Pameran bertajuk Bestselling and Beloved: Korean Literary Treasures digelar di Korean Cultural Center UK (KCC UK) dan mengajak pengunjung menelusuri perkembangan sastra Korea sejak masa awal hingga era modern. Wartawan Kehormatan Monthi Rosselini dari Indonesia mengunjungi pameran tersebut pada 28 Januari 2025 untuk melihat rangkaian tema yang disusun sebagai upaya menggali inti sastra Korea melalui karya-karya dari berbagai periode.
Salah satu bagian pameran mengangkat tema Timeless Masterpieces (Maha Karya yang Abadi), yang membawa pengunjung ke akar sastra Korea pada akhir abad ke-17. Di area ini dijelaskan bahwa sebelum hangeul ditemukan, masyarakat Korea menggunakan aksara Tiongkok untuk menuangkan gagasan dan emosi dalam tulisan. Setelah hangeul diciptakan, semakin banyak orang yang mempelajarinya mulai terlibat dalam dunia sastra, baik sebagai pembaca maupun pencipta karya.
Pameran juga menyoroti perkembangan sastra pada pertengahan hingga akhir Dinasti Joseon (1392–1910), ketika kaum bangsawan mulai menghasilkan karya menggunakan hangeul. Pada masa ini, sastra Korea berkembang dalam genre universal seperti puisi dan novel, sekaligus mempertahankan bentuk-bentuk khasnya, antara lain hyangga, Goryeo gayo, sijo, gasa, dan pansori. Hyangga dipaparkan sebagai puisi beraksara Tiongkok yang populer pada masa Kerajaan Silla (57 SM–935 M) hingga awal Dinasti Goryeo (918–1392). Sementara Goryeo gayo merupakan syair lagu dari era Dinasti Goryeo. Adapun sijo dan gasa dijelaskan sebagai bentuk puisi tradisional Korea, sedangkan pansori adalah seni penceritaan tradisional yang disampaikan melalui nyanyian.
Periode penjajahan Jepang (1910–1945) turut mendapat perhatian, dengan penekanan pada berkembangnya unsur perlawanan dan emosi dalam karya sastra, terutama pada 1930-an dan 1940-an. Di salah satu dinding pameran, ditampilkan puisi Yoon Dong-ju berjudul “Foreword” yang disebut mencerminkan realitas rakyat Korea saat kekacauan terjadi di masa penjajahan. Dalam liputan ini, Monthi Rosselini menuliskan bahwa ia teringat pada karya-karya Yoon Dong-ju serta kisah perjuangannya setelah sebelumnya pernah mengunjungi museum Yoon Dong-ju ketika berada di Korea.
Masih di ruang yang sama, pameran berlanjut ke tema The Future of Korean Books (Masa Depan Buku-buku Korea). Di bagian ini, pengunjung dapat melihat setumpuk buku Tale of Hong Gildong yang dipamerkan dan dapat dibaca secara bebas. Pameran menjelaskan bahwa pada abad ke-21, sastra Korea mengalami perubahan signifikan dari sisi genre dan tema, dengan minat besar terhadap fiksi ilmiah, fantasi, cerita seru, dan romansa. Seiring masuknya era globalisasi, sastra Korea juga berkembang di luar negeri dan sejumlah karya, termasuk The Tale of Hong Gildong dan The Tale of Shim Cheong, telah diterjemahkan.
Pameran mencatat bahwa meningkatnya minat terhadap sastra Korea di luar negeri turut melatarbelakangi pembentukan Institut Penerjemahan Sastra Korea di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata pada 1995. Sekitar 2010, gelombang hallyu berkembang melalui musik, film, dan drama, yang disebut mendorong penerbitan sastra Korea tumbuh pesat.
Bagian lain pameran mengangkat tema Nobel Laureate Han Kang (Pemenang Nobel Han Kang), menampilkan sejumlah buku terlaris Han Kang seperti The Vegetarian, Human Acts, dan Greek Lessons. Di dinding pameran juga dipaparkan perjalanan karier Han Kang, mulai dari kemenangannya dalam kontes Sastra Musim Semi Seoul Sinmun pada 1994 hingga pencapaian penghargaan di berbagai negara. Informasi lain menyebut Han Kang pernah bekerja sebagai dosen di Departemen Penulisan Sastra Institut Seni Seoul hingga 2018 sebelum mendedikasikan diri sepenuhnya pada kepenulisan. Disebutkan pula bahwa karya-karyanya kini telah diterbitkan dalam lebih dari 30 bahasa.
Dalam catatannya, Monthi Rosselini menilai waktu satu hari belum cukup untuk menikmati seluruh buku yang dipajang dan dapat dibaca bebas di pameran tersebut. Secara keseluruhan, pameran ini disebut membuka wawasan tentang bagaimana sastra Korea lahir dan berkembang hingga diterima dan diminati secara global. Pameran Bestselling and Beloved: Korean Literary Treasures berlangsung di KCC UK hingga 21 Maret 2025 dan dapat dikunjungi tanpa biaya.

