BERITA TERKINI
Wall Street Tergelincir Usai PPI Melonjak, Kekhawatiran Inflasi dan Sentimen AI Membebani Pasar

Wall Street Tergelincir Usai PPI Melonjak, Kekhawatiran Inflasi dan Sentimen AI Membebani Pasar

Saham-saham Amerika Serikat melemah pada perdagangan Jumat setelah data terbaru indeks harga produsen (producer price index/PPI) tercatat jauh di atas perkiraan. Angka tersebut menambah kekhawatiran bahwa inflasi masih “lengket”, sekaligus memperpanjang gejolak pasar yang sudah terjadi sepanjang bulan ini.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 521,28 poin atau 1,05% dan ditutup di 48.977,92. Sementara itu, S&P 500 terkoreksi 0,43% ke 6.878,88 dan Nasdaq Composite merosot 0,92% menjadi 22.668,21.

Secara bulanan, S&P 500 dan Nasdaq menutup Februari di zona merah di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak kecerdasan buatan (AI) pada sektor-sektor tertentu dan perekonomian secara keseluruhan. Kekhawatiran itu turut membesar setelah perusahaan fintech milik Jack Dorsey, Block, mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 4.000 karyawan, hampir setengah dari total tenaga kerjanya.

Pelemahan juga terlihat pada saham sektor keuangan dan sektor lain yang sensitif terhadap siklus ekonomi. Saham yang terkait dengan private credit kembali tertekan seiring investor mengantisipasi potensi dampak dari kolapsnya penyedia hipotek Inggris, Market Financial Solutions. Saham Apollo dan Jefferies termasuk yang tertinggal, masing-masing anjlok lebih dari 8% dan 9%.

Saham Blue Owl, yang sebelumnya terpukul akibat pembatasan likuiditas dan penjualan asetnya, turun sekitar 6%.

Sejumlah emiten perangkat lunak turut mencatatkan kerugian pada Jumat, melanjutkan tekanan sepanjang bulan. Salesforce merosot lebih dari 2%, begitu pula Microsoft yang ikut menekan Dow.

Di sektor teknologi, perusahaan keamanan siber Zscaler jatuh 12% setelah pendapatan ditangguhkan (deferred revenue) dan penagihan kuartal fiskal kedua meleset dari ekspektasi. CoreWeave merosot 18% akibat proyeksi yang mengecewakan.

Nvidia memperpanjang pelemahan pasca laporan keuangan dengan penurunan 4% pada Jumat, setelah sahamnya sebelumnya turun lebih dari 5% pada Kamis. Pelaku pasar mengaitkan penurunan saham dengan keraguan terhadap kesepakatan Nvidia dengan OpenAI, sentimen yang melemah terhadap tema AI, serta skeptisisme apakah belanja modal AI yang besar dari perusahaan hyperscaler dapat dipertahankan.

Dari sisi data ekonomi, PPI Januari 2026—yang mengukur inflasi di tingkat grosir—menunjukkan kenaikan 0,5% dalam sebulan. Ekonom yang disurvei Dow Jones sebelumnya memperkirakan kenaikan 0,3%. Yang lebih mengkhawatirkan, PPI inti (tidak termasuk harga pangan dan energi) melonjak 0,8%, jauh di atas perkiraan kenaikan 0,3%.

Chief investment officer Integrated Partners, Stephen Kolano, menilai laporan PPI tersebut menjadi komplikasi tambahan bagi investor di tengah kekhawatiran yang sudah ada, mulai dari belanja modal AI, potensi disrupsi industri, hingga tekanan di pasar private credit. Ia juga mencatat inflasi tampaknya lebih didorong oleh sektor jasa, yang dapat menjadi sinyal bahwa perusahaan mulai meneruskan biaya tarif kepada konsumen akhir untuk menjaga margin keuntungan.

Selain inflasi, kondisi pasar tenaga kerja ikut menjadi perhatian. Meski pertumbuhan lapangan kerja bulan lalu disebut jauh lebih baik dari perkiraan, Kolano menyatakan belum yakin pasar tenaga kerja benar-benar stabil karena tren PHK mulai meningkat. Challenger, Gray & Christmas melaporkan awal bulan ini bahwa PHK Januari mencapai level tertinggi untuk bulan tersebut sejak krisis keuangan global.

Sepanjang Februari, Nasdaq turun lebih dari 3% dan mencatat kinerja bulanan terburuk sejak Maret tahun lalu. ETF iShares Expanded Tech-Software (IGV) turun hampir 10% bulan ini, sehingga kerugian sejak awal tahun mendekati 23%. Sementara itu, S&P 500 melemah hampir 1% sepanjang Februari, sedangkan Dow justru naik sekitar 0,2%.