Komoditas kelapa menjadi salah satu hasil perkebunan yang dinilai potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Trenggalek. Tanaman ini tumbuh subur di berbagai wilayah, termasuk mudah dijumpai di sepanjang pesisir selatan.
Secara spasial, produksi kelapa terbesar disebut berada di Kecamatan Panggul, Munjungan, Tugu, dan Karangan. Namun besarnya potensi tersebut dinilai belum memberi sumbangsih signifikan bagi perekonomian wilayah. Kantong-kantong kemiskinan justru masih ditemukan pada kecamatan-kecamatan dengan produktivitas kelapa tinggi.
Berbagai upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani kelapa telah dilakukan, mulai dari pelatihan, pendampingan, hingga transfer teknologi. Meski demikian, hasil yang diharapkan dinilai belum terlihat. Program sering kali tidak berlanjut setelah kegiatan selesai, yang disebut kemungkinan berkaitan dengan rendahnya kapasitas sumber daya manusia petani dalam menerima transfer teknologi.
Di tingkat petani, pemanfaatan kelapa masih banyak terbatas pada penjualan kelapa gelondongan atau mentah. Sejumlah bagian kelapa juga dilaporkan terbuang tanpa dimanfaatkan. Di sisi lain, banyak pohon kelapa berumur tua sehingga produktivitas menurun. Penurunan produktivitas juga dikaitkan dengan serangan hama dan penyakit wangwung. Jika tidak ditangani, serangan hama yang pernah membunuh ribuan pohon cengkih disebut bukan tidak mungkin berpotensi terjadi pada kelapa.
Padahal, kelapa kerap disebut sebagai “pohon kehidupan” karena semua bagiannya dapat dimanfaatkan, dari akar hingga daun. Peluang diversifikasi produk ini dinilai belum sepenuhnya disadari dan dimanfaatkan masyarakat Trenggalek. Akar dapat diolah menjadi obat-obatan, batang untuk bahan bangunan dan perabot, pelepah kering serta daun untuk kerajinan, manggar kelapa menjadi gula, hingga pucuk daun menjadi bahan pangan seperti asinan dan lumpia.
Diversifikasi paling luas terdapat pada buah kelapa. Berbagai produk turunan yang disebut dapat dihasilkan antara lain minyak VCO, sabun, biskuit, susu, margarin, kosmetik, kue, nata de coco, cuka, kecap, isi jok kursi, karpet, keset, hingga karbon aktif. Diversifikasi dinilai dapat membantu mendistribusikan nilai tambah secara lebih optimal dan proporsional. Bahkan, disebutkan Jepang telah mengembangkan nata de coco sebagai bahan pembuatan layar LCD perangkat elektronik.
Masalah lain yang disebut klasik dalam pengembangan olahan kelapa adalah rendahnya akses pasar. Petani masih merasakan kekurangan informasi pasar terkait harga dan produksi di daerah lain. Di saat yang sama, peluang pasar produk olahan kelapa dinilai besar karena permintaan global terhadap kelapa disebut terus meningkat setiap tahun.
Dalam konteks persaingan global, Indonesia disebut bersaing dengan Vietnam, Filipina, India, dan Sri Lanka sebagai eksportir kelapa. Di dalam negeri, rantai nilai perdagangan kelapa juga dinilai masih panjang, mulai dari petani, pengumpul tingkat desa, pengumpul tingkat kecamatan, tengkulak, pedagang kecil, pedagang besar atau eksportir, hingga konsumen. Panjangnya rantai ini disinyalir menjadi salah satu penyebab rendahnya harga jual yang diterima petani.
Di sisi permodalan, usaha petani kelapa juga menghadapi kendala. Sebagian besar petani memiliki lahan kecil, kurang dari 0,5 hektare, dengan produktivitas rendah sehingga skala usaha relatif kecil. Kondisi ini dinilai membuat perbankan enggan mengucurkan kredit karena risiko ketidakpastian produksi. Akibatnya, petani kerap mencari pinjaman kepada pengumpul, tengkulak, atau pedagang perantara, yang kemudian memperkuat ketergantungan dan melemahkan posisi tawar petani.
