BERITA TERKINI
Residensi Konser Kian Dilirik, Musisi Dunia Hadapi Dilema antara Efisiensi dan Akses Penggemar

Residensi Konser Kian Dilirik, Musisi Dunia Hadapi Dilema antara Efisiensi dan Akses Penggemar

JAKARTA — Tren pertunjukan musik global disebut tengah mengalami pergeseran, ketika konsep konser residensi mulai menyaingi tradisi tur keliling dunia. Perubahan ini memunculkan perdebatan di kalangan pelaku industri dan penikmat musik, terutama terkait keuntungan bagi artis dibandingkan konsekuensinya bagi penggemar.

Sejumlah nama besar menjadi contoh menguatnya format residensi. Harry Styles tercatat tampil selama 12 malam di Wembley, sementara Ariana Grande dikabarkan merencanakan 10 malam pertunjukan di O2 Arena London. Pola tersebut menunjukkan pilihan untuk menetap di satu kota, alih-alih berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain seperti tur konvensional.

Dari sisi musisi, alasan kesehatan menjadi salah satu pertimbangan utama. Mantan personel Little Mix, Jade Thirlwall, menilai residensi dapat memberi dampak positif bagi kondisi fisik dan mental penampil karena mengurangi intensitas perjalanan. “Bagi seorang artis yang melakukan residensi, itu mungkin jauh lebih sehat bagi tubuh, suara, dan pikiran Anda karena tidak perlu melakukan perjalanan sepanjang waktu,” kata Jade, dikutip BBC, Selasa, 3 Maret.

Meski demikian, Jade juga mengakui tur tradisional tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi sebagian musisi, terutama sensasi bepergian yang menjadi bagian dari pengalaman tampil.

Di sisi lain, kenyamanan bagi bintang panggung kerap berbanding terbalik dengan beban penggemar. Keluhan yang muncul antara lain terkait biaya perjalanan dan akomodasi yang dapat melonjak setelah jadwal konser diumumkan, membuat akses menonton pertunjukan menjadi lebih mahal bagi sebagian orang.

Bassis Wolf Alice, Theo Ellis, memandang residensi sebagai pilihan artistik yang unik, namun ia mengingatkan adanya risiko eksklusivitas. “Sisi negatifnya adalah mungkin tidak semua orang bisa pergi dan merasakannya. Anda harus menjadi artis dengan skala tertentu untuk bisa melakukan itu,” ujar Ellis.

Sementara itu, musisi Ciara Mary-Alice Thompson yang dikenal sebagai CMAT menekankan pentingnya tur keliling, termasuk ke kota-kota kecil, bagi perkembangan kreativitas. Menurutnya, menghadapi audiens berbeda di tiap wilayah memberi tantangan yang tidak didapat jika hanya tampil di satu tempat. “Anda harus belajar bermain di depan penonton yang berbeda, bukan hanya penonton tuan rumah yang ramah. Mempelajari perbedaan itu membuat kreativitas sedikit lebih subur,” tuturnya.

Di tengah perdebatan tersebut, industri musik tetap menunjukkan dampak ekonomi yang besar. Data dari Barclays menyebut tur skala besar seperti Eras Tour milik Taylor Swift mampu menyumbang hampir 1 miliar poundsterling bagi perekonomian Inggris. Angka itu menggarisbawahi bahwa, terlepas dari perubahan format pertunjukan, konser musik masih menjadi penggerak ekonomi yang signifikan.

Dengan residensi yang menawarkan efisiensi dan tur yang dinilai memperkaya pengalaman artistik, musisi dan industri kini berada di persimpangan: memilih kenyamanan tampil di satu panggung tetap atau mempertahankan tradisi perjalanan panjang yang selama ini melekat pada dunia pertunjukan.