Seniman asal Bali mengharumkan nama Indonesia setelah meraih juara ketiga dalam The 28th Harbin International Snow Sculpture Competition yang digelar di Harbin, China, pada 6–9 Januari 2026. Capaian ini dinilai istimewa karena Indonesia tidak memiliki musim salju maupun tradisi memahat salju.
Tim Indonesia dipimpin I Nyoman Sungada, dengan anggota I Ketut Suaryana, Gede Agus Kurniawan, dan I Gede Agustin Anggara Putra. Proses penciptaan karya juga didukung Made Gede Aryata sebagai fotografer dokumentasi serta I Wayan Mardina sebagai peninjau.
Dalam kompetisi tersebut, tim menampilkan karya berjudul “Dewi Dhanwantari”. Tokoh Dewi Dhanwantari dikenal dalam kepercayaan Hindu sebagai simbol kesuburan, penyembuhan, dan keseimbangan alam semesta. Melalui karya ini, tim menghadirkan pesan tentang harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual dalam medium salju.
Memahat salju menjadi tantangan tersendiri bagi para seniman dari negara tropis. Untuk mengatasi keterbatasan pengalaman bekerja dengan material salju atau es, tim melakukan latihan menggunakan styrofoam sebagai media simulasi. Persiapan dilakukan selama tiga bulan, mulai dari pencarian ide, pembuatan miniatur, hingga latihan memahat secara intensif.
The Harbin International Snow Sculpture Competition dikenal sebagai salah satu ajang patung salju paling prestisius di dunia dan rutin diikuti seniman dari berbagai negara. Penilaian mencakup kreativitas, teknik, kekuatan konsep, serta kemampuan menerjemahkan ide ke dalam medium salju. Raihan peringkat ketiga menjadi pengakuan atas kemampuan teknis dan konsep yang dibawa tim Indonesia.
Keberhasilan ini juga dipandang sebagai wujud diplomasi budaya melalui seni. Lewat “Dewi Dhanwantari”, tim memperkenalkan nilai spiritual dan filosofi keseimbangan yang lekat dengan tradisi Hindu Bali kepada audiens internasional. Prestasi tersebut diharapkan dapat memotivasi seniman muda Indonesia untuk terus berkarya, menggali identitas budaya, dan berani tampil di panggung global.

