BERITA TERKINI
Wacana Penghapusan Soal Pilihan Ganda Kembali Mengemuka, Dipicu Pernyataan Maudy Ayunda

Wacana Penghapusan Soal Pilihan Ganda Kembali Mengemuka, Dipicu Pernyataan Maudy Ayunda

Wacana perubahan bentuk penilaian di sekolah kembali ramai dibicarakan. Setelah sebelumnya publik menyoroti perdebatan soal skripsi dan non-skripsi, kini perhatian bergeser pada perbandingan antara soal pilihan ganda (multiple choice) dan soal uraian (esai) dalam ujian.

Perbincangan tersebut menguat dalam sepekan terakhir setelah pernyataan Maudy Ayunda dalam sebuah sesi wawancara. Dalam kesempatan itu, Maudy menjawab pertanyaan mengenai gagasannya jika ia berada pada posisi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Salah satu poin yang disampaikan Maudy adalah pentingnya mengubah sistem penilaian terhadap hasil belajar. Ia menilai bentuk ujian yang diterapkan dapat memberi dampak besar pada cara belajar-mengajar di sekolah, baik bagi guru maupun murid. Menurutnya, dampak tersebut juga dapat merembet ke pola pendampingan orang tua terhadap anak.

Maudy menyampaikan pandangannya bahwa peserta didik sebaiknya didorong untuk memiliki pemikiran kritis, bukan sekadar menjadi penghafal. Dalam konteks itu, ia mengemukakan gagasan untuk menghapus soal pilihan ganda dan lebih memilih penggunaan soal esai.

Pernyataan tersebut memunculkan pro dan kontra. Respons datang dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat, guru, hingga sejumlah pesohor dan politikus yang turut menyampaikan pendapat.

Di tengah perdebatan tersebut, muncul pula pandangan bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih terus berproses mencari formula yang paling tepat. Sejalan dengan itu, terdapat keyakinan bahwa proses belajar merupakan perjalanan panjang, sebagaimana dikutip dalam tulisan ini: “Pencapaian dalam belajar tidak akan putus sebelum akhir hayat” (Tunjung EW).