BERITA TERKINI
Sound Horeg: Antara Ekspresi Budaya Baru dan Risiko Kesehatan bagi Generasi Muda

Sound Horeg: Antara Ekspresi Budaya Baru dan Risiko Kesehatan bagi Generasi Muda

Fenomena sound horeg belakangan ramai diperbincangkan di media sosial dan memunculkan perdebatan di tengah masyarakat. Bagi sebagian orang, parade sound system ini dipandang sebagai bentuk hiburan, ekspresi kreatif, sekaligus perekat sosial. Namun bagi yang lain, sound horeg dinilai mengganggu ketenangan dan berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan, terutama bagi generasi muda yang kerap terpapar.

Di sejumlah wilayah, sound horeg tidak sekadar muncul sebagai tren baru. Di Desa Sumbersewu, Banyuwangi, misalnya, parade sound system disebut telah menjadi tradisi turun-temurun dan kerap digelar menjelang perayaan besar seperti Idul Adha dan Idul Fitri. Kegiatan tersebut dinilai memperkuat kebersamaan warga, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal karena menarik keramaian dan mendatangkan pengunjung dari berbagai kota sekitar. Dampak ekonominya terlihat dari meningkatnya aktivitas pedagang dan tumbuhnya UMKM saat acara berlangsung.

Gambaran serupa juga disebut terjadi di Blitar. Di sana, parade sound horeg melibatkan berbagai unsur, mulai dari karang taruna, perangkat desa, hingga seniman lokal. Keterlibatan banyak pihak membuat kegiatan ini dipandang sebagai ruang partisipasi warga, bukan semata pertunjukan suara keras.

Namun, di balik sisi sosial dan ekonomi tersebut, muncul kekhawatiran terkait aspek kesehatan. Sound horeg disebut dapat menghasilkan tingkat kebisingan sekitar 130–135 desibel, jauh melampaui ambang batas aman yang berada pada kisaran 85–90 desibel. Pada tingkat kebisingan setinggi itu, paparan singkat pun disebut berisiko menimbulkan kerusakan permanen pada pendengaran. Kekhawatiran ini menguat karena kelompok muda dinilai lebih sering terpapar, baik sebagai penonton maupun bagian dari kegiatan.

Perbedaan cara pandang juga memunculkan potensi konflik sosial. Generasi muda cenderung memandang sound horeg sebagai hiburan yang dianggap keren dan membanggakan daerah. Sebaliknya, sebagian kelompok yang lebih tua merasa terganggu, terutama ketika suara keras berlangsung hingga larut malam. Perbedaan persepsi ini dinilai dapat memicu gesekan antargenerasi di tingkat komunitas.

Situasi tersebut membawa isu sound horeg ke ranah kebijakan publik. Regulasi mengenai kebisingan disebut sebenarnya sudah ada, tetapi pelaksanaannya dinilai lemah. Pemerintah daerah kerap berada dalam posisi dilematis karena kegiatan ini dianggap tradisi lokal sekaligus penggerak ekonomi. Di sisi lain, pembiaran tanpa pengawasan dipandang berisiko mengorbankan hak masyarakat atas lingkungan yang sehat dan tenang.

Tantangan yang mengemuka adalah mencari titik temu antara ekspresi budaya dan keselamatan publik. Sejumlah opsi yang disebut dapat dipertimbangkan antara lain pembatasan durasi, penetapan lokasi khusus, atau penggunaan teknologi peredam suara. Pendekatan semacam ini dipandang dapat memberi ruang bagi tradisi dan kreativitas, sekaligus menekan risiko kesehatan dan gangguan ketertiban.

Sound horeg, yang sekilas terlihat sebagai hiburan, dinilai memiliki dampak yang lebih kompleks karena menyangkut kesehatan, ketenteraman, dan relasi sosial di masyarakat. Tanpa pengelolaan yang jelas, fenomena ini dikhawatirkan menjadi persoalan jangka panjang. Karena itu, diperlukan upaya bersama antara pemerintah, komunitas, dan warga untuk menjaga tradisi tanpa mengabaikan perlindungan kesehatan masyarakat.