Tsania Putri Hanifa atau Hani membagikan kisah perjalanan dan proses yang ia jalani dalam Program SPADA (Selamat Pagi Teman Pro 2) Mataram, kolaborasi Pro 2 FM RRI Mataram dan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam sesi siaran itu, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga tersebut menekankan bahwa pencapaian tidak selalu lahir dari jalan yang mulus, melainkan dari keberanian mencoba, menghadapi kegagalan, lalu bangkit kembali.
Hani mengisahkan, keputusan mengikuti lomba kerap berangkat dari alasan sederhana. Salah satunya ketika ia mendaftar kompetisi karena babak final diselenggarakan di Lombok. “Awalnya mikir, yaudahlah coba aja dulu, siapa tau bisa sekalian pulang ke Lombok,” ujarnya.
Di tahap penyisihan, ia sempat berada di peringkat keenam dan mengira langkahnya terhenti. Namun situasi berubah ketika salah satu peserta dari lima besar mengundurkan diri, sehingga posisinya naik ke peringkat kelima. Dari pengalaman itu, Hani menangkap pelajaran bahwa sesuatu yang terlihat seperti kegagalan belum tentu menjadi akhir. “Di situ aku sadar, ternyata belum tentu sesuatu yang kita kira gagal itu bener-bener akhir dari segalanya. Kadang kita ngerasa udah kasih usaha terbaik, tapi ternyata itu belum yang terbaik menurut Allah,” tuturnya.
Menurut Hani, kegagalan bukan tanda untuk berhenti, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan. Ia mengibaratkan kegagalan seperti tabungan: setiap usaha yang belum membuahkan hasil tetap menjadi bekal untuk langkah berikutnya. “Aku selalu nganggep gagal itu kayak nabung. Mungkin belum kelihatan hasilnya sekarang, tapi suatu hari pasti kepake,” katanya.
Dalam perjalanannya, Hani juga menyinggung peran keluarga dan orang-orang terdekat sebagai sistem pendukung saat ia mengikuti lomba maupun menghadapi tekanan akademik. Dukungan tersebut, menurutnya, membuat ia lebih kuat untuk terus mencoba meski harus jatuh berulang kali.
Ia turut berbagi cara mengatur waktu antara kuliah, lomba, dan aktivitas lain. Bagi Hani, manajemen waktu bukan soal mengisi hari dengan kesibukan, melainkan mengenali prioritas serta mengetahui kapan harus fokus dan kapan memberi ruang untuk diri sendiri.
Menutup sesi siaran, Hani merefleksikan apa yang ia sebut sebagai privilege karena memiliki akses pendidikan dan ruang untuk berkembang. Ia menyadari tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. “Ke depan, aku pengen lebih maksimal memanfaatkan privilege yang aku punya selama kuliah, karena aku sadar ga semua orang punya kesempatan yang sama. Jadi rasanya sayang kalau kesempatan ini ga dimanfaatin sebaik-baiknya,” ujarnya.
Dalam catatan prestasinya, Hani menyebut capaian pada 2025 sebagai bentuk penghargaan untuk dirinya, sekaligus tantangan pertama yang berhasil ia taklukkan sebagai mahasiswa baru. Semasa SMA, ia juga menorehkan sejumlah prestasi, antara lain juara 2 lomba pidato bahasa Inggris tingkat nasional yang diselenggarakan FEB Universitas Mataram pada 2024, juara 1 lomba aransemen lagu Nusantara (tim) yang diselenggarakan RRI Mataram pada 2023, juara 1 paduan suara SMANSA pada Lombok Choir Festival saat kelas XI dan XII pada 2023 dan 2024, serta runner up lomba paduan suara MIPA Expo Universitas Islam Bandung.
Melalui Program SPADA, kisah Hani menjadi pengingat bahwa perjalanan anak muda tidak selalu lurus. Ada ragu, ada jatuh, dan ada gagal, namun dari situ proses bertumbuh terjadi—bukan semata tentang seberapa cepat sampai, melainkan seberapa sadar seseorang belajar di setiap langkahnya.
Di akhir sesi, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Dispora Provinsi NTB dan Pro 2 FM RRI Mataram atas dukungan yang menghadirkan ruang berbagi dan interaksi bagi pemuda.

