SD Negeri 85 Ambon bekerja sama dengan Ambon Music Office (AMO) meluncurkan program inovasi pembelajaran berbasis Project-Based Learning (PBL) dan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics). Kolaborasi ini mengangkat alat musik tradisional lokal, yakni jukulele dan suling bambu, sebagai media pembelajaran kreatif berbasis STEAM bagi siswa.
Program tersebut dirancang untuk mengintegrasikan seni musik tradisional ke dalam kurikulum sekolah dengan pendekatan sains dan teknologi. Melalui proyek ini, siswa tidak hanya belajar memainkan jukulele dan suling bambu, tetapi juga diajak memahami pengetahuan di balik pembuatan alat musik, seperti konsep frekuensi, amplitudo, dan resonansi bunyi, serta presisi ukuran panjang bambu yang dikaitkan dengan matematika dan teknik berdasarkan prinsip pipa organa terbuka.
Dalam kegiatan ini, AMO menghadirkan Ir. Ronny Loppies, M.Sc.F dan Prof. Dr. Mercy Papilaya, M.Pd sebagai narasumber. Kepala SD Negeri 85 Ambon, Rosalina Riry, S.Th, menyambut baik program tersebut dan menyampaikan harapannya agar inovasi ini dapat mendorong kreativitas tenaga pendidik.
“Kami sangat berterima kasih atas kolaborasi ini. Inovasi PBL-STEAM berbasis musik lokal ini sangat luar biasa. Kami berharap metode pembelajaran ini dapat memberikan inspirasi baru bagi guru-guru di SD Negeri 85 Ambon untuk terus melahirkan model pembelajaran yang menarik dan interaktif,” kata Rosalina.
Direktur AMO, Ir. Ronny Loppies, M.Sc.F, menyatakan kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem Ambon sebagai Kota Musik Dunia versi UNESCO melalui jalur pendidikan formal. Menurutnya, pendekatan STEAM tidak hanya mengajarkan keterampilan bermain musik, tetapi juga merangsang daya nalar dan kreativitas siswa.
“Melalui pendekatan STEAM, kita tidak hanya mengajarkan anak-anak bermain musik, tetapi juga merangsang daya nalar dan kreativitas mereka. Jukulele dan suling bambu menjadi jembatan antara kearifan lokal Maluku dengan sains modern,” ujar Ronny.
Sementara itu, pakar pendidikan Prof. Dr. Mercy Papilaya, M.Pd mengapresiasi penerapan kurikulum inovatif tersebut. Ia menilai metode PBL-STEAM berbasis budaya lokal efektif membentuk karakter siswa di era digital karena mendorong pembelajaran kontekstual sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis.
“Inovasi yang diterapkan di SD 85 Ambon ini adalah contoh nyata pembelajaran yang bermakna. Siswa belajar secara kontekstual, mengasah kemampuan berpikir kritis (critical thinking), sekaligus menumbuhkan rasa cinta dan kepemilikan terhadap warisan budaya mereka sendiri sejak dini,” kata Mercy.
Kolaborasi AMO dan SD Negeri 85 Ambon ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah lain di Maluku dalam menerapkan pembelajaran berbasis proyek yang kreatif, integratif, dan berakar pada budaya lokal.