BERITA TERKINI
Penulis Kompasiana Curhat: 86 Ribu Pembaca, Namun Sebagian Besar Artikel Sepi Respons

Penulis Kompasiana Curhat: 86 Ribu Pembaca, Namun Sebagian Besar Artikel Sepi Respons

Seorang penulis di Kompasiana mengungkapkan rasa frustrasinya setelah melihat perbedaan besar jumlah pembaca di antara artikel-artikel yang ia unggah. Ia mencatat satu tulisannya memperoleh 2.300 pembaca, sementara ratusan artikel lain yang sudah ia buat tampak “hidup sendiri-sendiri” di bagian bawah peringkat.

Penulis itu menyebut telah menerbitkan 187 artikel dengan total sekitar 86 ribu pembaca. Jika dirata-rata, jumlahnya sekitar 460 pembaca per artikel. Namun, menurutnya, kenyataan tidak berjalan merata karena pembaca terkonsentrasi pada sebagian kecil tulisan, sementara sebagian besar lainnya mendapatkan perhatian jauh lebih sedikit.

Dalam kurun waktu tersebut, ia menulis beragam topik seperti ESG, tata kelola perusahaan, perjalanan, dan ekonomi. Ia menilai tema-tema itu penting dan relevan dengan konteks Indonesia, tetapi ia merasa artikel bertema teknis kurang menarik pembaca. Salah satu contohnya, tulisan berjudul “Regulasi Pajak Karbon dan Dampaknya pada Daya Saing Indonesia” hanya meraih 120 pembaca.

Sebaliknya, ketika ia menulis artikel bertema pengalaman dan perasaan, jumlah pembaca melonjak. Ia mencontohkan tulisan berjudul “Mengapa Rezeki Menjauh Meski Sudah Berpikir Positif” yang memperoleh 2.300 pembaca meski, menurut pengakuannya, tidak disertai riset mendalam, data, maupun analisis kerangka kerja yang rumit.

Meski dibaca ribuan kali, ia menyebut respons pembaca dalam bentuk komentar tetap minim. Dari situ, ia menarik kesimpulan bahwa banyak orang membaca tanpa meninggalkan tanggapan, lalu beralih ke konten lain.

Penulis tersebut juga menyampaikan pandangannya tentang mekanisme distribusi konten di platform. Ia merasa algoritma lebih mengutamakan resonansi emosional dibanding mutu atau kedalaman pembahasan. Ia mengaku selama setahun terakhir belum pernah masuk tajuk utama Kompasiana dan menduga hal itu berkaitan dengan preferensi kurasi terhadap konten yang cepat menarik perhatian pembaca.

Menurutnya, konten yang membuat orang berhenti sejenak saat menggulir gawai—karena merasa tersentuh atau terwakili—lebih berpeluang mendapat sorotan. Sementara artikel bertema ESG yang ia tulis dinilainya terlalu teknis dan kurang cocok bagi pembaca yang mengonsumsi konten secara cepat. Ia melihat ada jarak antara nilai jangka panjang dari tulisan informatif dan kebutuhan jangka pendek pembaca yang mencari kedekatan emosional.