Di tengah derasnya rilis film superhero, sejumlah judul justru luput dari perhatian penonton luas. Salah satunya adalah Thunderbolts*, film yang dibintangi Florence Pugh. Meski performanya di box office disebut tidak memukau, film ini belakangan dinilai sebagai salah satu film aksi paling layak tonton yang kurang mendapat apresiasi pada dekade 2020-an.
Thunderbolts* dirilis pada 2 Mei 2025 dengan durasi 127 menit. Film ini disutradarai Jake Schreier dan ditulis oleh Eric Pearson serta Joanna Calo, dengan Kevin Feige sebagai produser. Florence Pugh memerankan Yelena Belova, sementara Sebastian Stan kembali sebagai Bucky Barnes. Narasinya kerap disebut sebagai versi Marvel dari Suicide Squad, menempatkan para antihero dalam satu tim untuk menjalankan misi berisiko.
Salah satu sorotan utama film ini berada pada Yelena Belova. Yelena mendapat porsi cerita lebih besar sebagai pemimpin tim, sekaligus membawa beban emosional yang kuat. Film ini digambarkan mengejutkan karena nadanya yang gelap, terutama saat mengeksplorasi duka Yelena atas kematian Natasha Romanoff, kakaknya, enam tahun sebelumnya. Di tengah operasi rahasia yang kian berbahaya di bawah arahan Valentina Allegra de Fontaine, Yelena masih digambarkan berjuang menghadapi kehilangan tersebut.
Dalam perjalanannya, Yelena terhubung dengan US Agent, Ghost, dan Bucky. Hubungan itu berkembang menjadi semacam keluarga baru di dunia pasca-Avengers. Dengan menekankan trauma dan masalah pribadi tiap anggota tim, film ini tidak hanya mengandalkan aksi, tetapi juga menjadikan taruhan emosional terasa lebih tinggi.
Film ini juga memperkenalkan Bob, alias Sentry, karakter baru yang digambarkan bergulat dengan kepribadian ganda. Alter egonya, The Void, diposisikan sebagai metafora kegelapan depresi yang mengancam menguasai dirinya. Alih-alih menutup cerita dengan pertarungan bos yang klise, film ini memilih pendekatan lebih emosional: tim bersatu membantu Bob keluar dari kondisi tersebut. Mereka digambarkan memasuki pikiran Bob, menghadapi kenangan terburuknya, dan berupaya membantunya menemukan jalan keluar dari trauma.
Di sisi lain, film ini tetap menuai kritik. Ada penilaian bahwa Thunderbolts* terasa terlalu aman dibandingkan inspirasi komiknya, meski pendekatan itu juga dianggap memberi kedalaman emosional yang jarang muncul dalam film aksi superhero.
Kontras antara respons kritikus dan capaian komersial turut menjadi bahan pembicaraan. Film ini tercatat mendapat label “Certified Fresh” dengan skor 88% di Rotten Tomatoes, sementara performa box office-nya disebut lesu. Sejumlah penggemar juga menyayangkan absennya Baron Zemo, sosok pemimpin Thunderbolts yang dikenal di komik. Selain itu, tanda bintang (*) pada judul film terungkap bukan merujuk pada tim Zemo, melainkan tim olahraga masa kecil Yelena.
Thunderbolts* juga memicu perdebatan terkait arah masa depan Avengers. Tim ini dinilai berpotensi menjadi New Avengers, namun gagasan itu dianggap kontroversial mengingat kemunculan wacana Young Avengers yang telah lama digoda, serta rencana Sam Wilson untuk membentuk skuad Avengers versinya sendiri. Di tengah masa transisi Marvel, film ini dipandang menunjukkan peluang ketika karakter yang selama ini kurang disorot diberi ruang lebih besar, meski pilihan kreatifnya tetap memantik pro dan kontra.

