EDSU House membuka ruangnya untuk Payau, pameran tunggal terbaru seniman Iwan Yusuf. Judul pameran ini merujuk pada “payau”, pertemuan air tawar sungai dan air asin laut, yang digunakan sebagai metafora sekaligus benang merah bagi karya-karya yang ditampilkan.
Dalam pameran ini, Iwan memindahkan elemen yang lazim ditemui di laut ke dalam kubus putih galeri. Jaring pukat harimau bekas—material yang akrab dalam keseharian nelayan—dipasang ulang sebagai objek seni. Perpindahan konteks tersebut tidak semata menghadirkan daya tarik visual, tetapi juga mengubah fungsi dan tafsir jaring itu sendiri.
Salah satu karya yang menonjol dipajang di Ruang DUHU. Karya tersebut dibentangkan pada bidang berukuran 300 x 508 cm, dengan bentuk menyerupai pusaran, seolah sebuah siklon menggantung di hadapan pengunjung. Dari jarak tertentu, karya itu tampak seperti gambar pada dinding. Namun ketika didekati, lapisan-lapisan jaring membuka dimensi lain: bentuk yang meruang, berjarak, dan mendorong mata menilai ulang apakah yang dilihat berada dalam ranah dua dimensi atau tiga dimensi.
Payau juga merangkum perjalanan dua dekade praktik Iwan, dari lukisan hiper-realis dan patung hingga land art. Dalam pameran ini, jaring ditempatkan sebagai bahasa visual utama—pilihan yang menyentuh sisi personal sekaligus kolektif.
Iwan lahir di Gorontalo, kota pesisir yang berada di antara Teluk Tomini dan Laut Sulawesi. Pengalaman tentang muara menjadi memori yang terus kembali dalam karyanya. “Sebenarnya ide awalnya dari muara, di mana itu memori saya selama 20 tahun, jauh di daerah Gorontalo,” tuturnya, menjelaskan awal gagasan yang kini dihadirkan di EDSU House.
Proses kerja Iwan dimulai dari gambar arang di atas kertas, lalu direkonstruksi ke skala besar. Lapis demi lapis jaring disusun untuk menciptakan ilusi yang ambigu: tampak datar dari kejauhan, tetapi terasa ruangnya ketika pengunjung mendekat, sehingga karya berada di ambang lukisan dan instalasi.
Penyelenggara menyebut pameran ini bukan hanya menawarkan pengalaman visual, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara karya, pembuat, dan penonton, sekaligus memberi kontribusi kecil bagi ekosistem seni rupa lokal dan ekonomi kreatif.
Payau dipamerkan di EDSU House, Jalan Kaliurang Km 5,5 No.72, Sleman, Yogyakarta, pada 21 November 2025 hingga 1 Februari 2026.

