Lampu panggung menyala redup di ruang pertunjukan Institut Français Indonesia (IFI) Bandung ketika dentuman gitar pertama pecah, Sabtu, 14 Februari 2026. Kerumunan segera merapat ke depan panggung. Malam itu, sebuah showcase berukuran intim yang mempertemukan band lawas Balcony dan Homicide menghadirkan kembali ingatan tentang skena musik keras Bandung—kota yang pernah menyebut dirinya “Bandung Kota Hardcore”.
Di venue yang tidak terlalu besar, penonton datang dari lintas generasi. Ada mereka yang tumbuh bersama gigs era 1990-an, juga pendengar muda yang selama ini mengenal nama-nama tersebut dari cerita dan rilisan lama. Pertemuan itu membuat dentuman musik keras terdengar bukan semata nostalgia, melainkan pengingat bahwa skena Bandung pernah dibangun dari keberanian bersuara dan solidaritas komunitas.
Showcase diawali penampilan sejumlah band bawah tanah lain. Bleach dan Honey tampil sebagai representasi generasi baru skena hardcore Bandung, sementara Rotten to the Core membawa energi lama dari band punk era 1990-an. Penampilan Rotten to the Core menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian ketika mereka membawakan lagu “Police on My Back”.
Nuansa lintas generasi kian terasa saat Homicide, band hiphop yang kaus-kausnya masih banyak dipakai anak muda, turut menggetarkan panggung. Penonton larut dalam irama tanpa upaya saling menunjukkan dominasi. Mereka bergerak bersama di mosh pit, mengikuti musik cepat dan teriakan vokal.
Danil Muhammad Ivan mengatakan energi konser tersebut mengingatkannya pada gigs lama di Bandung. Ia menilai suasana mosh pit malam itu berbeda dibanding sejumlah gigs sekarang yang, menurutnya, kadang diwarnai ekspresi terlalu ganas hingga berujung melukai fisik.
“Mosh pit-nya seperti yang dulu. Tidak ada yang melakukan violence dance atau tough guy. Lebih ke ekspresi bareng-bareng menikmati musik,” ujar Danil.
Danil juga terkesan ketika Balcony membawakan “Monodramatik”. Baginya, lagu itu selalu terasa kuat setiap kali dimainkan di panggung, terutama karena liriknya yang tajam sekaligus puitis. Lagu tersebut dinyanyikan oleh mantan vokalis Balcony, Viky Mono.
“Di tahun tersebut mereka sudah membuat lirik bagus, puitis, dan semarah itu,” ujar Danil dalam bahasa Sunda.
Penonton dari generasi Z ikut memenuhi ruang pertunjukan malam itu. Salah satunya Martha Setiawan, yang mengaku baru mengenal Balcony setelah melihat poster showcase yang diunggah Disaster Records di Instagram. Rasa penasaran membuatnya datang untuk melihat langsung sosok-sosok yang selama ini hanya ia dengar dari cerita. Ketika Balcony mulai tampil, ia merasakan atmosfer berbeda dari konser yang biasa ia datangi dan mengaku cepat terseret energi ruangan hingga ikut bergerak di mosh pit.
“Pecah banget. Enggak ada sekat antara fans lama sama fans baru. Semua berbaur,” kata Martha.
Penulis musik asal Bandung, Idhar Resmadi, melihat malam itu sebagai pertemuan lintas generasi dalam satu ruang skena. Menurutnya, banyak orang datang bukan hanya untuk menonton satu band, tetapi untuk menyaksikan momen yang jarang terjadi: Homicide kembali tampil, Vicky Mono kembali bernyanyi bersama Balcony, dan band generasi baru seperti Honey serta Bleach ikut meramaikan panggung.
Ketika Balcony memainkan lagu-lagu seperti “Memoar 98” atau membawakan ulang lagu Puppen, “United Fist”, ruangan seakan berubah menjadi ruang ingatan kolektif tentang gigs lama di Saparua. Sebagian penonton bernyanyi keras, sebagian lain terus bergerak di mosh pit yang tak berhenti. Idhar menyebut salah satu momen paling berkesan terjadi ketika penonton tampak bersiap pulang, lalu Ucok memanggil Arian (eks-Puppen) untuk menyanyikan lagu tersebut.
