Psikolog keluarga Anna Surti Ariani S.Psi., M.Si. mengatakan kemampuan anak untuk menolong, berbagi, dan berempati tidak muncul secara langsung. Menurutnya, orang tua perlu memahami bahwa proses membangun sikap tersebut memerlukan waktu, kesabaran, serta pembelajaran yang dipraktikkan secara berulang dan bertahap.
Anna menjelaskan, sejumlah ahli perkembangan menyebut anak perlu melewati beberapa tahap sebelum benar-benar memiliki kesadaran utuh untuk berbagi. Ia menyebut setidaknya ada tiga tahap yang dilalui, dan kesadaran penuh itu umumnya baru terbentuk sekitar usia SMP.
Pada tahap pertama, yakni usia pra-sekolah, anak belum berbagi berdasarkan kesadaran diri. Jika anak di usia ini terlihat berbagi, hal itu biasanya karena ia mengetahui tindakan tersebut mendapat pujian dari orang tua, bukan karena memahami bahwa perbuatannya membawa kebaikan bagi orang lain.
Tahap berikutnya umumnya dialami anak pada awal masa sekolah dasar. Pada fase ini, anak menolong atau berbagi lebih karena merespons permintaan orang lain. Anna mencontohkan, anak melakukan tindakan tersebut setelah diminta atau diarahkan oleh orang tua.
Di rentang usia tersebut, anak juga masih kerap kesulitan bersabar dan berbagi, misalnya saat harus mengantre untuk bermain atau meminjamkan mainan kepada teman. Meski begitu, Anna mengimbau orang tua tetap sabar dan tidak berhenti menanamkan kebiasaan tolong-menolong.
Memasuki tahap ketiga, yang biasanya terjadi pada akhir masa sekolah dasar, anak mulai memandang berbagi sebagai cara untuk memperoleh sesuatu, seperti nama baik atau pujian. Anna menilai hal ini masih bagian dari proses perkembangan.
Menurutnya, kesadaran yang lebih kuat dari hati nurani untuk berbuat baik umumnya muncul ketika anak beranjak ke usia SMP. Karena itu, ia mengingatkan orang tua agar tidak terburu-buru menuntut anak segera “sadar” sepenuhnya, serta tidak memarahi anak ketika prosesnya belum tampak sesuai harapan.
Anna menyarankan orang tua terus memberikan praktik dan contoh sejak dini. Dengan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, manfaatnya baru akan lebih terasa ketika anak tumbuh lebih besar dan memasuki tahap perkembangan yang lebih matang.

