BERITA TERKINI
Opini: Penulis Kritik Dugaan Kedekatan Prabowo dengan Agenda Israel dan Serukan Sikap Tegas Pro-Palestina

Opini: Penulis Kritik Dugaan Kedekatan Prabowo dengan Agenda Israel dan Serukan Sikap Tegas Pro-Palestina

Seorang penulis opini, M Rizal Fadillah, menyoroti penolakan terhadap keterlibatan Israel dalam agenda olahraga internasional yang menurutnya juga terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia. Ia menyebut seruan boikot terhadap produk Israel menguat, bersamaan dengan dukungan agar Israel dikenai hukuman dan pengucilan di berbagai forum.

Dalam tulisannya, ia menggambarkan Israel sebagai “musuh kemanusiaan” dan mengkritik tindakan Israel terhadap Palestina, termasuk situasi di Tepi Barat dan Gaza. Ia juga menyampaikan kecaman keras terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Penulis menegaskan bahwa Indonesia selama ini dikenal bersikap pro-Palestina, mengecam Israel, dan mendukung kemerdekaan Palestina. Menurutnya, sikap itu juga tercermin dari penolakan pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel, dengan konstitusi disebut sebagai dasar pijakan penolakan tersebut.

Namun, ia menuding Presiden terpilih Prabowo Subianto membawa Indonesia “bersahabat” dengan Israel melalui organisasi yang disebutnya bentukan Amerika, yakni “Board of Peace”. Penulis menggunakan istilah “Blood of Peace” untuk menyebut organisasi itu dan menilai terdapat agenda yang terkait kepentingan Israel.

Ia juga menyinggung peran Amerika Serikat yang menurutnya mendukung Israel, serta mengaitkan Donald Trump dengan misi tertentu yang disebutnya melibatkan pola “memeras dan memberi santunan”. Dalam narasinya, Gaza disebut dijadikan “barang dagangan” dengan target pelucutan senjata Hamas, sementara kemerdekaan Palestina dinilai bukan tujuan dan justru semakin menjauh.

Penulis berpendapat Israel, dengan dukungan Amerika, menjalankan diplomasi multilateral melalui forum yang ia sebut sebagai “klub suap-menyuap”, sekaligus membuka peluang diplomasi bilateral secara terselubung dengan negara-negara yang menjadi target. Dalam konteks itu, ia menilai Prabowo dan Indonesia rentan menjadi sasaran.

Lebih jauh, ia menyatakan bila misi tersebut berhasil, maka organisasi yang ia sebut “Blood of Peace” dapat menjadi instrumen untuk memengaruhi Indonesia dengan “menyandera” Prabowo. Ia kemudian menyimpulkan rakyat Indonesia akan berada pada posisi berhadapan dengan pemimpin yang dinilainya telah terjerat kepentingan Amerika dan Israel.

Dalam bagian akhir, penulis menyerukan perlawanan dan menyebut kesiapan umat Islam untuk berjihad. Ia mengaitkan seruan itu dengan bulan Ramadhan yang disebutnya sebagai “syahrul jihad” dan menyebutnya bertepatan dengan awal sidang organisasi yang ia kritik.

Ia juga meminta para pemimpin umat—kiai, ulama, habaib, pimpinan organisasi kemasyarakatan, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI)—untuk “menata posisi diri”, bangkit berjuang dengan sungguh-sungguh, serta tidak “terjebak di lantai 40 bunderan HI”. Tulisan tersebut ditutup dengan kutipan QS At-Taubah ayat 41.