Purwokerto — Di tengah kehidupan yang kian terkotak-kotak, sastra dinilai memiliki peran penting untuk menumbuhkan empati dan memperkaya cara pandang. Sejumlah studi disebut menunjukkan pembaca sastra lebih mampu memahami isu-isu sosial yang kompleks, sehingga sastra tidak dipandang semata sebagai hiburan, melainkan latihan untuk membuka mata lebih luas terhadap ragam kehidupan.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Siaran Apresiasi Seni dan Sastra Pro 2 RRI Purwokerto bertema “Sastra Membuka Mata Lebih Luas”. Program itu menghadirkan dosen sekaligus penulis Bayu Sutta Wardianto serta pegiat literasi Muhammad Umar Ibnu Malik. Keduanya menyoroti peran sastra dan literasi dalam memperluas wawasan serta perspektif hidup.
Bayu, dosen pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia dan kepenulisan di UIN Saizu dan Universitas Amikom Purwokerto, menegaskan sastra bukan sekadar hiburan. Ia menceritakan pengalamannya membaca cerpen sejak awal perkuliahan yang memantik kecintaannya pada sastra.
Menurut Bayu, karya sastra meski bersifat fiksi tetap menyimpan realitas sosial, sejarah, memori, hingga pembelajaran hidup. Ia juga menilai sastra bersifat multitafsir. Setelah sebuah karya lahir, pembaca yang kritis dapat menemukan makna baru, termasuk makna yang mungkin tidak disadari penulisnya.
Sementara itu, Muhammad Umar Ibnu Malik mengakui keterlibatannya di dunia literasi banyak dipengaruhi karya-karya sastra yang, tanpa disadari, membentuk proses kehidupannya. Ia menekankan kemampuan menulis dan bersastra bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang dapat diasah melalui input yang konsisten dengan membaca.
Umar menyarankan pembaca tidak membatasi diri dan membaca secara komprehensif untuk memperoleh beragam sudut pandang. Namun, Bayu menambahkan pentingnya sikap selektif seiring bertambahnya usia. Ia menyarankan pembaca usia 20-an ke atas memilih bacaan yang lebih selaras dengan perkembangan pola pikir, terutama dalam pengambilan keputusan.
Melalui pembacaan dan apresiasi sastra, keduanya menilai pembaca tidak hanya menikmati cerita, tetapi juga memperluas wawasan dan mengasah kepekaan dalam menyikapi kompleksitas kehidupan sehari-hari. Membaca sastra dipandang sebagai upaya proaktif untuk terus belajar sekaligus mematangkan proses kehidupan.

