BERITA TERKINI
Pameran “Mimpi di Tengah Bunga Senja” Hadirkan Tafsir Le Trang atas Warisan Hue

Pameran “Mimpi di Tengah Bunga Senja” Hadirkan Tafsir Le Trang atas Warisan Hue

Ruang pameran “Mimpi di Tengah Bunga Senja” di Museum Seni Rupa Hanoi menyambut pengunjung dengan nuansa feminin melalui hamparan bunga musim semi dan deretan 36 lukisan minyak yang dipajang di dinding. Pameran ini menampilkan karya seniman perempuan Le Trang yang dikurasi dari empat koleksi: Warisan Hue, Keibuan, Rumah, dan Benda Mati.

Dalam pameran tersebut, Le Trang menempatkan warisan Hue—kota kelahirannya—sebagai salah satu poros utama. Karyanya disebut dipengaruhi aliran Sintesis abad ke-19, ketika warna dan bentuk tidak semata mereproduksi realitas, melainkan menjadi perpaduan dengan emosi batin. Ia melapiskan banyak warna di atas kanvas untuk membentuk permukaan yang terasa kuno sekaligus modern, dengan kesan cemerlang tanpa terlihat keras.

Rangkaian karya bertema warisan menampilkan citra-citra budaya Vietnam yang disaring melalui kenangan masa kecil di tepi Sungai Perfume yang berkabut. Di antaranya ao dai Hue berwarna ungu yang diposisikan sebagai simbol kelembutan, kedalaman jiwa, dan karakter khas Vietnam; arsitektur ibu kota kuno berupa dinding berlumut dan atap genteng yang khidmat; serta gambaran rumah yang dihadirkan lewat citra burung yang menatap sarangnya sebagai simbol kerinduan pada kedamaian dan keterhubungan dengan akar.

Sejak musim gugur 2024 hingga saat ini, karya Le Trang tercatat terus dipamerkan dalam sejumlah pameran di London (Inggris), Florence (Italia), dan Paris (Prancis). Seusai mengamati pameran “Mimpi di Tengah Bunga Senja”, Profesor Madya Dr. Nguyen The Ky, Wakil Ketua Dewan Teoretikus Pusat dan Kepala Komite Kritik Sastra dan Seni, menilai lukisan Le Trang dengan jelas mencerminkan tanah dan masyarakat Vietnam. Menurutnya, unsur-unsur tersebut membentuk identitas budaya yang memungkinkan penonton mengenali dasar budaya Vietnam ketika melihatnya di dunia.

Le Trang lahir pada 1987 di Hue dan kini tinggal serta bekerja di Kota Ho Chi Minh. Ia memandang melukis sebagai cara menemukan keseimbangan di tengah berbagai peran perempuan dalam masyarakat modern. Dalam proses kreatifnya, ia tidak mengejar kesempurnaan yang kaku, melainkan berupaya menghadirkan “kehangatan hal-hal sederhana.”

Melalui pameran ini, Le Trang juga menyampaikan keinginan menghadirkan pendekatan multisensori, dengan harapan publik—terutama kaum muda—tidak hanya “melihat lukisan”, tetapi turut merasakan resonansi emosional dari aroma, cahaya, dan kenangan. Kurator Dot Zihan Jia (Master Sejarah Seni, London) menilai, lewat lapisan warna, Le Trang memadukan berbagai cerita yang mengajak orang merenungkan masa lalu dan kompleksitas ingatan.

“Mimpi di Tengah Bunga Senja” diposisikan sebagai tonggak personal bagi Le Trang sekaligus penegasan bahwa pencarian identitas artistik yang tekun dapat membuat suara yang lembut sekalipun bergema lebih luas dalam lanskap seni dunia.