METRO—Esai dinilai memberi ruang bagi penulis untuk mengutarakan pemikiran secara reflektif dan terstruktur. Pandangan itu disampaikan Ketua Dewan Kesenian Metro, Solihin, yang dikenal sebagai penyair dan penulis esai asal Metro, saat menjadi pemateri Bengkel Penulisan Esai dalam rangka Festival Bahasa dan Sastra pada hari keenam kegiatan yang digelar Komunitas Ruang Pojok Metro.
Kegiatan berlangsung di Taman Semilir, Metro, dan diikuti 20 peserta. Sehari sebelumnya, bengkel menghadirkan sastrawan Isbedy Stiawan ZS sebagai narasumber. Informasi tersebut disampaikan melalui siaran pers yang dikirim Ahman N dan Amien Budi Utomo pada Minggu, 6 Oktober 2024.
Dalam pemaparannya, Solihin menekankan bahwa esai yang baik harus mampu menyajikan ide secara jelas dengan alur pemikiran yang tersusun rapi. Ia juga menjelaskan pentingnya esai sebagai sarana menyampaikan gagasan yang dapat memengaruhi pembaca secara intelektual.
Solihin memandang esai sebagai bentuk karya sastra yang memungkinkan penulis mengekspresikan gagasan secara mendalam dan kritis. Ia menegaskan, penulisan esai berbeda dengan tulisan opini maupun karya jurnalistik.
Festival Bahasa dan Sastra Indonesia 2024 yang dilaksanakan Komunitas Ruang Pojok Metro tersebut diawali dengan Bengkel Penulisan Puisi yang menghadirkan Ari Pahala Hutabarat dan Amien Budi Utomo. Kegiatan berlanjut dengan Bengkel Penulisan Cerpen bersama Yulizar Lubay dan Ipul Mubarokh, kemudian sesi penulisan esai yang diampu Isbedy Stiawan ZS dan Solihin Utjok.

