BERITA TERKINI
Tren Wellness 2026: Dari Koneksi Sosial hingga Teknologi Preventif

Tren Wellness 2026: Dari Koneksi Sosial hingga Teknologi Preventif

Industri wellness global terus bergerak cepat, ditopang inovasi mulai dari pelacak HRV, bioteknologi generasi terbaru, stimulator saraf vagus, hingga perangkat wearable bertenaga AI. Sektor yang kini bernilai sekitar US$1,5 triliun secara global ini diperkirakan masih akan tumbuh hingga 10 persen pada 2030. Namun, di tengah laju inovasi tersebut, arah wellness juga menghadapi paradoks: terbelah antara kebutuhan istirahat dan pemulihan, fokus pada umur panjang, serta kecenderungan menjadikannya arena kompetitif yang memicu produktivitas berlebihan.

Memasuki 2026, para profesional melihat tren wellness bergerak kembali ke makna dasarnya—lebih membumi dan lebih jelas dalam mendefinisikan hidup sehat. The Future Laboratory menilai perubahan ini terkait fenomena wellness overwhelm, yang antara lain tercermin dalam riset Lululemon: 61 persen orang merasakan tekanan sosial untuk hidup “sehat”, sementara 45 persen mengalami apa yang disebut sebagai wellness burnout.

“Etos baru mulai terbentuk yang memadukan disiplin dengan kenikmatan serta performa dengan kesenangan, dan menolak wellness sebagai dogma dengan memosisikannya sebagai penunjang kualitas hidup,” kata Rose Coffey, analis foresight senior di The Future Laboratory.

Berikut sejumlah tren yang diperkirakan membentuk lanskap wellness sepanjang 2026.

1. Koneksi sebagai “obat”
Rose Coffey menyebut tema kunci 2026 adalah koneksi—antara manusia, sistem, dan indera. Di tengah kelelahan digital serta lingkungan yang semakin didominasi AI dan minim sentuhan manusia, pencarian makna lewat komunitas dan relasi diperkirakan menguat.

Dokter longevity Mark Hyman menekankan bahwa koneksi, tujuan, dan kebahagiaan berperan penting bagi kesehatan biologis. Ia menyebut orang dengan ikatan sosial kuat dan makna hidup yang jelas terbukti hidup lebih lama. Tren ini diperkirakan tampak melalui sauna komunal, retret wellness berbasis komunitas, dan klub wellness yang menonjolkan aspek sosial.

Reka Seres-Erdei, direktur operasional spa di The Bothy, Heckfield Place, juga melihat pergeseran dari sekadar mencari perawatan menuju pencarian transformasi—bukan hanya untuk tubuh, tetapi untuk terhubung kembali dengan diri sendiri, alam, dan sesama. Sauna, menurutnya, kembali berfungsi sebagai ruang berkumpul yang tetap reflektif, menekankan ritual, kehadiran, dan keheningan bersama.

2. Serat prebiotik
Serat disebut menjadi salah satu tren besar pada 2025 dan diperkirakan berlanjut pada 2026 dengan fokus lebih spesifik. Ahli nutrisi sekaligus pendiri Artah, Rhian Stephenson, menyoroti serat prebiotik yang menghubungkan kesehatan usus dengan energi, suasana hati, dan metabolisme.

Menurutnya, fokus bergeser dari sekadar menambah jumlah serat menjadi memilih jenis serat yang tepat—beragam dan lebih mudah ditoleransi—untuk memberi nutrisi pada mikrobioma. Pendekatan ini juga dinilai membantu orang dengan masalah pencernaan agar lebih toleran terhadap serat. Serat prebiotik dapat ditemukan pada legum, kacang-kacangan, buah, dan biji-bijian tertentu, serta tersedia dalam bentuk suplemen harian rendah FODMAP.

3. Wellness yang mengikuti ritme tubuh
Setelah satu dekade didominasi perfeksionisme dan optimasi diri, 2026 diperkirakan mengarah pada penyesuaian dengan ritme alami tubuh, termasuk ritme sirkadian 24 jam yang memengaruhi tidur hingga pelepasan hormon. Rose Coffey menyebut pendekatan ini menerima bahwa energi dan kondisi tubuh naik-turun, sehingga wellness dipahami sebagai sesuatu yang dinamis dan responsif.

Sejumlah perangkat juga mendukung kecenderungan ini, misalnya pengguna Oura Ring yang dapat menyesuaikan siklus tidur agar selaras dengan ritme sirkadian. Ada pula kacamata wearable dengan teknologi terapi cahaya yang memancarkan cahaya biru untuk membantu mengatur ulang jam biologis. Selain itu, chrononutrition—pola makan yang diselaraskan dengan jam biologis tubuh—diperkirakan menjadi topik utama karena manfaatnya bagi penyerapan nutrisi dan kesehatan metabolisme.

