Sastra dinilai perlu mendapat ruang lebih besar di sekolah sebagai bagian dari upaya memperkuat kesadaran lingkungan. Gagasan ini menekankan bahwa sastra tidak perlu diposisikan sebagai alat ramalan, karena peringatan mengenai krisis ekologis telah lama disampaikan melalui ilmu pengetahuan.
Dalam konteks tersebut, sastra dipandang memiliki fungsi penting melampaui kritik struktural. Sastra juga dapat membangkitkan kepekaan spiritual manusia terhadap alam, sehingga hubungan manusia dengan lingkungan tidak semata dipahami melalui data dan analisis, tetapi juga melalui pengalaman batin dan imajinasi.
Karena itu, pelatihan imajinasi siswa sejak dini dianggap perlu, khususnya untuk membayangkan masa depan Indonesia yang berpihak pada lingkungan. Dengan membiasakan siswa berinteraksi dengan karya sastra bertema ekologis, sekolah diharapkan dapat membantu membentuk cara pandang yang lebih peka terhadap krisis lingkungan dan mendorong tanggung jawab terhadap alam.

