Bojonegoro — Editor dan penulis buku Nanang Fahrudin membagikan pengetahuan serta pengalamannya mengenai teknik menulis opini, esai, dan resensi buku kepada para guru Bimbel Gugusan Bintang YKIB. Kegiatan itu berlangsung dalam Workshop Guru di Rumah Belajar Kampung Ilmu, Desa/Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Rabu, 26 Juni 2019.
Dalam sesi berbagi, Nanang—yang akrab disapa demikian—menceritakan perjalanannya mengakrabi dunia buku, gerakan membaca, dan kegiatan tulis-menulis. Ia juga menyampaikan sejumlah tips untuk menumbuhkan kegemaran membaca dan menulis.
Nanang mengisahkan ketertarikannya pada buku mulai tumbuh sejak masa kuliah di Malang. Saat itu, ia memiliki teman yang rutin mengajaknya membaca dan membedah buku. Meski awalnya merasa jengkel, kebiasaan tersebut perlahan membuatnya menyukai buku dan membaca. Menurutnya, pengaruh teman dapat sangat kuat dalam membentuk kebiasaan membaca maupun menulis.
Sejak itu, Nanang semakin aktif membaca dan melakukan kampanye membaca buku. Sepulang ke Bojonegoro, ia mendirikan komunitas buku Sindikat Baca dan Atas Angin. Ia juga menerbitkan sejumlah buku, di antaranya Lampu Merah Cap Indonesia, Buku yang Membaca Buku, dan Bodjonegoro Tempoe Doelo. Selain itu, ia mendirikan penerbit bernama Nuntera untuk mendorong karya tulis warga Bojonegoro agar dapat diterbitkan dan dikenal lebih luas.
Kepada para guru peserta workshop, Nanang mendorong agar mereka mulai menulis dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia menyarankan peserta menetapkan target tertentu, baik dalam membaca maupun menulis. Salah satu contoh yang ia berikan adalah menuliskan pengalaman pertama kali mengajar siswa.
Dalam materi teknik menulis, Nanang menjelaskan bahwa opini merupakan tulisan tentang topik tertentu yang memuat pendapat pribadi penulis, dengan jarak antara penulis dan persoalan yang dibahas. Namun, ia menekankan opini yang baik seharusnya disertai data atau, bila perlu, riset mendalam agar dapat mengusulkan pemecahan masalah.
Sementara itu, esai disebutnya lebih ringan dan fleksibel karena memungkinkan penulis memasukkan pengalaman pribadi ke dalam pembahasan sebuah topik. Meski demikian, esai yang baik tetap perlu didukung data atau fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
Adapun resensi buku, kata Nanang, adalah tulisan yang mengulas kelebihan dan kekurangan sebuah buku disertai rekomendasi dari penulis resensi. Resensi juga dapat berupa penceritaan ulang isi buku sambil menilai aspek-aspek yang menjadi kekuatan maupun kelemahannya.
Salah satu peserta workshop, Anna Fitriya, mengaku memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru terkait membaca dan menulis. Ia mengatakan lebih sering membaca artikel yang muncul melalui laman pencarian di telepon genggamnya, namun terkadang kesulitan membedakan tulisan yang benar dengan yang palsu atau hoaks.

