Pendeta Anglikan Stanley Underhill mengungkapkan bahwa dirinya gay pada usia 91 tahun, setelah puluhan tahun menyembunyikan orientasi seksualnya dari keluarga, lingkungan, dan bahkan dari keyakinannya sendiri. Dalam kisah hidupnya, Underhill menggambarkan bagaimana tekanan sosial dan pandangan agama pada masanya membuatnya merasa harus tampil sebagai “laki-laki normal”.
“Saya terlahir sebagai homoseksual. Saya tidak memilih untuk menjadi seperti itu. Saya telah menghabiskan banyak waktu hidup saya berharap bahwa saya lahir normal,” kata Underhill. Ia menuturkan sejak kecil sudah merasa berbeda dari teman sebayanya, tetapi tidak memiliki ruang untuk bercerita. Ia juga mengatakan baru memberi tahu adik laki-lakinya bahwa ia gay ketika menulis buku pada 2018. Saat itu Underhill berusia 91 tahun, dan adiknya dua tahun lebih muda. “Dan dia tidak marah,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia berharap bisa mengatakannya lebih awal, meski tidak yakin keluarganya akan menerima pada masa itu.
Dalam otobiografinya, Underhill menulis bahwa ia tumbuh di dunia yang “kejam, fanatik, dan tidak peduli”, penuh prasangka, kemiskinan, dan perbedaan kelas. Ia hidup di era ketika menjadi gay masih dianggap melanggar hukum dan dipandang sebagai “kekejian terhadap Tuhan”. Karena itu, ia memilih menyembunyikan jati dirinya. “Saya secara sadar menekan homoseksualitas saya—dari diri saya, dari orang lain dan dari Tuhan,” tulisnya.
Underhill menggambarkan masa kecilnya sebagai periode yang sulit. Ia menyebut dirinya pemalu, sementara orang tuanya sangat kolot sehingga tidak ada kesempatan membicarakan orientasi seksual. “Saya tidak tahu diri saya. Saya merasakannya tapi saya tidak bisa menjelaskannya, dan tidak ada yang menerangkan hal itu kepada saya,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa istilah “homoseksual” kala itu tidak menjadi bagian dari perbendaharaan kata mereka.
Ayahnya bekerja di pabrik produsen alat elektronik dengan upah rendah, membuat keluarga mereka hidup serba terbatas. Underhill menggambarkan hubungan dengan ayahnya sebagai rangkaian perintah dan teguran. “Saya rasa dia membenci saya. Dia tidak bisa mengungkapkan alasannya,” katanya. Hubungannya dengan sang ibu juga ia nilai tidak biasa; ibunya kerap mempertanyakan gagasan atau pandangannya dengan kalimat, “Dari mana kamu mendapat ide ini?” Di sekolah, Underhill juga mengalami perundungan.
Ketertarikan Underhill pada pria mulai ia sadari ketika belajar berenang. Dalam autobiografinya, ia menulis bahwa tubuh pelatih renangnya menarik perhatian, terutama ketika sang pelatih menyelam. Saat berusia 18 tahun, Underhill bergabung dengan Angkatan Laut sebagai perawat dalam masa wajib militer. Setelah Perang Dunia II, ia bertugas di HMS Queen, kapal yang mengangkut para istri tentara Amerika.
Di kapal itu, sebuah peristiwa menjadi titik balik emosional. Seorang penumpang perempuan terjatuh dan kakinya patah; Underhill dipanggil untuk merawatnya, namun ia pingsan saat melihat darah. Seorang pria bernama Alex kemudian ditugaskan menggantikan. Underhill mengenang momen ketika ia sadar dan melihat Alex memandangnya. “Namun mata kami berpapasan dan saya jatuh cinta kepadanya,” ujarnya.
Pada 1948, setelah menyelesaikan tugasnya di Angkatan Laut, Underhill menerima tawaran dari ayah Alex untuk bekerja sebagai akuntan tanpa bayaran. Ia menyebut hubungannya dengan Alex “sangat luar biasa” dan pada masa itu ia tidak memikirkan bahwa hubungan tersebut melanggar hukum atau dianggap tidak wajar. Namun ketika Underhill ingin hidup bersama Alex, ia mendapati bahwa hal tersebut dipandang tidak bisa diterima. Ayah Alex memintanya berhenti bekerja dan pergi, sementara Alex mulai berubah sikap.
Menurut Underhill, mereka mulai membaca kitab suci, dan Alex sampai pada kesimpulan bahwa hubungannya dengan Underhill adalah sesuatu yang “jahat”. Alex kemudian menjalin hubungan dengan seorang perempuan, meski masih berada dalam relasi intim dengan Underhill. Pada 1952, Alex memutuskan menikahi perempuan tersebut dan meminta Underhill menjadi pendamping pria dalam pernikahan.
