Memasuki 2026, definisi “keren” di kalangan masyarakat urban—terutama Gen Z dan Milenial—mulai bergeser. Jika dulu akhir pekan kerap identik dengan pesta alkohol, kurang tidur, dan makanan cepat saji, kini semakin banyak orang justru menonjolkan pace lari, sesi terapi, hingga kebiasaan mengaktifkan mode “Do Not Disturb”.
Pergeseran ini muncul setelah satu dekade kuatnya hustle culture dan standar media sosial yang dinilai melelahkan. Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan kerja yang kian berat, banyak orang mencapai titik jenuh dan mulai menempatkan tubuh serta pikiran yang sehat sebagai aset utama.
Wellness dalam konteks ini dipahami berbeda dari sekadar sehat. Sehat merujuk pada kondisi fisik yang bebas penyakit, sementara wellness dipandang sebagai proses aktif dan sadar untuk menjaga keseimbangan menyeluruh—mencakup fisik, mental, dan emosional.
Tren wellness menguat seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap krisis kesehatan pada usia muda. Dalam lima tahun terakhir, disebutkan adanya lonjakan kasus gagal ginjal, diabetes, dan stroke pada kelompok usia 20-an dan 30-an. Pada saat yang sama, tingkat burnout kerja yang ekstrem membuat banyak orang menilai pola hidup lama sebagai risiko jangka panjang.
Di 2026, wellness tidak lagi diposisikan sebagai gaya hidup untuk pencitraan, melainkan sebagai cara bertahan agar tetap mampu berfungsi di situasi yang semakin menekan. Sejumlah kebiasaan pun diperkirakan menguat sebagai tren.
Ke psikolog kian dianggap wajar
Salah satu perubahan mencolok adalah berkurangnya stigma terhadap kesehatan mental. Mengakses bantuan profesional—baik secara tatap muka maupun melalui aplikasi telekonsultasi—semakin dipandang sebagai langkah cerdas, bukan sesuatu yang memalukan. Pembicaraan soal proses healing atau terapi trauma juga mulai terdengar lebih lazim dalam percakapan sehari-hari.
Olahraga menjadi “hiburan” baru
Olahraga juga disebut semakin menempati posisi yang dulu diisi aktivitas hiburan malam. Tren sober curious atau gaya hidup tanpa alkohol menguat di perkotaan, seiring anggapan bahwa mabuk dianggap menguras waktu dan energi. Pengeluaran yang sebelumnya dialokasikan untuk minuman kini bergeser ke sepatu lari dan keanggotaan gym, sementara validasi sosial ikut berubah—aktivitas olahraga dan catatan latihan menjadi hal yang lebih sering dibagikan.
Makin teliti soal makanan dan label kemasan
Kekhawatiran terhadap penyakit metabolik di usia muda turut membentuk kebiasaan baru dalam memilih makanan. Membaca label komposisi pada kemasan disebut menjadi rutinitas sebelum membeli camilan, dengan kecenderungan menolak gula berlebih dan bahan tambahan tertentu. Pilihan makan pun kembali diarahkan pada “makanan beneran” seperti sayur, buah, dan protein utuh, bukan semata untuk diet, melainkan sebagai langkah pencegahan.
Jeda digital jadi simbol kemewahan
Di tengah dunia yang semakin bising secara digital, kemampuan untuk tidak selalu terhubung mulai dipandang sebagai kemewahan. Tren JOMO (Joy of Missing Out) disebut menguat, menggeser FOMO. Mematikan notifikasi, mengaktifkan mode Do Not Disturb dalam waktu lama, atau berlibur tanpa sinyal internet menjadi bentuk perawatan diri yang semakin dicari, seiring kesadaran bahwa tuntutan respons cepat dapat membebani pikiran.
Secara keseluruhan, tren wellness 2026 menandai pergeseran prioritas: kesehatan fisik, ketenangan mental, dan privasi menjadi nilai yang semakin penting. Di era ini, kekhawatiran terhadap kolesterol tinggi, depresi, hingga notifikasi yang tak berhenti disebut lebih nyata dibanding rasa takut dianggap “tidak asyik”.

