Generasi Z kerap disebut lebih sadar kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya. Mereka dinilai lebih terbuka membicarakan kerentanan diri, termasuk saat menghadapi tekanan psikologis, serta lebih aktif mencari cara untuk menjaga ketenangan mental.
Gen Z adalah mereka yang lahir pada 1997 hingga 2012. Sebagai generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya bersama internet dan gawai, mereka kerap dijuluki digital native. Kedekatan dengan teknologi membuat mereka terbiasa berinteraksi secara global melalui media sosial, sekaligus terpapar berbagai isu dan informasi yang bergerak cepat.
Sejumlah tantangan yang kerap dihadapi Gen Z antara lain kecemasan, penggunaan gawai, perubahan iklim, dan kesadaran politik. Keterhubungan dengan kondisi global juga membuat mereka lebih rentan terhadap isu-isu yang memunculkan kekhawatiran tentang masa depan. Dalam konteks ini, terdapat tujuh faktor yang disebut berkontribusi pada kerentanan Gen Z saat ini.
Pertama, tekanan media sosial. Banyak waktu yang dihabiskan Gen Z di ruang digital membuat mereka lebih dekat dengan berbagai risiko, seperti perundungan siber, standar kesempurnaan di media sosial, gangguan tidur, hingga banjir konten yang memicu rasa takut tertinggal informasi.
Kedua, ketidakpastian masa depan. Kekhawatiran terkait perubahan iklim, dinamika politik, dan ketidakstabilan ekonomi dapat memicu kecemasan dan stres.
Ketiga, kerentanan dan masalah psikologi. Akses luas terhadap beragam konten membuat Gen Z lebih sering menemukan informasi tentang peningkatan perilaku menyakiti diri sendiri, standar citra tubuh, hingga depresi. Kerentanan ini juga tersebar melalui media sosial, dan sebagian orang merasa terhubung dengan pengalaman serupa. Di sisi lain, hal ini turut mendorong tumbuhnya kampanye kesadaran kesehatan mental di media sosial.
Keempat, minim resiliensi. Ketahanan yang dinilai rendah dalam menghadapi masalah dapat membuat sebagian Gen Z lebih rentan mengalami gangguan mental ketika berhadapan dengan kesulitan, termasuk kecenderungan merespons masalah dengan perilaku yang kurang tepat.
Kelima, pandangan pesimis. Gen Z disebut cenderung memandang dunia sebagai tempat yang lebih berbahaya dan penuh ketidakpastian dibanding generasi sebelumnya. Persepsi ini dapat berkontribusi pada meningkatnya stres dan kecemasan.
Keenam, tekanan akademik. Tuntutan pendidikan yang tinggi serta persaingan ketat untuk meraih kesuksesan juga menjadi sumber stres bagi Gen Z.
Ketujuh, terisolasi. Meski terhubung secara digital, Gen Z tetap berisiko mengalami isolasi sosial akibat kurangnya interaksi tatap muka yang berkualitas. Kondisi ini dapat memicu kesepian dan depresi.
Dengan memahami berbagai faktor tersebut, Gen Z dinilai berupaya menormalisasi percakapan tentang kesehatan mental sebagai bagian dari cara menangani masalah dan melanjutkan hidup. Mereka berusaha tidak terhambat oleh persoalan kesehatan mental, melainkan mencari keseimbangan agar tetap dapat menjalani hal-hal yang ingin dicapai dalam hidup.

