Peringatan Hari Gizi dan Makanan yang jatuh pada 25 Januari tahun ini dinilai terasa berbeda di tengah peluncuran Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Alih-alih hanya diwarnai optimisme, publik dikejutkan oleh kabar kasus keracunan pangan yang memunculkan kegelisahan dan pertanyaan tentang tata kelola keamanan makanan dalam program tersebut.
Dalam pandangan penulis, peristiwa itu menjadi pengingat bahwa gizi tidak semata urusan angka dalam tabel nutrisi, melainkan menyangkut keselamatan jiwa. Ketika makanan yang semestinya menumbuhkan kesehatan justru menimbulkan dampak buruk, muncul tanggung jawab moral sekaligus spiritual yang perlu direnungkan bersama.
Penulis menyoroti anggaran MBG yang disebut mencapai triliunan rupiah sebagai amanah publik. Dalam perspektif Islam, setiap dana yang dikelola dipandang akan dimintai pertanggungjawaban. Memberi makan orang lain disebut sebagai ibadah, namun ketika makanan yang disalurkan tidak aman, kelalaian dapat berujung pada persoalan sosial yang lebih luas.
Di titik ini, penulis mengaitkan pentingnya prinsip halal dan thayyib. Halal dipahami sebagai ketentuan yang tidak melanggar hukum agama, sementara thayyib menekankan aspek kesehatan, kebersihan, dan kemaslahatan. Penulis mengutip pesan Al-Qur’an, “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi” (QS. Al-Baqarah: 168), serta mengingatkan bahwa kesehatan fisik berkaitan dengan kekuatan seorang mukmin.
Kasus keracunan dalam program MBG, menurut penulis, perlu dijadikan cermin evaluasi. Pemerintah didorong memperketat pengawasan, memastikan penyedia makanan mematuhi standar halal dan thayyib, serta membuka ruang transparansi terkait kualitas dan keamanan pangan. Di saat yang sama, masyarakat dinilai perlu diedukasi agar turut berperan menjaga pola makan sehat, menghindari pemborosan, dan menumbuhkan rasa syukur atas nikmat pangan.
Penulis juga menilai institusi pendidikan dan lembaga keagamaan memiliki peran strategis untuk mengaitkan edukasi gizi seimbang dengan nilai ibadah, pembentukan karakter, dan ketahanan bangsa. Kesehatan jasmani disebut bukan semata urusan medis, melainkan fondasi bagi kekuatan spiritual dan sosial.
Lebih jauh, Hari Gizi dan Makanan dinilai tidak semestinya berhenti sebagai peringatan seremonial tahunan. Momentum ini, menurut penulis, perlu dimaknai sebagai penguatan komitmen bahwa setiap pemenuhan gizi adalah amanah. Kasus keracunan MBG dipandang sebagai pelajaran bahwa memberi makan masyarakat bukan hanya persoalan logistik dan anggaran, tetapi juga menyangkut iman dan tanggung jawab kemanusiaan.

