BERITA TERKINI
Peringatan 21 Tahun Wafat Musisi Bac Son, Keluarga dan Seniman Kenang Warisan Lagu-lagu Bernapas Desa

Peringatan 21 Tahun Wafat Musisi Bac Son, Keluarga dan Seniman Kenang Warisan Lagu-lagu Bernapas Desa

Pada sore 2 Maret, keluarga penyanyi Bich Thuy menggelar upacara peringatan untuk mendiang Seniman Berjasa sekaligus komposer Bac Son. Sejumlah seniman, penyanyi, serta mereka yang pernah membawakan karya-karya Bac Son hadir untuk menyalakan dupa dan mengenang warisan musik yang ditinggalkannya.

Digelar dalam suasana hangat di rumah keluarga, peringatan itu menandai 21 tahun wafatnya Bac Son. Alih-alih pertunjukan besar, acara berlangsung sebagai reuni yang intim dan mengharukan, menghadirkan seniman dari Kota Ho Chi Minh serta para kontestan yang pernah mengikuti kompetisi menyanyi “Lagu Cinta Bac Son” selama tiga musim terakhir.

Di tengah pertemuan tersebut, kenangan dan musik berpadu. Sejumlah lagu bertema tanah air dan hubungan antarmanusia kembali dinyanyikan, menghadirkan suasana yang dekat dengan keseharian pendengar.

Salah satu momen yang paling menyentuh datang dari Bich Thuy, anak kesembilan Bac Son. Ia menghadirkan kembali gambaran “pondok musim panas” di halaman rumah—ruang yang lekat dengan masa kecilnya dan kenangan tentang sang ayah.

Bich Thuy bercerita, ketika berusia enam tahun ia pernah dikirim orang tuanya untuk tinggal bersama kakek-nenek dari pihak ayah di Long Thanh, Dong Nai. Dalam ingatannya, beranda rumah bukan sekadar halaman yang bermandikan matahari, melainkan tempat sang nenek memberi perhatian kepada cucu-cucunya. Di area dapur tambahan, ia juga menciptakan kembali detail yang ia kenang, seperti sarang telur bebek dan cabang pohon belimbing yang sarat buah.

“Bagi saya, pondok musim panas itu adalah tempat lahirnya ikatan keluarga. Di sana, saya melihat ayah saya sebagai seorang musisi yang mendedikasikan hidupnya untuk musik. Dia juga seorang anak yang berbakti dan ayah yang bertanggung jawab. Dengan menciptakan kembali ruang itu hari ini, saya hanya berharap ayah saya akan senang melihat anak-anak dan cucu-cucunya masih berkumpul bersama, masih mengingat akar mereka,” kata Bich Thuy dengan suara tercekat.

Dalam suasana pedesaan yang sederhana itu, sejumlah lagu Bac Son dinyanyikan secara bersahaja, di antaranya “Kembali ke Desa Nenekku”, “Masih Mencintai Rasa Sakit Pahit yang Tumbuh di Balik Rumah”, “Kau Berjalan di Atas Rumput Muda”, “Setelah Badai”, “Bulan Mana Kau Akan Kembali”, hingga “Musim Semi di Dataran Tinggi”.

Sejumlah seniman menilai karya Bac Son tidak menonjolkan kerumitan teknis, tetapi kuat menghadirkan semangat pedesaan dan rasa welas asih—yang membuatnya terus dekat bagi lintas generasi pendengar.

Peringatan yang bertepatan dengan purnama pertama bulan lunar itu juga menjadi ajang berkumpulnya para pelaku seni yang terhubung dengan “Lagu Cinta Bac Son”. Mereka datang tidak hanya untuk berduka, tetapi juga memberi penghormatan pada sumber inspirasi.

Seniman Thanh Hang mengatakan musik Bac Son tidak keras atau mencolok, namun liriknya menyentuh hati. Ia mengaku setiap kali menyanyikan “Kembali ke Desa Nenekku”, ia selalu teringat bayangan ibunya dan para perempuan pekerja keras di pedesaan.

Penyanyi Duy Thanh, yang pernah mengikuti Kontes Lagu Cinta Bac Son, menyebut pengalaman itu membuatnya kian memahami daya hidup karya-karya Bac Son. Ia menyebutnya sebagai “musik rasa syukur” dan “musik kepulangan”.

Sementara itu, penyanyi Bich Phuong mengaku terharu saat menyebut karya-karya Bac Son yang ia sebut “abadi”. Ia mengatakan ada lagu-lagu yang sudah ia dengarkan sejak kecil dan perasaannya tetap sama hingga dewasa. Menurutnya, musik Bac Son menjadi semacam kenangan bersama bagi banyak keluarga Vietnam, termasuk keluarganya, dan mereka menghargai komposisi serta naskah yang ditulis Bac Son untuk panggung.

Dalam peringatan itu, para seniman yang terkait dengan kelompok “Bac Son Love Songs” menyanyikan lagu-lagu yang familiar tanpa panggung gemerlap dan tanpa pencahayaan profesional. Kesederhanaan itulah yang, bagi mereka, membuat musik Bac Son terasa mudah dipahami dan selaras dengan semangat yang dibawa sang komposer sepanjang hidupnya.

Bich Phuong juga menyoroti upaya keluarga Bac Son yang disebutnya memenuhi “keinginan” sang musisi untuk berbagi kepada mereka yang kurang beruntung. Ia menyebut Bich Thuy selama bertahun-tahun rutin menyelenggarakan program beasiswa atas nama Bac Son, membawa panggung ke sekolah-sekolah, serta berbagi lagu-lagunya dengan para lansia yang kesepian, anak-anak yatim piatu, dan peserta pelatihan di pusat penempatan kerja.

Penyanyi Ha Chau turut membagikan perasaannya. Ia mengatakan setiap kali menyanyikan musik Bac Son dalam suasana keluarga seperti itu, ia kembali diingatkan pada akar. “Musik dimulai dengan cinta dan kembali kepada cinta, seperti yang diajarkan ayah saya kepada saya,” ujarnya.