BERITA TERKINI
Wayang Orang “Basukarna” Tampil di GKJ, Menandai Kembalinya Pementasan Satya Budaya Indonesia

Wayang Orang “Basukarna” Tampil di GKJ, Menandai Kembalinya Pementasan Satya Budaya Indonesia

Panggung yang semula gulita mendadak terang di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Sabtu, 17 Januari 2026. Dua sosok berdiri saling membelakangi, dibelit selendang berwarna berlawanan—merah dan hijau—mengawali lakon Basukarna. Adegan pembuka itu menegaskan arah pertunjukan: pertemuan antara tradisi wayang orang pakem dan sentuhan kontemporer yang mengajak penonton berefleksi.

Pementasan wayang orang Basukarna digarap Satya Budaya Indonesia, kelompok tari lintas profesi yang anggotanya tidak berkarier sebagai penampil profesional. Sejumlah pemeran bahkan baru mempelajari tari Jawa khusus untuk pementasan ini. Format semacam itu, meski kini jarang terdengar, disebut pernah populer di Jakarta pada masa pra-pandemi: figur-figur dari berbagai institusi turun ke panggung selama satu malam untuk menghidupkan tradisi.

Satya Budaya Indonesia dibentuk pada 1 Maret 2006 oleh Endang Purnomo dan telah menggelar 23 pagelaran. Tradisi pementasan yang setidaknya berlangsung setahun sekali itu sempat terhenti selama pandemi COVID-19. Pementasan ke-24, yang diresmikan Retno Setiawati selaku Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, menjadi pentas pertama Yayasan Satya Budaya setelah jeda beberapa waktu dan dipahami sebagai penanda kembalinya tradisi tersebut.

Ketua Umum Satya Budaya Indonesia yang baru diangkat, DR. (HC) Noni Sri Ayati Purnomo, B.Eng, M.B.A., L.H.D (HC), menekankan karakter kelompok yang lintas profesi. “Satya Budaya Indonesia ini, kan, perkumpulan lintas profesi; bukan melulu penari Jawa. Seperti saya, saya bukan penari Jawa,” ujarnya. Ia menyebut tema yang diangkat disesuaikan dengan topik yang bergaung di masyarakat, sekaligus sebagai upaya menjaga kelestarian budaya Jawa pakem dan mengajak generasi muda ikut belajar.

Dari sisi cerita, Basukarna merupakan banjaran—memoar pendek mengenai riwayat tokoh pewayangan—yang berfokus pada Adipati Karna, pahlawan tragis dalam epos Bharatayuddha. Kisah dimulai saat Dewi Kunthi (Exacty Sukamdani) gelisah karena mengandung dalam kerahasiaan. Ketika bertapa di Taman Mandura, Batara Surya (Dewan) datang dan membantu proses kelahiran melalui lubang telinga, yang dalam Bahasa Jawi Kawi disebut karna. Dari situlah Basukarna (Miki Setio Utomo) lahir, lalu dilarung Kunthi ke samudra demi menjaga kehormatan.

Waktu berlalu hingga konflik Pandawa dan Kurawa memuncak. Dalam sebuah laga yang dipimpin Resi Durna (Aris Mukadi), Arjuna (Aryo Saloko) tampil tak tertandingi. Basukarna maju sebagai penantang. Ia telah diadopsi Adirata, kusir dari klan Kurawa, dan tumbuh menjadi ksatria yang setara dengan Arjuna. Ketika perpecahan menjadi perang, Prabu Kresna (MARSMA TNI (PUR) H. Mulyono, DS) mengingatkan Basukarna bahwa ia sedarah dengan Pandawa. Namun Basukarna memilih tetap berada di pihak yang membesarkannya. Ramalan menyebut duel Arjuna dan Karna akan berujung kematian salah satu pihak; Basukarna akhirnya tewas membela kehormatannya.

Pentas ini disutradarai Mudjo Setiyo, dengan dalang Undung Wiyono dan koreografi oleh Nanang Ruswandi. Pertunjukan dibuka dengan permainan gamelan oleh pengrawit Sekar Tejo Trah Pakualaman dari dinasti Pakualam, Yogyakarta. Sepanjang pementasan, iringan juga melibatkan kelompok karawitan dari Bluebird.

Secara dramaturgi, cerita disederhanakan dan dimutakhirkan mengikuti pola pementasan modern. Salah satu contohnya adalah adegan penerawangan ke masa depan pada bagian akhir, yang disebut menghadirkan pengaruh sinematik sekaligus memberi konteks bagi penonton yang belum akrab dengan Kakawin Bharatayuddha. Ringkasan perang Pandawa-Kurawa yang pada sumber aslinya berlarut-larut diringkas menjadi atraksi panggung, sekaligus mengantar penonton menuju klimaks.

Para pemeran juga mempertahankan dialog berbahasa Jawa. Pilihan ini menjadi langkah berani mengingat baik pemeran maupun penonton tidak semuanya penutur asli. Meski demikian, para pemain dinilai mampu membawakan bahasa Jawa dengan luwes, termasuk pada tataran krama inggil hingga mengarah pada Kawi Kuna. Unsur komedi bergaya sampakan—humor improvisasi khas ketoprak Mataraman—juga muncul dan memancing tawa penonton.

Karena wayang orang merupakan bentuk sendratari, koreografi menjadi elemen penting. Sejumlah pemain yang baru belajar tari Jawa tetap berupaya menghadirkan detail gestur, termasuk samparan para putri saat membuang ekor jarik yang lekat dengan wayang orang Mataraman. Koreografi solo yang dimainkan Raden Irawan (Noni Purnomo), Raden Abimanyu (Paramita Chandra Dewi), dan Raden Gatotkaca (Ayok Prasetyo) menonjolkan teatrikalitas, sementara koreografi kolosal—termasuk akrobat bala Kurawa dan para Cakil—mencuri perhatian.

Noni Purnomo menyebut proses latihan dilakukan dari awal. “Semua gerakan ini dilatih dari awal. Saya latihan privat lima kali, lalu latihan bersama empat kali,” katanya. Ia juga mengaku sempat gugup hingga merasa sakit perut.

Di tengah ragam gerak tradisional, aspek teknis modern turut menyertai. Animasi pada layar belakang membantu menghidupkan suasana dan memberi petunjuk latar bagi penonton awam, dari pesisir samudra hingga gurun Kuruksetra. Tata busana modern juga menambah nilai artistik melalui palet warna, permainan bahan seperti luaran organza dan motif ombre, serta ornamentasi payet dan prada yang memperkuat perwatakan.

Dalam pernyataannya, Noni menegaskan bahwa kekayaan budaya Indonesia tidak terbatas pada satu tradisi. “Indonesia ini memiliki budaya yang sangat kaya. Kami mewakili wayang orang Jawa pakem. Tetapi, pasti banyak budaya lain yang perlu kita lestarikan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa budaya memuat nilai-nilai yang dapat dipelajari, seperti integritas, ksatriyan, dan kesediaan berkorban untuk sesuatu yang lebih besar.

Pementasan Basukarna di GKJ menjadi penanda kembalinya tradisi pementasan Satya Budaya Indonesia setelah terhenti pada masa pandemi. Di saat yang sama, lakon ini menghadirkan cara lain menafsirkan cerita lama: sebagai medium untuk membaca ulang nilai dan pilihan moral tokoh-tokoh pewayangan dalam lanskap masa kini.