4. Patch wearable
Jika sebelumnya kerap dianggap gimmick dan simbol media sosial, patch wearable diperkirakan memasuki fase baru pada 2026 dengan penekanan pada sains dan efektivitas. Pasar global wearable patch bernilai 7,4 miliar euro pada 2024 dan diproyeksikan mencapai 11,7 miliar euro, menurut Grand View Research.

Contoh yang disebut dalam tren ini adalah 001 Skincare di bawah arahan facialist Ada Ooi. Produk acu-patches-nya dapat ditempelkan pada titik akupresur di wajah atau punggung bawah untuk membantu menenangkan sistem saraf dan menargetkan gejala PMS, stres, serta kelelahan selama siklus.

5. Terapi kontras
Terapi kontras—praktik bergantian antara suhu dingin dan panas—bukan hal baru, tetapi diprediksi semakin populer pada 2026. Pelatih mind and body di Third Space, Clare Walters, menjelaskan bahwa perpindahan panas-dingin membantu melatih transisi cepat antara sistem saraf simpatik dan parasimpatik.

Walters menekankan bahwa ketahanan terhadap stres berkaitan erat dengan regulasi sistem saraf. Bila sistem saraf terus menilai lingkungan sebagai ancaman, respons fight or flight dapat terus terpicu dan memicu kondisi sympathetic dominance, yakni keadaan siaga tinggi yang berkepanjangan. Ia menilai terapi kontras dapat membantu menurunkan respons tersebut, dan semakin sering dilatih akan terasa lebih alami. Praktik ini disebut mulai lebih banyak diterapkan di klub kesehatan dan tempat kebugaran.

6. Kembalinya cardio
Stephenson menilai peralihan ke latihan kekuatan merupakan langkah baik, tetapi ia melihat banyak perempuan justru menjauh dari cardio seiring tren tersebut. Menurutnya, aktivitas seperti jalan cepat atau hiking, bersepeda, dan berenang penting untuk meningkatkan detak jantung sekaligus mendukung kesehatan menyeluruh.

Ia menyoroti VO₂ max—jumlah maksimum oksigen yang dapat digunakan tubuh saat berolahraga intens—sebagai ukuran efisiensi sistem kardiovaskular, paru-paru, dan otot dalam memanfaatkan oksigen untuk energi. Ia juga menyebut riset yang menunjukkan VO₂ max rendah merupakan prediktor penyakit yang lebih kuat dibanding obesitas, merokok, hipertensi, atau diabetes, sehingga menjadi penanda biologis penting yang masih dapat dimodifikasi untuk umur panjang.

Walters menambahkan kunci lain adalah memberi jeda dan fokus pada pemulihan. Ia melihat semakin banyak orang mulai memikirkan cara berlatih lebih cerdas, bukan lebih keras, serta memulihkan diri bukan hanya dari latihan, tetapi juga dari tantangan kehidupan sehari-hari.

7. Teknologi kesehatan preventif
Teknologi kesehatan preventif diperkirakan terus tumbuh setelah menunjukkan perkembangan pesat pada 2025. Contohnya termasuk health scan Neko yang memakai teknologi AI, serta Prenuvo—MRI full-body yang disebut mampu mendeteksi tanda awal kondisi kesehatan seperti kanker stadium dini, aneurisma, hingga gangguan metabolik.

Rose Coffey memperkirakan inovasi dan riset terbaru akan memperluas kategori ini pada tahun mendatang. Pergeseran tersebut mencerminkan cara pandang yang lebih preventif, yakni keinginan menjaga kesehatan secara konsisten dan terasa mudah, tanpa beban pemantauan yang terus-menerus.

8. Anti-inflamasi dengan pendekatan lebih luas
Diet anti-inflamasi yang populer di akhir 2000-an dulu kerap memandang makanan secara hitam-putih—sebagai pemicu atau penangkal inflamasi. Namun, Stephenson menilai pemahaman kini berkembang. Pada 2026, fokus diperkirakan bergeser ke upaya menenangkan inflamasi tingkat rendah melalui kombinasi pola makan, gerak tubuh, tidur, suplemen, dan pengelolaan stres.

Ia menyebut diet anti-inflamasi sebaiknya mencakup lemak Omega-3, vitamin D, dan magnesium untuk menjaga keseimbangan tubuh. Ia juga merujuk studi yang menunjukkan pola makan anti-inflamasi dapat membantu memperbaiki nyeri, kualitas hidup, serta indikator seperti C-reactive protein pada individu dengan kondisi kronis. Selain itu, faktor gaya hidup seperti olahraga dan kualitas tidur turut berperan penting dalam menjaga keseimbangan inflamasi.

Sejumlah tren di atas memperlihatkan bahwa wellness pada 2026 diproyeksikan tidak semata mengejar performa, melainkan berupaya kembali pada fungsi utamanya: mendukung kualitas hidup lewat pendekatan yang lebih manusiawi, terukur, dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari.