Program ma’hadisasi di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) ditetapkan sebagai agenda strategis nasional. Kebijakan ini ditekankan harus berbasis pada penguatan standar mutu, tidak sekadar pembangunan fasilitas tempat tinggal mahasiswa.
Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, dalam Rapat Koordinasi Tingkat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang digelar secara hybrid di Jakarta, Senin (9/2/2026), dengan tema “Mewujudkan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Unggul dan Bereputasi Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan itu dihadiri jajaran direktur di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam serta ratusan rektor PTKIN dari berbagai daerah melalui platform daring.
Rapat koordinasi membahas strategi peningkatan mutu pendidikan, penguatan riset, serta kolaborasi antar-PTKI. Dalam forum tersebut, Amien menegaskan ma’hadisasi bukan sekadar membangun asrama, melainkan membangun Ma’had al-Jamiah yang sesungguhnya, lengkap dengan tata kelola pesantren, kurikulum kepesantrenan, serta sistem pembinaan karakter yang terstruktur.
Menurut Amien, PTKIN perlu memiliki Ma’had al-Jamiah yang dikelola dengan baik, bukan sekadar hunian yang hanya berfungsi sebagai tempat tinggal mahasiswa. Ia menyebut kebijakan ma’hadisasi didorong oleh tantangan kualitas input mahasiswa PTKIN, terutama pada literasi dasar keislaman seperti kemampuan membaca Alquran.
“Persoalan ini tidak bisa diselesaikan di hilir. Harus ditata dari hulu. Ma’had menjadi instrumen strategis untuk memperbaiki kualitas akademik dan karakter mahasiswa sejak awal,” kata Amien dalam keterangannya, Rabu (11/2/2026).
Dalam paparannya, Amien juga menekankan pentingnya transformasi PTKI untuk mencetak lulusan yang mampu berkontribusi pada visi Indonesia Emas 2045. Ia menyebut pendidikan tinggi keagamaan Islam perlu unggul secara akademik, bereputasi global, dan relevan dengan tantangan zaman, termasuk digitalisasi dan moderasi beragama.
Ia menambahkan, peningkatan mutu lulusan pendidikan Islam tidak dapat dilepaskan dari peran PTKIN sebagai produsen utama tenaga pendidik dan akademisi Islam di Indonesia. Selain aspek akademik dan pembinaan karakter, Amien menilai ma’hadisasi juga dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi institusi.
Menurutnya, Ma’had al-Jamiah memiliki “double advantage”. Di satu sisi memperkuat pembinaan mahasiswa, sementara di sisi lain dapat meningkatkan pendapatan BLU kampus secara signifikan tanpa harus menaikkan UKT. “Tahun ini akan menjadi barometer. Kami ingin melihat keseriusan PTKIN dalam membangun Ma’had yang nyata, bukan simbolik,” ujarnya.
Amien juga menegaskan pendanaan ma’had bukan proyek spekulatif, melainkan investasi jangka panjang yang relatif aman karena bersifat terprogram dan terintegrasi dengan sistem pendidikan tinggi Islam. Namun, ia mengingatkan kebijakan tersebut perlu diiringi diskusi mendalam mengenai standar mutu pendidikan tinggi, termasuk standar dosen, sarana prasarana, serta sistem kepangkatan akademik.
Sementara itu, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), Phil Sahiron, menekankan pentingnya percepatan tindak lanjut hasil rapat koordinasi, terutama pada aspek kelembagaan, akademik, dan penguatan kebijakan strategis. Ia menyebut masukan dari komisi-komisi dalam rakor menghasilkan sejumlah poin penting yang perlu segera ditindaklanjuti.
“Komisi kelembagaan dan akademik sudah menghasilkan banyak hal strategis yang sangat penting dan harus segera kita tindaklanjuti. Kalau bisa dipercepat, tentu lebih baik,” kata Sahiron.
Ia menambahkan, meski sebagian agenda telah dijadwalkan pada April dan Mei, percepatan program tetap dimungkinkan, termasuk dengan memanfaatkan momentum bulan suci Ramadhan.
Secara khusus, Sahiron menyoroti isu Ma’had Aly yang menurutnya membutuhkan koordinasi lintas direktorat, terutama antara Direktorat PTKI dan Direktorat Pesantren. Ia mengingatkan pentingnya sinergi agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan.
“Kami harus berkoordinasi dengan Direktorat Pesantren. Jangan sampai ada tumpang tindih dalam kebijakan Ma’had Aly. Yang terpenting adalah saling membantu dan bekerja sama untuk kemajuan bersama,” ujarnya.