Sejarah Balcony sendiri kerap terdengar seperti cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sekitar 2003, band ini mulai memasuki masa hiatus. Sebelum vakum, terjadi pergantian vokalis ketika Om Barus keluar dari formasi. Posisi itu sempat diisi Vicky Mono yang tampil bersama Balcony dalam beberapa kesempatan, meski tidak berlangsung lama. Periode tersebut hanya disaksikan sebagian kecil penonton sebelum band kembali berhenti. Pada masa yang hampir bersamaan, label yang menaungi mereka, Harder Records, juga berhenti beroperasi sekitar 2004. Para personel Balcony kemudian menempuh jalan masing-masing di industri musik, menjauh dari dinamika panggung seperti yang mereka alami pada akhir 1990-an.
Menurut Idhar, kemunculan kembali Balcony di masa sekarang terasa tepat secara momentum. Ia menilai lanskap musik hari ini lebih terfragmentasi dan plural dibanding masa lalu, ketika selera pendengar masih dibatasi sekat genre.
“Sekarang orang sudah sangat terfragmentasi selera musiknya, hampir tidak ada sekat. Bahkan musik yang dulu dianggap pinggiran bisa menjadi arus utama dan dimainkan di stadion atau lapangan besar. Artinya selera masyarakat semakin fluid,” ujarnya.
Selain pertunjukan musik, showcase tersebut juga menghadirkan praktik kultural yang lama menjadi bagian dari skena independen. Penonton mendapatkan zine berisi tulisan teks pleidoi para tahanan politik Bandung. Bagi sebagian orang yang tumbuh bersama gigs kecil Bandung pada awal 2000-an, zine dikenal sebagai media alternatif untuk menyebarkan gagasan di luar arus media utama. Dalam konteks itu, gigs tidak hanya menjadi tempat menonton band, tetapi juga ruang pertukaran pengetahuan.
Kebiasaan membagikan zine sempat menghilang dalam beberapa tahun terakhir, namun disebut mulai kembali muncul seiring imajinasi dan kreativitas orang muda Bandung terhadap kultur lama percetakan. Di luar zine, merchandise juga menarik perhatian. Sejumlah penonton membeli kaos bertuliskan “Bebaskan Para Tahanan Politik”, yang penjualannya disebut menjadi salah satu bentuk solidaritas kawan-kawan Bandung terhadap para tahanan politik. Sebagian hasil penjualan kaos itu didedikasikan untuk mendukung para tahanan politik di Bandung.
Idhar menilai praktik tersebut merupakan bagian dari tradisi lama skena yang kerap menghubungkan musik dengan isu sosial. Menurutnya, sejak awal, komunitas hardcore dan hiphop di Bandung sering menjadikan gigs sebagai ruang solidaritas. Dalam mekanisme semacam itu, pesan sosial dapat beredar secara organik di tengah kerumunan tanpa perlu disampaikan lewat forum formal.
Isu-isu tersebut disuarakan Ucok Homicide dari atas panggung. Ia menyinggung persoalan yang menurutnya melingkupi kehidupan sosial dan politik di Bandung, mulai dari penangkapan terhadap tahanan politik, praktik pencurian oleh elite dan mafia, hingga penggusuran lahan yang disebutnya tidak pernah benar-benar berhenti. Kritik juga diarahkan kepada kalangan intelektual dan musisi di Bandung yang, menurutnya, memilih mencari aman dan enggan bersuara.
Di tengah euforia musik keras, perbincangan tentang mosh pit juga mencuat. Dalam skena hardcore, praktik violence dance dan kultur “tough guy” kerap memunculkan perdebatan: bagi sebagian orang mosh pit adalah ruang ekspresi bebas, namun bagi yang lain praktik itu dinilai bisa bergeser menjadi agresi yang berpotensi melukai orang lain. Dalam orasinya, Ucok menyinggung soal citra maskulinitas dan menyampaikan pandangannya tentang perubahan kultur di hardcore.
Meski demikian, ada pula komunitas yang berupaya menjaga mosh pit tetap menjadi ruang aman dan saling menghormati, misalnya dengan membantu penonton yang terjatuh atau memberi ruang bagi yang ingin keluar dari kerumunan. Malam itu di IFI Bandung, sejumlah penonton menilai mosh pit berjalan lebih kolektif, menjadi ruang pertemuan lintas generasi yang bergerak bersama dalam musik, sembari membawa kembali tradisi solidaritas yang lama melekat pada skena.

