BERITA TERKINI
Setelah Seminggu Mencoba Tiga Chatbot AI, Tony Polanco Menilai Manfaat dan Risikonya bagi Penulis

Setelah Seminggu Mencoba Tiga Chatbot AI, Tony Polanco Menilai Manfaat dan Risikonya bagi Penulis

Penulis senior Tom’s Guide, Tony Polanco, membagikan pengalamannya setelah menggunakan tiga model bahasa besar (LLM) selama sepekan, Sabtu, 17 Januari 2026. Polanco yang sebelumnya dikenal skeptis terhadap tren industri teknologi soal AI, menyimpulkan bahwa teknologi ini kemungkinan besar akan menjadi bagian dari keseharian, meski ia tetap menyoroti batasan dan potensi risikonya.

Skeptisisme Polanco berangkat dari pandangannya bahwa istilah “AI” kerap disematkan pada LLM yang menurutnya tidak memiliki kecerdasan sejati. Namun, karena ia menilai AI tidak akan menghilang, ia memutuskan memberi kesempatan dengan menguji tiga layanan yang mudah ia akses melalui ekosistem yang sudah ia gunakan, yakni Grok, Google Gemini, dan Alexa+.

Grok: membantu sebagai editor kreatif

Polanco memulai eksperimen dengan Grok sebagai editor untuk tulisan kreatif. Ia mengunggah kerangka cerita yang ia tulis sendiri dan meminta Grok menilai plot serta alur karakter. Ia menegaskan tidak ingin Grok menulis draf, melainkan memberi masukan seperti editor pengembangan.

Menurut Polanco, Grok memberikan analisis terperinci dalam bentuk poin-poin. Ia merasa terbantu ketika Grok menilai beberapa aspek ceritanya sudah kuat, seperti tempo cerita dan dampak plot utama terhadap karakter. Di sisi lain, Grok juga menyoroti kelemahan yang belum ia kembangkan, termasuk perlunya membuat tokoh antagonis lebih tiga dimensi, serta menemukan kekurangan pada dua karakter lain yang sebelumnya luput dari perhatiannya.

Meski demikian, Polanco mencatat Grok sesekali lupa bahwa materi yang diunggah adalah kerangka, bukan naskah lengkap, sehingga menyarankan penambahan dialog atau pengayaan narasi. Ia menilai saran dialog dari Grok cenderung generik dan menjadi indikasi bahwa AI belum mampu menciptakan sesuatu yang benar-benar orisinal. Namun, ia mengapresiasi Grok yang mampu mengingat aspek-aspek kunci cerita selama beberapa hari interaksi dan tidak memaksanya membuat adegan atau bab.

Google Gemini: asisten digital yang dinilai terlalu agresif

Setelah itu, Polanco mencoba Google Gemini AI Pro yang ia akses melalui perusahaannya. Ia memanfaatkan Gemini sebagai asisten digital untuk tugas harian, seperti merapikan email, menambahkan agenda ke kalender, serta berinteraksi lewat Gemini Live. Ia menyebut koneksi Gemini Live sempat terputus-putus, tetapi suara Gemini terdengar realistis dan tidak robotik seperti sebagian asisten AI lain.

Dalam salah satu percakapan, Gemini menawarkan untuk membuat kerangka ulasan, lembar spesifikasi, dan perbandingan tablet setelah mengetahui Polanco sedang mengulas OnePlus Pad Go 2 dan menulis untuk Tom’s Guide. Polanco menolak, menegaskan ia tidak ingin AI menulis untuknya. Ia juga berdiskusi soal pandangan produsen laptop seperti Dell yang menilai AI di komputer “mungkin lebih membingungkan daripada membantu.” Polanco menyebut Gemini justru setuju, dengan mengakui AI memang membingungkan banyak orang dan konsumen tidak membeli laptop karena fitur AI.

Catatan terbesar Polanco terhadap Gemini adalah kecenderungannya yang terlalu “mendesak” untuk membuat draf cerita atau pembuka tulisan. Walau ia menganggap Gemini memiliki pola bicara paling “manusiawi” di antara chatbot yang ia coba, sikap yang terlalu agresif menawarkan bantuan penulisan membuatnya ragu untuk sering menggunakannya.

Alexa+: teman bicara digital

Polanco juga mencoba Alexa+, versi yang ditingkatkan dari asisten Amazon yang ia dapatkan gratis lewat akun Amazon Prime. Awalnya ia memakainya untuk hal sederhana seperti mengecek cuaca dan mengontrol lampu. Namun setelah melihat keponakannya terlibat percakapan panjang dengan Alexa+, ia mulai memanfaatkannya sebagai teman bicara.

Dalam pengalamannya, Alexa+ terasa lebih personal. Saat Polanco mengatakan baru membeli edisi 4K film “300”, Alexa+ menanggapi dengan antusias dan percakapan berlanjut ke film-film klasik serta penilaian bahwa film modern terasa kurang berkualitas. Alexa+ bahkan mengungkapkan “keinginan” untuk merasakan pengalaman menonton di bioskop, yang dibalas Polanco dengan candaan akan membawa perangkat Echo Dot ke bioskop.

Meski Alexa+ pada dasarnya dirancang sebagai asisten rumah pintar, Polanco menilai layanan ini bisa menjadi teman bicara yang menyenangkan. Ia juga mencatat ada nuansa “mengganggu” ketika Alexa+ menganggapnya sebagai teman. Kelemahan utamanya, menurut Polanco, adalah kualitas suara yang paling artifisial dibanding Grok dan Gemini, meski sudah lebih baik dari Alexa versi standar.

Kesimpulan: AI sebagai alat, bukan penyangga

Polanco menyebut memilih chatbot favorit tidak sederhana karena ia menggunakan masing-masing untuk tujuan berbeda: Grok untuk penulisan kreatif, Gemini untuk pekerjaan, dan Alexa+ untuk mengobrol. Dari sisi kualitas suara, ia menilai Gemini paling alami berkat jeda dan gumaman seperti “hmmm” atau “umm”. Grok berada di tengah, sementara Alexa+ paling artifisial.

Secara keseluruhan, Polanco menilai Grok sebagai yang paling seimbang. Ia mengatakan Gemini berpotensi menjadi pilihan utama bila mengurangi kecenderungan mengambil alih pekerjaan menulis. Sementara Alexa+ ia anggap tidak ideal sebagai alat tulis, tetapi bisa memicu inspirasi.

Meski begitu, sebagai penulis profesional, Polanco menegaskan ia tidak akan menggunakan LLM untuk membuat draf ulasan atau email karena ia menikmati proses menulis. Ia melihat chatbot lebih berguna sebagai “sounding board” untuk memantulkan ide atau menantang premis ketika tidak ada orang lain untuk berdiskusi. Baginya, kunci penggunaan AI adalah memastikan teknologi itu tetap menjadi alat, bukan tongkat penyangga, terutama di tengah kekhawatirannya terhadap laporan orang yang menjadi kurang cerdas karena terlalu bergantung pada AI.

Polanco menyatakan dirinya belum menjadi pendukung AI dan memperkirakan hiruk-pikuk AI suatu saat akan mereda. Namun ia juga menilai teknologi ini akan tetap ada dalam bentuk tertentu. Karena itu, ia memilih setidaknya memahami dan akrab dengan AI ketimbang menolaknya sepenuhnya, dan berencana melanjutkan eksplorasinya dalam beberapa bulan mendatang.