Hengki Herwanto, pendiri Museum Musik Indonesia (MMI) di Kota Malang, meninggal dunia pada usia 69 tahun. Hengki mengembuskan napas terakhir pada Selasa (3/3) di RS Mayapada Surabaya setelah menjalani perawatan selama 18 hari akibat kanker hati.
Sosok yang dikenal dengan ikat kepala khas itu selama bertahun-tahun mendedikasikan hidupnya untuk merawat jejak sejarah musik. Ia mengumpulkan kaset, CD, majalah musik, buku, hingga piringan hitam dari berbagai era dan genre, bukan semata sebagai hobi, melainkan upaya agar dokumentasi musik tidak hilang ditelan zaman.
Upaya tersebut mulai terwadahi pada 2009 ketika Hengki bersama rekan sehobi mendirikan Galeri Malang Bernyanyi (GMB) di Jalan Puncak Borobudur, Perum Griya Shanta, Kota Malang. Dari ruang sederhana, koleksi yang terus bertambah perlahan menjadikan tempat itu pusat dokumentasi musik. GMB kemudian menjadi rujukan beragam kalangan, mulai pelajar hingga akademisi, yang datang untuk belajar dan melakukan penelitian.
Seiring perkembangan koleksi, GMB bertransformasi menjadi Museum Musik Indonesia pada 2015. Pada 2016, MMI resmi diakui dan mendapat dukungan Pemerintah Kota Malang dengan menempati lantai dua Gedung Kesenian Gajayana. Peresmian dilakukan oleh Badan Ekonomi Kreatif RI pada tahun yang sama.
Koleksi MMI disebut berasal dari lebih dari 100 negara, mencakup beragam arsip dan perangkat musik, mulai gramofon klasik hingga alat musik seperti okarina. Sejumlah tokoh turut menyumbangkan koleksi, di antaranya musisi Iwan Fals dan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.
Dedikasi Hengki juga mendapat pengakuan pada 2021 ketika dokumentasi 100 album musik Nusantara masuk program Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MOWCAP) UNESCO. Dalam sebuah wawancara pada periode tersebut, Hengki menyatakan motivasinya adalah memperkenalkan tradisi Indonesia kepada masyarakat, terutama masyarakat dunia.
Selain dikenal sebagai pendiri MMI, Hengki tercatat sebagai anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang. Lahir pada 26 Februari 1957, mantan jurnalis itu pernah menyampaikan keinginannya menghabiskan sisa usia di dunia musik sebagai penjaga sejarah di balik panggung.
Kepergiannya meninggalkan warisan berupa ribuan rekaman dan arsip yang tersusun di MMI, lantai dua Gedung Kesenian Gajayana. Museum tersebut menjadi jejak dari kerja panjang Hengki Herwanto dalam merawat ingatan kolektif perjalanan musik Indonesia.

