouTube bukan hanya mengarahkan lagu ke audiens yang relevan, tetapi juga dapat mendongkrak jumlah pendengar dan mempercepat viralitas. Bagi musisi Vietnam, masuk ke daftar putar utama seperti Hot Hits Vietnam atau V-pop Rising, maupun muncul di YouTube Shorts, dapat memicu efek penyebaran cepat di kalangan pendengar.

Di balik perubahan ini, tren musik tidak hanya dibentuk oleh penyanyi atau artis yang tampil di depan publik. Produser musik, DJ, komposer, editor video, hingga kurator data yang memahami cara kerja algoritma ikut memengaruhi preferensi audiens. Para pelaku industri menyebut kekuatan baru ini sebagai “orang-orang di balik layar”.

Peran produser musik disebut kian menonjol dalam menentukan gaya artistik, tren suara, dan cara bercerita dalam musik. Masew (Le Tuan Anh), misalnya, disebut memiliki pengaruh kuat terhadap gaya V-pop modern melalui remix dan karya yang meraih jutaan penonton seperti “Tuy Am”. Sementara itu, 2Pillz (Pham Phu Nguyen) mewakili generasi produser muda yang memadukan berbagai genre dan mengusulkan “Vinafro”, yakni perpaduan afrobeats dengan musik tradisional Vietnam.

Produser tidak hanya menciptakan musik, tetapi juga membentuk tren audio yang berulang di berbagai platform, menjembatani koneksi antara artis, merek, dan tim teknis, serta memengaruhi bagaimana penceritaan multimedia—gabungan musik dan visual—disusun dalam video musik.

Di sisi visual, sutradara fotografi dan editor pascaproduksi menjadi penentu narasi yang menyertai musik. Ketika video musik memainkan peran strategis di YouTube dan jutaan penayangan dibutuhkan untuk masuk daftar trending, aspek visual menjadi bagian penting dari strategi penyebaran karya.

Di tengah ekosistem yang berubah cepat, kecerdasan buatan (AI) juga mulai merambah proses penciptaan musik. AI digunakan untuk membantu penulisan lagu, pembuatan aransemen, hingga membentuk daftar putar yang dikonsumsi pendengar setiap hari. Laporan dan studi terbaru yang dikutip menyebut musik yang didukung AI mencakup sekitar 20% pasar musik digital di Vietnam melalui platform streaming.

Meski AI membantu produser dan tim dalam pemodelan suara, aransemen, karya kreatif, dan optimalisasi strategi komunikasi, masukan manusia tetap dibutuhkan untuk memverifikasi nilai artistik. Perkembangan ini memperlihatkan tren musik tidak lagi semata ditentukan oleh figur yang paling terlihat, melainkan oleh interaksi antara manusia dan teknologi.

Dalam ranah estetika, salah satu arah yang disorot adalah V-folktriotisme: musik tradisional yang dimodernisasi lewat EDM atau pop, menggabungkan unsur budaya lokal dengan visi global. Konsep glocalization juga mengemuka, yakni upaya mentransformasikan musik agar tetap beridentitas Vietnam namun memiliki daya tarik internasional, tanpa bergantung pada imitasi K-pop atau gaya asing lainnya.