Gagasan pengembangan kelapa yang berdaya saing kemudian dikaitkan dengan konsep daya saing daerah. Daya saing digambarkan sebagai kemampuan daerah bersaing dengan daerah lain dalam memproduksi dan memasarkan barang dan jasa. Untuk berdaya saing, daerah dinilai perlu terus berinovasi menuju pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economy), bukan semata bertumpu pada kekayaan sumber daya alam (resource based economy).
Kerumitan persoalan yang membelit petani kelapa disebut membutuhkan solusi yang konkret dan komprehensif, bukan parsial dan tidak saling terhubung. Untuk menjelaskan pentingnya banyak aspek yang harus berjalan serentak, tulisan ini mengaitkannya dengan kutipan Leo Tolstoy dalam novel Anna Karenina: “Keluarga-keluarga bahagia semuanya mirip; setiap keluarga yang tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya sendiri.” Kutipan ini kemudian dipinjam sebagai analogi bahwa produk unggulan yang berdaya saing memerlukan banyak prasyarat, sementara kegagalan pada satu aspek saja dapat membuatnya tidak berdaya saing.
Dalam kerangka berpikir sistem (system thinking), pengembangan kelapa berdaya saing diuraikan melalui sejumlah aspek. Pertama, penyusunan kerangka umum yang kondusif sebagai tugas pemerintah selaku regulator dan fasilitator. Kerangka ini mencakup masterplan seperti rencana tata ruang, roadmap pengembangan kelapa, rencana pusat inovasi, rencana induk kelitbangan, kemudahan perizinan, hingga penyediaan infrastruktur pendukung terutama akses jalan dan ruang publik kreatif.
Kedua, penguatan jaringan inovasi dengan melibatkan pemangku kepentingan model ABCG (Academician, Business, Community, Government). Perguruan tinggi disebut berperan menghasilkan SDM dan IPTEK terkait kelapa, sektor bisnis sebagai pelaku agribisnis maupun agroindustri yang menyerap bahan baku petani, komunitas masyarakat diarahkan membentuk koperasi atau BUMDes bersama sebagai lembaga pembiayaan dan pemasaran, sementara pemerintah tetap sebagai regulator dan fasilitator.
Ketiga, keterkaitan antarklaster industri melalui pembentukan klaster hulu-hilir. Industri inti diarahkan pada pengolahan kelapa, baik skala pabrik maupun rumah tangga, sehingga tidak lagi menjual kelapa gelondongan. Industri pemasok mencakup pembibitan, obat hama dan penyakit, serta pemasok kelapa dari petani. Industri terkait disebut dapat melibatkan sektor pariwisata yang menyasar wisatawan sebagai pasar produk kelapa. Industri pendukung mencakup perbankan, PDAM, PLN, pengusaha transportasi, serta lembaga pendampingan usaha.
Keempat, penumbuhan wirausaha baru atau technopreneur. Aspek ini menekankan pentingnya contoh sukses pelaku usaha produk kelapa untuk merangsang lahirnya wirausaha baru, disertai pendampingan intensif bagi calon pengusaha rintisan.
Kelima, penguatan budaya inovasi. Budaya inovasi dinilai perlu mendapat perhatian untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi, mengingat budaya yang berkembang disebut masih cenderung imitasi. Penumbuhan budaya inovasi dapat dilakukan melalui ajang festival, seperti “Festival Gagasan” di Kabupaten Trenggalek pada April 2018 yang disebut mampu merangsang masyarakat untuk berinovasi.
Rangkaian aspek tersebut digambarkan perlu dijalankan secara serius dan maksimal oleh semua pihak. Logikanya, jika satu aspek tidak bekerja, sistem pengembangan yang diharapkan dapat kembali menempatkan petani kelapa dalam belenggu kemiskinan. Dengan pendekatan yang menyeluruh, pengembangan produk olahan kelapa diharapkan dapat menciptakan nilai tambah, mengangkat perekonomian petani, serta memberi dampak keterkaitan ke belakang dan ke depan dalam perekonomian daerah.

