BERITA TERKINI
Pemkot Surabaya Genjot Program Jago Centing untuk Tekan Stunting, Peran Orang Tua Dinilai Krusial

Pemkot Surabaya Genjot Program Jago Centing untuk Tekan Stunting, Peran Orang Tua Dinilai Krusial

Pemerintah Kota Surabaya menjadikan penurunan angka stunting sebagai salah satu prioritas kesehatan yang segera ditangani. Untuk menekan kasus anak dengan gangguan tumbuh kembang yang membuat tinggi badan lebih pendek dibanding anak seusianya, pemkot menggagas program Jagongan Cegah Stunting (Jago Centing).

Dalam beberapa bulan terakhir, kader kesehatan di kampung-kampung terlihat semakin aktif, terutama di wilayah yang terdapat balita yang ditengarai mengalami stunting. Berdasarkan data terakhir Pemkot Surabaya, tercatat ada 1.785 anak stunting. Angka tersebut dinilai besar untuk kota sekelas Surabaya yang berstatus metropolitan.

Melalui Jago Centing, pemkot melibatkan berbagai pihak untuk menangani stunting secara bersama-sama, termasuk memetakan penyebab dan merumuskan solusi. Program ini digelar di wilayah dengan angka stunting tinggi. Terdapat 10 kelurahan dengan kasus tertinggi, yakni Wonokusumo, Pegirian, Sidotopo Wetan, Tanah Kali Kedinding, Bulak Banteng, Morokrembangan, Putat Jaya, Lontar, Asemrowo, dan Babat Jerawat. Di Kecamatan Kenjeran, tiga kelurahan yang masuk daftar tersebut adalah Sidotopo Wetan, Tanah Kali Kedinding, dan Bulak Banteng.

Pemkot menilai stunting dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi keluarga, gizi ibu saat hamil, penyakit bawaan pada anak, hingga pola asuh dan lingkungan. Karena itu, intervensi dilakukan melalui berbagai jalur, termasuk pemberian kemudahan akses kesehatan dan bantuan makanan agar tumbuh kembang anak kembali normal. Puskesmas, kader kesehatan, hingga perguruan tinggi juga dilibatkan dalam pendampingan dan pengawasan.

Pemkot Surabaya bahkan memasang target zero stunting dalam tiga bulan mendatang. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersama Ketua TP PKK Kota Surabaya Rini Indriyani turut turun langsung ke wilayah dengan kasus stunting tinggi sebagai bagian dari penguatan upaya penanganan.

Di tengah beragam intervensi, aspek yang dinilai mendasar tetap berada pada kesadaran orang tua mengenai pentingnya kesehatan anak. Alasan ekonomi kerap disebut sebagai hambatan pemenuhan gizi, namun kebutuhan gizi anak disebut tidak selalu harus mahal. Sumber protein hewani, misalnya, tidak harus selalu dari daging, tetapi bisa diganti dengan telur maupun ikan.

Orang tua, khususnya ibu, didorong untuk mengolah dan memvariasikan bahan makanan yang terjangkau namun bernilai gizi cukup. Upaya menarik minat anak untuk makan juga menjadi perhatian, misalnya dengan penyajian yang lebih menarik. Ketika anak tidak mau makan, orang tua diimbau mencari cara lain tanpa memarahi atau memukul. Selain itu, saat anak sakit, orang tua disarankan segera membawa anak ke dokter agar mendapatkan penanganan sejak dini.

Langkah lain yang disoroti adalah berhenti merokok. Meski tidak merokok di dalam rumah, asap rokok dapat menempel pada pakaian dan berisiko terhirup anak, sehingga membahayakan kesehatannya.

Pencegahan stunting juga ditekankan sejak masa kehamilan. Pemeriksaan rutin ke bidan atau dokter, disertai konsumsi makanan bergizi serta vitamin, disebut dapat membantu mencegah anak terlahir dalam kondisi stunting.