BERITA TERKINI
Pameran Musim Semi Nasional 2026 Dianggap Jadi Jembatan Kerajinan Tradisional dengan Kehidupan Modern

Pameran Musim Semi Nasional 2026 Dianggap Jadi Jembatan Kerajinan Tradisional dengan Kehidupan Modern

Pameran Musim Semi Nasional 2026 diproyeksikan tidak hanya menjadi ajang memamerkan dan memperkenalkan produk, tetapi juga ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Dalam persiapan menuju acara budaya dan komersial yang disebut kaya identitas Vietnam itu, peran pameran dinilai semakin penting dalam menghubungkan kerajinan tradisional dengan kehidupan kontemporer.

Pengrajin Dang Dinh Thuong, yang sebelumnya berpartisipasi dalam Pameran Musim Gugur pertama pada 2025 dan diharapkan kembali ikut serta pada 2026, menilai pameran semacam ini dapat membuat warisan kerajinan “hidup” di tengah ritme masyarakat masa kini. Menurutnya, kerajinan tidak hanya diperlihatkan lewat produk akhir, tetapi juga melalui proses pembuatan, tangan para pengrajin, serta cerita dan ingatan yang menyertainya.

Ia menekankan bahwa kehadiran pengrajin secara langsung membantu masyarakat memahami kedalaman budaya dan nilai kerja di balik setiap produk. Selain itu, pameran musim semi dinilai menjadi ruang bertemunya berbagai kelompok usia—dari orang tua hingga anak-anak—yang memungkinkan terjadinya pengalaman, pertukaran, dan dialog.

“Melalui pengalaman, pertukaran, dan dialog, kerajinan tradisional secara bertahap melepaskan citra kunonya dan menjadi lebih mudah diakses oleh kehidupan modern,” ujarnya. Ia menambahkan, nilai tradisional tidak semestinya berhenti sebagai bagian dari masa lalu, tetapi dapat beradaptasi, berubah, dan menyebar secara alami serta berkelanjutan dalam masyarakat kontemporer.

Dalam konteks kerajinan mainan tradisional tò he, Dang Dinh Thuong melihat pameran sebagai “jembatan” yang dapat menjaga nilai inti sekaligus membuka peluang dialog dengan selera masa kini. Ia menilai pelestarian esensi tradisional tetap menjadi hal utama, mulai dari bahan, teknik memahat, hingga citra rakyat yang terkait dengan ingatan budaya masyarakat Vietnam.

Menurutnya, ketika nilai-nilai itu disajikan secara jelas dan autentik, publik akan memahami bahwa tò he bukan sekadar mainan, melainkan bagian dari warisan budaya yang hidup. Di saat yang sama, interaksi langsung dengan pengunjung—terutama anak-anak dan kaum muda—dapat menjadi masukan bagi perajin untuk membuat desain yang lebih dekat dengan kehidupan kontemporer tanpa meninggalkan teknik dan semangat tradisi.

Ia juga berharap penyelenggaraan Pameran Musim Semi Nasional 2026 dilakukan secara profesional, berskala besar, dan memiliki kekhasan agar mampu menarik lebih banyak pengunjung, termasuk wisatawan internasional. Dengan skala dan pengelolaan yang baik, ia menilai nilai desa-desa kerajinan tradisional dapat diperkenalkan lebih lengkap, tidak hanya melalui produk, tetapi juga lewat demonstrasi keterampilan.

“Ketika ruang pameran benar-benar menarik, jumlah pengunjung akan meningkat, sehingga berkontribusi untuk mempromosikan citra desa kerajinan, sekaligus mendukung pendapatan tambahan dan menciptakan motivasi bagi para pengrajin untuk tetap tinggal dan terus melestarikan serta mengembangkan kerajinan tradisional mereka,” katanya.

Lebih jauh, Dang Dinh Thuong berharap pameran budaya diakui sebagai bagian penting dari ekosistem pengembangan desa kerajinan, bukan sekadar acara sesaat. Ia menilai pameran perlu menciptakan pasar nyata bagi produk kerajinan, sehingga perajin dapat memperkenalkan dan menjual karya mereka serta terhubung langsung dengan konsumen.

Ia juga menyoroti peran pameran dalam meningkatkan status sosial perajin. Ketika perajin dihormati dan diberi ruang untuk berbagi kisah, mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga menyampaikan nilai budaya, sejarah, dan spiritual yang melekat pada tiap desa kerajinan. Hal ini dinilainya dapat mendorong produk kerajinan dipandang sebagai produk budaya dengan nilai tambah.

Dalam jangka panjang, ia berharap pameran semacam ini mampu menghubungkan berbagai pemangku kepentingan—mulai dari perajin, penyelenggara, hingga pihak distribusi, pariwisata, dan pendidikan berbasis pengalaman—agar terbentuk ekosistem yang menopang pelestarian warisan budaya sekaligus menyediakan mata pencaharian yang lebih stabil bagi para perajin serta mendorong generasi muda melanjutkan tradisi.