“Itu mengerikan. Itu lebih dari sekadar penolakan. Saya dilemparkan ke dalam kekacauan,” kata Underhill. Ia menyebut Alex kemudian menyarankan terapi konversi. Underhill menceritakan sebuah peristiwa ketika Alex mengumpulkan beberapa teman dan membujuk mereka meletakkan tangan pada Underhill sambil berdoa. “Dia memanggil Jesus untuk memerintahkan setan di dalam diri saya keluar dan membebaskan saya dari sifat-sifat homoseksual,” ujarnya. Underhill mengatakan pengalaman itu membuatnya merasa lebih buruk, hingga ia kembali ke dokter dan berkata, “Saya tidak cocok dengan dunia ini—biarkan saya keluar dari sini.”
Ia mengalami periode depresi dan sempat berniat bunuh diri. Underhill juga menjalani terapi kejut listrik. Ia berusaha melawan dorongan pribadinya dan, untuk sementara waktu, berhenti mencoba menjalin relasi dengan para pemuda yang ia temui. Ia mengaku sangat ingin mengubah seksualitasnya, memohon kepada Tuhan, namun tidak berhasil. Pada akhirnya, ia mengatakan hampir semua temannya—kecuali satu—menjauh setelah kabar tentang orientasi seksualnya menyebar. Ia menjual rumahnya dan sempat kembali tinggal bersama ibunya.
Underhill menjalani sebagian besar hidupnya di tengah homofobia yang melembaga di Inggris dan Kerajaan Inggris. Homoseksualitas baru didekriminalisasi di Inggris dan Wales pada 1967. Dalam kisahnya, Underhill juga menyinggung matematikawan Alan Turing yang pada 1952 didakwa atas tudingan ketidaksenonohan karena memiliki hubungan dengan pria lain. Turing memilih terapi hormon untuk menghindari penjara dan meninggal dua tahun kemudian, yang dicurigai karena bunuh diri. Underhill sendiri mengatakan ia juga harus menerima suntikan hormon testosteron setelah upaya “pengusiran setan” yang gagal, namun menurutnya hal itu justru meningkatkan frustrasi seksualnya.
Setelah pindah ke London, Underhill mengaku bertemu banyak pria gay, tetapi ia kesulitan membangun hubungan yang serius. “Saya mengalami jatuh cinta dan beberapa hubungan intim dengan pria lain, namun tidak ada yang serius,” ujarnya. Ia kemudian bekerja sebagai akuntan, tetapi kembali menghadapi perlakuan merendahkan di tempat kerja karena orientasi seksualnya. Ia pun memutuskan meninggalkan pekerjaan itu dan mengikuti panggilan untuk menjadi pendeta.
Keputusan tersebut muncul di tengah kenyataan bahwa gereja memainkan peran penting dalam membentuk opini publik yang menentang penerimaan homoseksualitas. Underhill menilai akar masalahnya adalah penafsiran yang keliru atas tulisan suci. Sejak kecil ia bersekolah di Sekolah Minggu dan melihat Yesus sebagai panutan. Ia mengatakan terpesona pada gambaran Yesus dalam Injil sebagai sosok yang menentang naluri kesukuan dan membela yang tertindas. Sebuah drama radio tentang kehidupan Yesus, The Man Born to be King, juga disebutnya memberi pengaruh besar. “Aku diam-diam memintanya menjadi teman dan pembimbingku dalam hidup,” tulisnya.
Ketika mendekati usia 50 tahun, Underhill bergabung dengan masyarakat Santo Fransiskus, sebuah ordo Anglikan, karena ia mendapati komunitas itu sebagai ruang yang menurutnya bebas homofobia. Ia belajar selama tiga tahun di Canterbury School of Ministry dan kemudian bertugas di beberapa tempat tanpa membuka jati dirinya. Ia mengaku tidak siap mengungkapkan orientasi seksualnya karena apa yang ia sebut sebagai kemunafikan otoritas gereja.
Dalam perjalanannya sebagai pendeta, Underhill pernah menghadapi ancaman dari seorang imam yang disebutnya ingin mengekspos dirinya. Ia bertahan karena merasa orang tersebut tidak memiliki bukti, hanya kecurigaan. Meski tidak sampai terbongkar, pengalaman itu menyadarkannya bahwa menyembunyikan orientasi seksual dapat menjadi celah untuk pemerasan.
Underhill menyatakan gereja telah melewatkan kesempatan untuk menunjukkan kasih dan pemahaman kepada pria gay. Kini ia tinggal di rumahnya di London dan mengaku bahagia melihat perubahan sosial terhadap homoseksualitas. “Itu adalah kebebasan, pada akhirnya,” katanya. Namun ia juga menyampaikan penyesalan yang masih tersisa. “Saya sangat menyesal bahwa saya kehilangan kehidupan seks yang normal, sesuatu yang menyebabkan saya sangat frustrasi,” ujarnya.

