Kelompok Teater Samana menampilkan pertunjukan bertajuk Pada Sebuah Pekarangan #2: Gegabah pada Sabtu, 10 Januari 2026, di Tjap Sahabat, Bandung. Karya ini menghadirkan pengalaman teater post dramatik yang menyoroti kehidupan domestik sebagai ruang yang dipenuhi repetisi, keterputusan relasi, serta tekanan sosial yang berlangsung terus-menerus.
Berbeda dari teater dramatik yang bertumpu pada cerita dan dialog, pertunjukan ini menggunakan pendekatan post dramatik yang tidak membangun alur sebab-akibat secara linear. Struktur pementasan disusun melalui tumpukan peristiwa, citraan, dan tindakan tubuh yang berdiri sejajar tanpa hierarki naratif. Penonton tidak diarahkan untuk mengikuti cerita, melainkan diajak mengalami situasi yang dihadirkan di atas panggung.
Sejak awal, penonton tidak ditempatkan sebagai pengamat pasif. Mereka diminta memotret lima aktor di atas panggung menggunakan blitz kamera. Kilatan cahaya kemudian menjadi bagian dari dramaturgi visual yang menciptakan tekanan dan gangguan ritme, sekaligus menegaskan keterlibatan penonton dalam mekanisme pertunjukan.
Ruang panggung diisi elemen-elemen keseharian, mulai dari tiga pintu kamar mandi, bak air dengan aliran yang dibiarkan membasahi lantai, meja makan dengan dua kursi, kompor menyala, hingga sepeda motor bebek yang dihidupkan dan dijalankan mengelilingi ruang pertunjukan. Dalam konteks post dramatik, benda-benda tersebut tidak ditempatkan sebagai properti pendukung cerita, melainkan elemen dramaturgis yang membangun suasana, ritme, dan tekanan emosional.
Musik Sunda mengiringi rangkaian peristiwa bukan sebagai ilustrasi perasaan, melainkan sebagai kontras yang mempertegas ketegangan domestik. Sepasang suami istri menjadi pusat peristiwa, namun tanpa dialog psikologis konvensional. Sang istri tampak mengunyah permen, sementara suami meniup balon hingga membesar dan meletus.
Aktivitas rumah tangga seperti memasak, menyapu, menyetrika, hingga berganti pakaian ditampilkan secara bergantian dengan tempo terukur dan berulang, menyerupai kerja mekanis. Melalui rangkaian tindakan dan citraan tersebut, pertunjukan ini menghadirkan gambaran rumah tangga yang bergerak dalam pola repetitif, sekaligus menyingkap retaknya ruang keluarga yang terus tertekan oleh situasi yang tak putus.

